Masa Depan Layanan Kesehatan Indonesia di Era AI dan Data
- Rita Puspita Sari
- •
- 2 hari yang lalu
Setiaji S.T., M.Si, Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI
Transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia memasuki babak baru. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), penguatan keamanan siber, serta pembangunan ekosistem data yang terintegrasi kini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan layanan kesehatan yang aman, efisien, dan berorientasi pada pasien. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan orkestrasi yang matang antara teknologi, kebijakan, dan sumber daya manusia.
Kebutuhan inilah yang menjadi sorotan utama dalam Smart Hospital Leadership Summit 2026, sebuah forum strategis yang mempertemukan pemangku kepentingan di sektor kesehatan. Dalam acara tersebut, Setiaji S.T., M.Si, Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI, menyampaikan keynote speech mengenai arah transformasi teknologi kesehatan nasional.
Empat Misi Transformasi Teknologi Kesehatan
Setiaji memaparkan bahwa kerangka kerja transformasi teknologi kesehatan nasional dibangun di atas empat misi utama. Pertama, membangun ekosistem digital kesehatan yang terhubung, aman, dan berkelanjutan. Kedua, digitalisasi layanan kesehatan yang inklusif dan berorientasi pada pengguna. Ketiga, pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Keempat, mendorong ekosistem inovasi dan kolaborasi digital kesehatan.
Keempat misi ini saling terkait dan menjadi fondasi bagi berbagai inisiatif digital kesehatan yang tengah dikembangkan pemerintah, salah satunya melalui platform SATUSEHAT.
SATUSEHAT, Tulang Punggung Pertukaran Data Kesehatan Nasional
SATUSEHAT berperan sebagai National Health Information Exchange (HIE) yang berfungsi layaknya clearing house data kesehatan nasional. Seluruh rumah sakit swasta, klinik, hingga puskesmas diwajibkan terhubung ke platform ini agar data kesehatan dapat terintegrasi secara nasional.
Menurut Setiaji, manfaat SATUSEHAT bagi rumah sakit sangat signifikan. Integrasi data memungkinkan peningkatan mutu klinis secara instan. Riwayat medis pasien dapat diakses dengan cepat ketika pasien berpindah fasilitas layanan, sehingga meningkatkan keselamatan pasien sekaligus menekan biaya yang tidak perlu.
Selain itu, integrasi data klinis melalui SATUSEHAT menjadi prasyarat masa depan untuk efisiensi klaim BPJS Kesehatan. Data yang telah terstandar dengan format FHIR (Fast Healthcare Interoperability Resources) akan mempercepat proses verifikasi klaim dan membantu menjaga arus kas (cash flow) rumah sakit.
Tak kalah penting, standar data yang baik juga membuka akses rumah sakit terhadap teknologi canggih. Penyedia solusi AI dan teknologi kesehatan hanya akan berinvestasi pada fasilitas layanan kesehatan yang memiliki data terstandar, karena hal tersebut menjamin model AI dapat berjalan konsisten di berbagai wilayah Indonesia.

SATUSEHAT untuk Masyarakat, Pemerintah, dan Fasyankes
Dalam implementasinya, SATUSEHAT melayani berbagai pemangku kepentingan. Bagi masyarakat, platform ini hadir melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile yang menyediakan personal health record, promosi kesehatan, hingga integrasi perangkat wearable. Bagi pemerintah, data SATUSEHAT menjadi basis kebijakan kesehatan berbasis bukti (evidence-based policy). Sementara bagi fasilitas layanan kesehatan, akses rekam medis elektronik dilakukan melalui portal resmi SATUSEHAT dengan kontrol ketat.
Menuju Implementasi Standard National Indonesia Smart Hospital
Kementerian Kesehatan juga tengah menyiapkan peluncuran inisiatif Standard National Indonesia Smart Hospital. Konsep Smart Hospital tidak dimaknai sekadar sebagai rumah sakit dengan teknologi mahal, melainkan institusi medis yang dibangun di atas sistem fisik, cyber-physical system, manajemen organisasi, serta sumber daya manusia yang kompeten.
Tujuan utama Smart Hospital antara lain mewujudkan layanan medis yang aman, bermutu tinggi, ramah, terjangkau, serta dapat dipantau dan dikendalikan secara digital. Smart Hospital juga dirancang sebagai acuan nasional dalam perencanaan, pembangunan, dan penilaian rumah sakit, sejalan dengan pedoman WHO dan standar internasional teknologi informasi.
“Smart Hospital bukan hanya soal robot bedah atau layar sentuh di setiap kamar pasien, tetapi tentang manajemen data yang cerdas untuk mengoptimalkan alur kerja klinis dan manajerial,” jelas Setiaji.
AI untuk Efisiensi dan Mutu Layanan
Pemanfaatan AI di rumah sakit juga diarahkan untuk menjawab tantangan nyata di lapangan, termasuk mengatasi burnout tenaga kesehatan. Otomasi pengisian rekam medis, misalnya melalui teknologi voice transcription, dapat mengurangi beban administrasi sehingga tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan pasien.
AI juga dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi operasional, seperti memprediksi lama rawat inap pasien (length of stay) dan mengoptimalkan jadwal operasi. Hasilnya, biaya operasional dapat ditekan dan kapasitas layanan rumah sakit meningkat.
Di sisi klinis, teknologi AI dan machine learning telah digunakan untuk diagnosis citra medis dengan tingkat akurasi tinggi, pencitraan medis canggih, telemedicine, pemantauan pasien melalui wearable devices, hingga robotika medis dan bioteknologi.
Tantangan Mutu Data dan Keamanan Siber
Namun, Setiaji mengingatkan bahwa kecanggihan AI sangat bergantung pada mutu data. Data yang tidak bersih dari sistem informasi rumah sakit akan menghasilkan analisis dan rekomendasi yang keliru. Karena itu, investasi pada Data Quality Assurance (DQA) otomatis dan kepemimpinan data governance menjadi keharusan.
Di sisi lain, sektor kesehatan juga menghadapi risiko keamanan siber yang tinggi. Serangan ransomware, kebocoran data pasien, hingga serangan supply chain menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan layanan medis. Untuk itu, penerapan arsitektur Zero Trust, manajemen kerentanan berkelanjutan, serta kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data pribadi menjadi langkah mutlak.
Kementerian Kesehatan juga mendorong penerapan lima pilar strategis keamanan data kesehatan, yakni kebijakan dan tata kelola, teknologi perlindungan, budaya keamanan SDM, respons insiden melalui Health CSIRT, serta kepatuhan regulasi nasional dan internasional.
Health CSIRT berperan sebagai pusat koordinasi keamanan siber sektor kesehatan, menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, dan membangun ketahanan terhadap ancaman siber yang terus berkembang.
Dengan orkestrasi yang tepat antara AI, keamanan siber, dan ekosistem data cerdas, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem kesehatan digital yang tangguh, berkelanjutan, dan berpihak pada keselamatan pasien.
