Smart Hospital Jadi Arah Baru Rumah Sakit Swasta di Indonesia
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 hari yang lalu
dr. Mulyadi Muchtiar, MARS
Transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia memasuki fase krusial, terutama bagi rumah sakit swasta yang mendominasi lanskap layanan kesehatan nasional. Pemanfaatan teknologi digital, mulai dari Artificial Intelligence (AI), pengelolaan data rekam medis elektronik, hingga penguatan keamanan siber, kini tidak lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk bertahan dan berkembang.
Hal tersebut mengemuka dalam Smart Hospital Leadership Summit 2026 yang digelar di Jakarta, 28 Januari 2026. Dalam forum strategis tersebut, dr. Mulyadi Muchtiar, MARS, perwakilan dari Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), menyampaikan pandangan komprehensif mengenai tantangan dan arah transformasi digital rumah sakit swasta di Indonesia.
Menurut Mulyadi, rumah sakit swasta memegang peran yang sangat besar dalam sistem kesehatan nasional. Dari Sabang hingga Merauke, sekitar 60 persen rumah sakit di Indonesia merupakan rumah sakit swasta. Dengan jumlah yang dominan tersebut, rumah sakit swasta mau tidak mau harus beradaptasi dengan kebijakan transformasi digital kesehatan yang ditetapkan pemerintah.
“Bagaimanapun ketika regulasi berjalan, kami harus menjalankannya. Saya mencoba merepresentasikan manajemen rumah sakit dalam konteks regulasi pemerintah yang perlu diterapkan di lapangan,” ujar Mulyadi.
Ia menegaskan bahwa regulasi, termasuk yang berkaitan dengan penerapan sistem berbasis AI di rumah sakit, akan membentuk pola pikir baru. Ketika regulasi sudah diberlakukan, maka pengelola rumah sakit tidak memiliki banyak pilihan selain menerapkannya secara konsisten dan bertanggung jawab.
Dalam paparannya, Mulyadi menjelaskan bahwa transformasi digital rumah sakit swasta perlu berangkat dari visi dan misi yang jelas. Visi yang diusung adalah menjadi rumah sakit swasta terdepan dalam inovasi digital yang berpusat pada pasien. Sementara itu, misinya adalah mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan kesehatan.
Namun, mewujudkan visi tersebut bukan perkara mudah. Saat ini, rumah sakit swasta masih menghadapi berbagai tantangan struktural dan kultural. Salah satu tantangan utama adalah fragmentasi data, baik data klinis, operasional, maupun administratif. Data yang tersebar di berbagai sistem membuat pengambilan keputusan strategis berbasis data menjadi lambat dan tidak optimal.
Selain itu, isu keamanan siber dan privasi data pasien juga menjadi perhatian serius. Di tengah meningkatnya digitalisasi, risiko kebocoran data kesehatan semakin besar. Tantangan lainnya adalah kesenjangan literasi digital di kalangan sumber daya manusia (SDM) kesehatan, yang membuat adopsi teknologi sering kali tidak berjalan maksimal.
“Kalau kita ingin mengimplementasikan AI secara utuh, kita harus benar-benar mempelajari AI. Interoperabilitas rumah sakit adalah keharusan jika kita ingin beradaptasi dengan kemajuan digital,” tegas Mulyadi.
Tren Smart Hospital 2026
Seiring berkembangnya teknologi, konsep Smart Hospital menjadi arah utama transformasi digital rumah sakit. Dalam diskusi yang berlangsung di forum tersebut, Mulyadi memaparkan sejumlah tren implementasi Smart Hospital yang diproyeksikan semakin matang pada 2026.
Tren tersebut mencakup integrasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang terpadu, penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME) berbasis cloud yang interoperable, serta pemanfaatan dashboard analitik real-time untuk memantau kinerja rumah sakit secara menyeluruh.
Tak hanya itu, pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan sensor pintar juga mulai diterapkan untuk mengoptimalkan operasional ruang perawatan. Sementara AI dan machine learning dimanfaatkan untuk membantu proses diagnosis, prediksi klinis, hingga pengambilan keputusan medis yang lebih akurat.
Dalam konteks investasi teknologi, Mulyadi menekankan pentingnya perubahan cara pandang manajemen dan pemilik rumah sakit terhadap peran teknologi informasi (TI). Menurutnya, TI bukan sekadar biaya tambahan, melainkan investasi strategis yang mampu meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan.
Pengalaman Pasien Jadi Fokus Utama
Penerapan Smart Hospital yang optimal pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pasien. Digitalisasi layanan memungkinkan proses check-in menjadi lebih cepat melalui digital check-in dan self-service kiosk, sehingga waktu tunggu pasien dapat dikurangi secara signifikan.
Konsep smart patient room juga mulai diterapkan, di mana kondisi pasien dapat dimonitor secara real-time dengan dukungan AI. Layanan telemedicine dan konsultasi virtual memungkinkan pasien mengakses layanan kesehatan selama 24 jam, tanpa harus selalu datang ke rumah sakit.
Selain itu, kehadiran aplikasi mobile rumah sakit memudahkan pasien dalam melakukan pemesanan janji temu, mengakses rekam medis, hingga berkomunikasi langsung dengan dokter. Sistem billing otomatis dan pembayaran yang transparan juga menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman pasien yang lebih baik.

Tata Kelola Data dan Keamanan Siber
Mulyadi juga menyoroti pentingnya pengelolaan data rekam medis elektronik sebagai fondasi transformasi digital. Sentralisasi data klinis melalui sistem RME berbasis cloud yang interoperable memungkinkan pertukaran data antar fasilitas kesehatan secara aman dan efisien.
Pengelolaan data tersebut harus didukung oleh data governance framework yang kuat, termasuk pengaturan hak akses, audit trail, enkripsi end-to-end, serta autentikasi berlapis. Dengan mekanisme ini, akurasi dan kelengkapan data dapat dijaga hingga 99 persen.
Di sisi keamanan siber, rumah sakit dituntut untuk menerapkan pendekatan yang lebih proaktif. Mulai dari AI-powered threat detection, kerangka zero-trust security, hingga penerapan Data Loss Prevention (DLP) untuk mencegah kebocoran data. Semua upaya ini harus selaras dengan regulasi, seperti Undang-Undang Perlindungan Data dan kebijakan Kementerian Kesehatan.
Roadmap Menuju 2028
Sebagai panduan implementasi, ARSSI juga merumuskan roadmap transformasi digital rumah sakit untuk periode 2026–2028. Tahap awal difokuskan pada peningkatan pengalaman pasien dan penguatan infrastruktur keamanan. Tahap berikutnya mencakup integrasi penuh RME dan penerapan keamanan berbasis AI, hingga pengembangan analitik lanjutan dan ekosistem digital yang berkelanjutan.
Transformasi digital ini diukur melalui indikator kinerja utama (KPI) yang jelas, mulai dari peningkatan kepuasan pasien, integritas data, hingga target nol kebocoran data.
Menutup paparannya, Mulyadi menegaskan bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan bagi rumah sakit swasta. “Implementasi IT adalah suatu keniscayaan, ketika kita tidak bergerak dan tidak berkolaborasi, maka kita akan tertinggal,” pungkasnya.
