Protokol A2A: Cara Agen AI Berkomunikasi dan Bekerja Sama


Ilustrasi Artificial Intelligence 7

Ilustrasi Artificial Intelligence

Protokol Agent2Agent (A2A) menjadi salah satu teknologi yang mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI), terutama dalam membangun sistem yang memungkinkan berbagai agen AI bekerja sama. Teknologi ini memungkinkan agen AI dari penyedia berbeda untuk saling berkomunikasi, bertukar informasi, dan menyelesaikan tugas tanpa harus menggunakan kerangka kerja yang sama.

Google pertama kali memperkenalkan A2A pada April 2025 sebagai protokol komunikasi terbuka untuk sistem multiagen. Kehadirannya membuka peluang bagi perusahaan untuk menghubungkan berbagai agen AI dalam satu alur kerja, mulai dari pengelolaan data hingga penyelesaian tugas yang melibatkan banyak layanan.

Lantas, apa sebenarnya protokol A2A, bagaimana cara kerjanya, dan apa manfaatnya bagi perkembangan teknologi AI?

 

Mengenal Protokol A2A (Agent2Agent)

Agent2Agent atau A2A adalah protokol komunikasi yang memungkinkan agen kecerdasan buatan saling berinteraksi dan bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas.

Dalam sistem AI, agen merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk menjalankan tugas tertentu secara mandiri. Agen dapat menerima instruksi, memproses informasi, menentukan langkah yang perlu dilakukan, dan menggunakan berbagai layanan untuk mencapai tujuan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan dapat memiliki agen AI yang bertugas mengelola inventaris, agen lain yang menangani pemesanan barang, serta agen yang mengurus pengiriman. Masing-masing agen memiliki fungsi dan kemampuan berbeda.

Namun, agar seluruh agen tersebut dapat bekerja secara terkoordinasi, diperlukan mekanisme komunikasi yang memungkinkan mereka saling memahami permintaan dan bertukar informasi.

Di sinilah protokol A2A berperan.

A2A menyediakan standar komunikasi yang memungkinkan agen AI dari berbagai penyedia atau kerangka kerja saling terhubung. Dengan protokol ini, agen yang dibangun menggunakan teknologi berbeda dapat bekerja sama tanpa harus memiliki arsitektur internal yang sama.

Secara sederhana, A2A dapat diibaratkan sebagai bahasa bersama bagi berbagai agen AI. Sama seperti manusia yang menggunakan bahasa untuk berkomunikasi meskipun berasal dari latar belakang berbeda, A2A memungkinkan agen AI bertukar pesan melalui format komunikasi yang telah disepakati.

Tanpa protokol komunikasi yang seragam, setiap pengembang perlu membuat mekanisme integrasi khusus agar agen yang berbeda dapat saling berinteraksi. Pendekatan tersebut dapat menyulitkan pengembangan sistem, terutama ketika jumlah agen dan layanan yang digunakan semakin banyak.

A2A berupaya mengatasi masalah tersebut dengan menyediakan standar komunikasi terbuka yang dapat digunakan oleh berbagai sistem agen AI.

Protokol ini pertama kali diluncurkan Google bersama sejumlah mitra teknologi melalui platform Google Cloud pada April 2025. Dalam perkembangannya, A2A berada di bawah naungan Linux Foundation sebagai proyek sumber terbuka Agent2Agent.

Keberadaan A2A di bawah Linux Foundation mendukung pengembangan protokol secara terbuka dan memungkinkan keterlibatan berbagai pihak dalam membangun ekosistem komunikasi antaragen AI.

 

Mengapa Komunikasi Antaragen AI Dibutuhkan?

Perkembangan AI tidak lagi terbatas pada sistem yang hanya menerima pertanyaan dan memberikan jawaban. Agen AI semakin banyak digunakan untuk menjalankan pekerjaan yang melibatkan beberapa tahapan dan membutuhkan interaksi dengan berbagai layanan.

Misalnya, ketika seseorang meminta bantuan untuk merencanakan perjalanan, sistem AI dapat membagi pekerjaan menjadi beberapa tugas. Satu agen bertugas mencari informasi penerbangan, agen lain mencari hotel, sedangkan agen berikutnya menyusun jadwal perjalanan.

Masing-masing agen memiliki keahlian dan sumber informasi yang berbeda. Agar pekerjaan tersebut dapat diselesaikan secara terkoordinasi, agen-agen itu perlu saling bertukar informasi.

Masalahnya, agen AI tidak selalu dibangun menggunakan teknologi yang sama. Ada agen yang dikembangkan menggunakan kerangka kerja tertentu, sementara agen lainnya menggunakan platform atau model AI yang berbeda.

Perbedaan tersebut dapat menjadi hambatan ketika agen harus bekerja sama dalam satu sistem. Protokol A2A dirancang untuk mengatasi hambatan tersebut. Melalui standar komunikasi yang sama, agen dapat saling berinteraksi tanpa harus membuka seluruh cara kerja internalnya.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengembangkan sistem multiagen yang lebih fleksibel. Perusahaan dapat menggunakan agen yang paling sesuai untuk setiap kebutuhan, kemudian menghubungkannya melalui protokol komunikasi yang kompatibel.

Dengan demikian, A2A tidak menggantikan fungsi masing-masing agen, tetapi membantu menghubungkan kemampuan mereka agar dapat digunakan secara bersama-sama.

 

Perbedaan Protokol A2A dan MCP

Dalam ekosistem AI, A2A sering dikaitkan dengan Model Context Protocol (MCP). Keduanya merupakan protokol komunikasi, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.

MCP diperkenalkan oleh Anthropic pada 2024. Protokol ini berfungsi sebagai standar yang memungkinkan aplikasi AI berkomunikasi dengan layanan eksternal, seperti API, sumber data, fungsi yang telah ditentukan, dan berbagai perangkat lainnya.

Sementara itu, A2A berfokus pada komunikasi dan kolaborasi antaragen AI.

Perbedaan tersebut dapat dipahami melalui contoh sebuah toko ritel yang menggunakan sistem AI untuk mengelola persediaan barang. Toko tersebut memiliki agen inventaris yang bertugas memantau jumlah stok produk. Agen ini menggunakan MCP untuk mengakses basis data yang menyimpan informasi produk dan jumlah persediaan.

Ketika agen inventaris menemukan produk yang hampir habis, agen tersebut mengirimkan pemberitahuan kepada agen pemesanan internal. Agen pemesanan kemudian menggunakan A2A untuk berkomunikasi dengan agen milik pemasok eksternal dan mengajukan pesanan barang.

Dalam skenario tersebut, MCP membantu agen mengakses data dan layanan, sedangkan A2A memungkinkan agen berkomunikasi serta bekerja sama untuk menyelesaikan tugas. Kedua protokol tersebut dirancang untuk saling melengkapi. MCP membantu agen terhubung dengan sumber daya yang dibutuhkan, sementara A2A memungkinkan agen bekerja sama dengan agen lain.

 

Komponen Utama dalam Arsitektur A2A

Protokol A2A memiliki sejumlah komponen yang mendukung proses komunikasi dan pertukaran informasi antaragen. Komponen tersebut meliputi A2A client, A2A server, Agent Card, Task, Message, Artifact, dan Part.

  1. A2A Client atau Agen Klien
    A2A client merupakan pihak yang memulai komunikasi dengan agen lain. Komponen ini dapat berupa aplikasi, layanan, atau agen AI yang meneruskan permintaan kepada agen jarak jauh

    .Sebagai contoh, agen perjalanan menerima permintaan pengguna untuk menyusun rencana liburan. Agen tersebut kemudian menghubungi agen lain yang memiliki kemampuan mencari penerbangan atau hotel.

    Dalam proses ini, agen perjalanan bertindak sebagai A2A client karena memulai komunikasi dan mengirimkan tugas kepada agen lain.

  2. A2A Server atau Agen Jarak Jauh
    A2A server merupakan agen yang menerima permintaan dari agen klien. Agen ini bertugas memproses tugas yang diberikan, memberikan pembaruan status, serta mengirimkan hasil pekerjaan setelah tugas selesai. A2A server menyediakan endpoint HTTP yang kompatibel dengan protokol Agent2Agent. Endpoint tersebut menjadi titik akses yang memungkinkan agen klien berkomunikasi dengan agen jarak jauh.

    Sebagai contoh, agen pencarian hotel menerima permintaan dari agen perjalanan. Agen hotel kemudian mencari informasi yang dibutuhkan dan mengirimkan hasilnya kembali kepada agen perjalanan.

  3. Agent Card
    Agent Card merupakan berkas berformat JSON yang berisi informasi mengenai suatu agen AI dan dapat diakses melalui URL. Berkas ini memuat informasi dasar, seperti nama agen, deskripsi, versi, alamat endpoint layanan, jenis data yang didukung, serta persyaratan autentikasi. Agent Card juga menjelaskan kemampuan dan keahlian agen sehingga agen lain dapat menemukan dan menentukan apakah agen tersebut sesuai untuk menyelesaikan tugas tertentu.

    Secara sederhana, Agent Card dapat diibaratkan sebagai kartu nama atau profil profesional bagi agen AI. Melalui informasi tersebut, agen klien dapat mengetahui kemampuan agen lain sebelum mengirimkan permintaan.

  4. Task
    Task merupakan satuan pekerjaan yang harus diselesaikan untuk memenuhi suatu permintaan. Setiap tugas memiliki ID unik dan melalui beberapa status selama proses pengerjaan berlangsung. Status tersebut meliputi submitted ketika tugas diajukan, working ketika tugas sedang dikerjakan, input-required ketika agen membutuhkan informasi tambahan, completed ketika tugas selesai, dan failed ketika tugas gagal diselesaikan.

    Pengelolaan tugas ini penting karena tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan dalam satu kali komunikasi. Beberapa tugas mungkin membutuhkan waktu lama, melibatkan banyak tahapan, atau memerlukan informasi tambahan dari pengguna maupun agen lain.

  5. Message
    Message merupakan unit dasar komunikasi dalam protokol A2A. Sebuah pesan menggambarkan satu pertukaran informasi atau satu giliran percakapan. Message dapat berisi jawaban, konteks, instruksi, pertanyaan, balasan, atau pembaruan status.

    Setiap pesan dapat terdiri dari satu atau lebih bagian konten. Pesan juga memiliki peran yang menunjukkan siapa pengirimnya. Message dari server menggunakan peran agen, sedangkan message dari klien menggunakan peran pengguna.

  6. Artifact atau Hasil Kerja
    Artifact merupakan hasil nyata yang dihasilkan oleh agen setelah menyelesaikan suatu pekerjaan. Hasil tersebut dapat berupa dokumen, gambar, spreadsheet, atau bentuk keluaran lainnya.

    Sebagai contoh, agen yang bertugas menyusun laporan dapat menghasilkan dokumen, sedangkan agen yang mengolah data dapat menghasilkan spreadsheet.

    Artifact dapat dikirimkan secara bertahap selama proses pengerjaan berlangsung, sehingga agen klien dapat menerima hasil tanpa harus selalu menunggu seluruh pekerjaan selesai.

  7. Part atau Bagian Konten
    Part merupakan bagian konten yang terdapat dalam pesan atau artifact. Komponen ini memiliki beberapa jenis sesuai dengan data yang dibawanya. TextPart digunakan untuk memuat teks, FilePart digunakan untuk merepresentasikan berkas, sedangkan DataPart digunakan untuk memuat data JSON yang terstruktur. Pembagian tersebut memungkinkan protokol A2A menangani berbagai bentuk informasi, mulai dari teks sederhana hingga data terstruktur dan berkas.

 

Bagaimana Cara Kerja Protokol A2A?

Secara umum, A2A menggunakan model client-server dengan tiga tahap utama, yaitu penemuan agen, autentikasi, dan komunikasi.

Ketiga tahap tersebut memungkinkan agen klien menemukan agen yang tepat, memastikan akses yang diperlukan, kemudian mengirimkan tugas untuk diproses.

  • Penemuan Agen
    Proses dimulai ketika pengguna atau agen AI lain mengajukan permintaan kepada agen klien. Sebagai contoh, pengguna meminta bantuan untuk mengatur perjalanan ke suatu kota. Agen klien kemudian mencari agen jarak jauh yang memiliki kemampuan untuk membantu menyelesaikan tugas tersebut.

    Agen klien mengambil Agent Card dari agen yang ditemukan untuk memeriksa informasi dan kemampuan masing-masing agen. Berdasarkan informasi tersebut, agen klien menentukan agen yang paling sesuai untuk menjalankan tugas.

    Tahap ini penting karena agen klien tidak harus menggunakan satu agen untuk seluruh pekerjaan. Agen dapat memilih agen yang memiliki kemampuan khusus sesuai dengan kebutuhan.

  • Autentikasi
    Setelah menemukan agen yang sesuai, agen klien menjalani proses autentikasi berdasarkan mekanisme keamanan yang tercantum dalam Agent Card. A2A mendukung mekanisme keamanan yang sesuai dengan spesifikasi OpenAPI, termasuk API key, OAuth 2.0, dan OpenID Connect Discovery.

    Autentikasi digunakan untuk memastikan identitas pihak yang berkomunikasi. Setelah agen klien berhasil diautentikasi, agen jarak jauh bertanggung jawab melakukan otorisasi dan memberikan izin akses yang diperlukan.

    Dengan kata lain, autentikasi memastikan siapa pihak yang berkomunikasi, sedangkan otorisasi menentukan tindakan atau sumber daya yang boleh diakses oleh pihak tersebut.

  • Komunikasi dan Pemrosesan Tugas
    Setelah proses autentikasi selesai, agen klien mengirimkan tugas kepada agen jarak jauh yang telah dipilih. Komunikasi berlangsung melalui HTTPS untuk menjaga keamanan transmisi data. Sementara itu, pertukaran data menggunakan JSON-RPC 2.0.Agen jarak jauh kemudian memproses tugas tersebut. Jika membutuhkan informasi tambahan, agen akan mengirimkan pemberitahuan kepada agen klien.

    Setelah pekerjaan selesai, agen jarak jauh mengirimkan pesan berisi hasil pekerjaan beserta artifact yang dihasilkan. Protokol A2A juga mendukung pengelolaan tugas yang membutuhkan waktu lama atau terdiri dari beberapa tahapan.

    Untuk tugas yang berlangsung berjam-jam atau bahkan berhari-hari, A2A memungkinkan pengiriman pembaruan secara asinkron melalui notifikasi push ke webhook aman yang disediakan oleh agen klien. Selain itu, A2A mendukung streaming waktu nyata menggunakan server-sent events (SSE). Fitur ini berguna untuk mengirimkan hasil berukuran besar atau pembaruan status secara berkelanjutan.

 

Manfaat Protokol A2A bagi Perusahaan

Protokol A2A menawarkan sejumlah manfaat bagi perusahaan yang ingin mengembangkan sistem AI dengan banyak agen. Salah satu manfaat utamanya adalah kemampuan untuk mengintegrasikan agen AI dari berbagai penyedia dan kerangka kerja tanpa harus menyamakan seluruh arsitektur internal mereka.

A2A juga membantu perusahaan memanfaatkan kemampuan khusus setiap agen. Agen yang unggul dalam pengolahan data dapat bekerja sama dengan agen yang memiliki kemampuan pencarian informasi atau pengelolaan transaksi.

Dari sisi privasi, A2A memungkinkan agen bekerja sama tanpa harus mengungkapkan seluruh cara kerja internalnya, termasuk memori internal, logika khusus milik pengembang, atau implementasi perangkat yang digunakan. Pendekatan tersebut membantu menjaga privasi data sekaligus melindungi kekayaan intelektual.

Dari sisi integrasi, A2A dibangun menggunakan standar teknologi yang telah banyak digunakan, seperti HTTP, JSON-RPC, dan SSE. Hal ini membantu perusahaan mengadopsi protokol tanpa harus membangun ulang seluruh infrastruktur teknologi yang sudah dimiliki.

Sementara itu, dukungan autentikasi dan otorisasi membantu perusahaan mengatur akses serta menjaga keamanan komunikasi antaragen.

Meski demikian, manfaat tersebut tetap bergantung pada penerapan protokol dan pengelolaan keamanan yang tepat. Penggunaan standar komunikasi tidak dengan sendirinya menjamin seluruh sistem AI bebas dari risiko keamanan.

 

Masa Depan Protokol A2A

A2A masih berada pada tahap awal pengembangan. Seiring dengan semakin matangnya protokol ini, sejumlah peningkatan kemampuan diperkirakan akan hadir. Salah satu pengembangan yang direncanakan adalah penyertaan mekanisme otorisasi secara formal serta kredensial opsional dalam Agent Card.

A2A juga berpotensi menghadirkan metode untuk memeriksa kemampuan agen secara dinamis ketika muncul kebutuhan yang tidak terduga atau keahlian yang belum didukung.

Selain itu, protokol ini direncanakan mendukung negosiasi pengalaman pengguna secara dinamis di dalam suatu tugas. Sebagai contoh, komunikasi audio atau video dapat ditambahkan di tengah percakapan yang sedang berlangsung.

Pengembangan lainnya mencakup peningkatan metode notifikasi push dan keandalan streaming. Berbagai peningkatan tersebut diharapkan dapat membuat A2A semakin andal dan fleksibel dalam mendukung kolaborasi antaragen AI.

Pada akhirnya, protokol A2A berperan sebagai fondasi komunikasi yang memungkinkan berbagai agen AI bekerja sama dalam satu ekosistem. Dengan adanya standar komunikasi terbuka, perusahaan dapat mengembangkan sistem multiagen yang lebih terintegrasi dan memanfaatkan kemampuan berbagai agen untuk menyelesaikan pekerjaan yang semakin kompleks.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait