Situs Web Mulai Blokir Agen AI, Apa Penyebabnya?


Ilustrasi AI Agentik

Ilustrasi AI Agentik

Perkembangan agen artificial intelligence (AI) semakin pesat. Teknologi ini digadang-gadang mampu mengambil alih berbagai pekerjaan digital, mulai dari memesan tiket pesawat, berbelanja online, mengelola email, hingga membuat reservasi restoran. Namun, ambisi perusahaan teknologi untuk menjadikan agen AI sebagai asisten digital serba bisa kini menghadapi hambatan. Sejumlah situs web populer mulai membatasi, bahkan memblokir akses agen AI ke platform mereka.

OpenAI, Meta, Google, dan sejumlah perusahaan teknologi lainnya tengah berlomba mengembangkan agen AI otonom yang dapat menjalankan tugas atas nama pengguna. Berbeda dengan chatbot biasa yang hanya memberikan jawaban atau rekomendasi, agen AI dirancang untuk melakukan tindakan secara langsung melalui internet.

Dengan kemampuan tersebut, pengguna cukup memberikan instruksi, kemudian agen AI akan menjalankan serangkaian pekerjaan yang diperlukan. Misalnya, mencari produk, membandingkan harga, memasukkan barang ke keranjang belanja, hingga menyelesaikan proses pemesanan.

Meski menawarkan kemudahan, penerapan teknologi ini ternyata tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah perusahaan penyedia layanan internet justru mulai membatasi aktivitas agen AI karena berbagai pertimbangan, mulai dari keamanan, kebijakan penggunaan layanan, hingga kepentingan bisnis.

 

Sejumlah Situs Mulai Batasi Akses Agen AI

Dalam beberapa pekan terakhir, pengguna Muse milik Meta, Grok dari xAI, Dots milik OpenAI, serta agen AI dari Instinct melaporkan kesulitan ketika mencoba menjalankan tugas di sejumlah situs web populer.

Beberapa perusahaan bahkan secara terbuka menyatakan kebijakan pembatasan tersebut. Yelp, misalnya, mengatakan kepada TechCrunch bahwa akses agen AI terhadap datanya hanya diperbolehkan melalui program lisensi data berbayar.

Sementara itu, Delta Air Lines mencegah agen AI melakukan pemesanan tiket atas nama pengguna. Langkah serupa dilakukan JPMorgan Chase dan Charles Schwab yang mengonfirmasi pemblokiran akses agen AI ke akun nasabah karena alasan keamanan.

Tidak hanya itu, sejumlah pengguna juga mengeluhkan bahwa situs yang sebelumnya dapat diakses oleh agen AI kini tidak lagi bisa digunakan. Beberapa di antaranya adalah Cars.com dan Amtrak.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembatasan terhadap agen AI tidak hanya terjadi pada satu atau dua platform. Ada kemungkinan semakin banyak perusahaan menerapkan kebijakan serupa, termasuk tanpa mengumumkannya secara terbuka.

Bagi perusahaan teknologi pengembang AI, situasi ini menjadi tantangan tersendiri. Sebab, kemampuan agen AI untuk menyelesaikan pekerjaan secara mandiri sangat bergantung pada akses terhadap layanan dan situs web pihak ketiga.

 

Perseteruan Amazon dan Perplexity Jadi Contoh

Salah satu contoh paling menonjol dari konflik antara agen AI dan penyedia layanan internet melibatkan Amazon dan Perplexity.

Tahun lalu, Amazon mengambil tindakan terhadap fitur belanja berbasis agen AI milik Perplexity. Perusahaan e-commerce tersebut melarang agen AI Perplexity berbelanja melalui platformnya dan mengajukan gugatan terhadap startup AI tersebut.

Amazon mengklaim telah berulang kali meminta Perplexity menghentikan aktivitas agen AI di situsnya. Menurut Amazon, perusahaan pihak ketiga yang membeli produk atas nama pelanggan harus menjalankan aktivitasnya secara transparan dan menghormati keputusan penyedia layanan mengenai penggunaan platform mereka.

Perplexity memiliki pandangan berbeda. Startup tersebut menilai Amazon sebenarnya keberatan karena agen AI dapat mengurangi jumlah pengguna manusia yang mengunjungi situsnya.

Hal ini berkaitan dengan model bisnis Amazon yang mengandalkan iklan dan aktivitas belanja pengguna. Jika konsumen menggunakan agen AI untuk mencari dan membeli produk tanpa menjelajahi halaman situs secara langsung, peluang mereka melihat iklan juga berpotensi berkurang.

Perplexity berpendapat bahwa agen AI seharusnya dipandang sebagai perpanjangan tangan pengguna. Dengan kata lain, pengguna memiliki hak untuk menggunakan asisten digital yang bertindak atas nama mereka, sebagaimana seseorang dapat mempekerjakan asisten atau karyawan untuk melakukan pekerjaan tertentu.

Perselisihan tersebut kemudian berlanjut ke ranah hukum. Seorang hakim sempat memerintahkan Perplexity menghentikan aktivitas belanja agen AI di situs Amazon. Namun, pada Agustus, pengadilan banding membatalkan putusan tersebut. Amazon selanjutnya mengajukan gugatan yang telah diperbarui.

Kasus ini memperlihatkan bahwa kehadiran agen AI tidak hanya menimbulkan persoalan teknis, tetapi juga memunculkan perdebatan mengenai hak pengguna, kebijakan platform, dan kendali perusahaan atas layanan digital mereka.

 

Muse Meta hingga Dots OpenAI Ikut Menghadapi Hambatan

Persoalan yang dialami Perplexity ternyata juga dihadapi perusahaan AI lainnya. Peluncuran agen AI oleh OpenAI, Meta, dan Google tidak serta-merta membuat teknologi tersebut dapat digunakan secara bebas di seluruh internet. Muse, asisten AI milik Meta, menjadi salah satu yang terdampak. Amazon menyatakan bahwa akses Muse yang terus berlanjut ke platformnya melanggar kebijakan situs.

Laporan lain juga menyebutkan bahwa Grok milik xAI, agen AI dari Instinct, dan Dots milik OpenAI mengalami kendala ketika mencoba mengakses Amazon. Menanggapi persoalan tersebut, Elon Musk, pemilik xAI, bahkan menyampaikan kemungkinan untuk membangun pesaing Amazon.

Semakin banyak situs yang membatasi akses agen AI, semakin besar pula pertanyaan mengenai efektivitas teknologi tersebut. Pasalnya, salah satu daya tarik utama agen AI adalah kemampuannya menjalankan berbagai aktivitas digital tanpa pengguna harus melakukannya sendiri.

Chris Canal, CEO EquiStamp, perusahaan yang bergerak di bidang evaluasi keamanan AI, mengatakan kepada bahwa kondisi ini dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap nilai dan manfaat produk AI, termasuk yang dikembangkan Anthropic dan OpenAI.

Menurutnya, perusahaan AI selama ini menjanjikan teknologi yang mampu membantu hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk melakukan berbagai aktivitas yang biasa dikerjakan secara online.

Namun, jika semakin banyak perusahaan secara aktif membatasi akses agen AI, kemampuan teknologi tersebut untuk memberikan manfaat nyata kepada pengguna tentu akan semakin terbatas.

 

Meta Pilih Bermitra dengan Peritel

Menghadapi pembatasan tersebut, Meta menyatakan bahwa perusahaan lebih memilih menjalin kerja sama dengan penyedia layanan daripada terlibat dalam perselisihan. Dalam sebuah unggahan pada awal bulan ini, Meta menyampaikan bahwa menolak agen AI pribadi sama artinya dengan menolak pelanggan yang menggunakan agen tersebut.

Meta juga menyatakan lebih memilih bekerja sama dengan pelaku bisnis untuk mengatasi kekhawatiran mereka dibandingkan membiarkan perusahaan kehilangan pelanggan. Sebagai langkah alternatif, Meta telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan ritel, seperti Walmart, Gap, Sephora, dan Best Buy. Kerja sama tersebut memungkinkan Muse melakukan aktivitas belanja melalui situs para mitra tersebut.

Di sisi lain, Shopify juga telah membuka jaringan toko online yang menggunakan platformnya agar dapat diakses oleh agen AI.

Strategi ini menunjukkan bahwa kerja sama antara pengembang AI dan penyedia layanan dapat menjadi salah satu jalan untuk mengatasi hambatan akses. Dengan adanya kesepakatan, agen AI dapat menjalankan tugas tanpa harus mengabaikan kebijakan dan kepentingan bisnis pemilik platform.

The Verge juga telah meminta tanggapan OpenAI dan Google mengenai hambatan yang dihadapi agen AI mereka. Namun, keduanya belum memberikan komentar saat laporan tersebut diterbitkan. Sementara itu, Instinct memilih tidak memberikan tanggapan.

 

Sistem Anti-Bot Ikut Menghambat Agen AI

Selain pemblokiran secara langsung oleh perusahaan, agen AI juga menghadapi kendala dari sistem keamanan otomatis yang dikenal sebagai anti-bot. Sistem ini sebenarnya sudah lama digunakan berbagai situs web untuk membedakan pengunjung manusia dengan program otomatis. Tujuannya antara lain mencegah penipuan, peretasan, pencurian data, dan aktivitas mencurigakan lainnya.

Namun, agen AI yang dirancang untuk melakukan aktivitas secara otomatis dapat memicu mekanisme perlindungan tersebut.

Sejumlah laporan di Reddit menyebutkan bahwa Google memblokir beberapa akun yang menggunakan Muse karena terdeteksi melakukan aktivitas mencurigakan. Pengguna lain juga mengeluhkan kesulitan menyelesaikan transaksi di Walmart, meskipun perusahaan tersebut telah menjalin kemitraan dengan Meta.

Chris Canal menjelaskan bahwa sistem keamanan di internet tidak selalu dirancang khusus untuk memblokir agen AI. Banyak di antaranya dibuat untuk mencegah bot atau program otomatis yang berpotensi melakukan penipuan dan peretasan.

Masalahnya, aktivitas agen AI dapat menyerupai perilaku bot yang selama ini dianggap berisiko oleh sistem keamanan tersebut. Akibatnya, agen AI yang sebenarnya digunakan untuk membantu pengguna justru ikut terkena pemblokiran.

 

Cloudflare Perketat Pengawasan Bot AI

Upaya membatasi aktivitas bot di internet juga dilakukan Cloudflare, perusahaan penyedia infrastruktur dan layanan keamanan web.

Pada 2025, Cloudflare memperkenalkan fitur yang memungkinkan pemilik situs memblokir perayap AI atau AI crawler hanya dengan satu klik. Selanjutnya, perusahaan tersebut mulai membatasi perayap yang mengambil data situs web secara bersamaan untuk kebutuhan pengindeksan mesin pencari dan pelatihan model AI.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Cloudflare mengurangi dampak lonjakan aktivitas bot AI di internet.

Jumlah bot yang terus meningkat berpotensi membebani infrastruktur jaringan dan server. Aktivitas otomatis dalam skala besar juga dapat menimbulkan gangguan pada layanan digital, termasuk membanjiri kotak masuk email dengan pesan yang tidak diinginkan.

Dampaknya bahkan dapat dirasakan langsung oleh pengguna internet. Ketika bot semakin banyak bersaing mendapatkan akses ke layanan digital, pengguna manusia berpotensi semakin kesulitan membeli tiket konser, memesan tempat, atau mendapatkan produk yang jumlahnya terbatas.

 

Penggunaan Internet Bisa Semakin Rumit

Meskipun pemblokiran bot dan agen AI dapat membantu meningkatkan keamanan situs web, kebijakan tersebut juga berpotensi menimbulkan konsekuensi lain bagi pengguna internet. Canal memperingatkan bahwa semakin banyak situs menerapkan sistem perlindungan otomatis, semakin sering pula pengguna harus melewati proses verifikasi untuk membuktikan bahwa mereka bukan robot.

Mekanisme tersebut bahkan berpotensi diterapkan pada layanan sederhana, seperti situs belanja kebutuhan sehari-hari. Pengguna mungkin harus menyelesaikan berbagai tahapan verifikasi sebelum dapat melanjutkan aktivitasnya.

Kondisi ini memperlihatkan adanya dilema dalam perkembangan agen AI. Di satu sisi, teknologi tersebut menawarkan kemudahan dengan mengambil alih berbagai pekerjaan digital. Namun, di sisi lain, perusahaan penyedia layanan tetap memiliki kepentingan untuk melindungi keamanan, data, dan model bisnis mereka.

Pada akhirnya, masa depan agen AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model dan kemampuannya memahami instruksi manusia. Kemampuan teknologi ini juga bergantung pada kesediaan situs web dan penyedia layanan untuk memberikan akses.

Tanpa dukungan ekosistem internet yang terbuka dan kerja sama antara pengembang AI dengan pemilik platform, janji agen AI sebagai asisten digital yang mampu melakukan hampir semua pekerjaan online mungkin akan sulit terwujud sepenuhnya.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait