Flood-Eye, Sistem AI yang Bantu Semarang Deteksi Ancaman Banjir
- Rita Puspita Sari
- •
- 16 jam yang lalu
Ilustrasi Bencana Banjir
Pemerintah Kota Semarang, Jawa Tengah, mulai memasang sistem peringatan dini banjir berbasis artificial intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) bernama Flood-Eye. Teknologi ini dikembangkan untuk membantu memprediksi ancaman banjir bandang secara lebih cepat dan akurat, sehingga masyarakat di kawasan rawan banjir memiliki waktu lebih panjang untuk melakukan persiapan evakuasi.
Sistem Flood-Eye merupakan hasil kerja sama antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, University of Wollongong (UoW) Australia, dan Telkom University (Tel-U) Indonesia.
Teknologi ini menggabungkan sensor pemantau sungai, kecerdasan buatan, data satelit, serta pemodelan banjir untuk menghasilkan informasi mengenai potensi bencana. Hasil pemantauan tersebut dapat diakses melalui dashboard yang tersedia di perangkat mobile.
Dengan pendekatan ini, Flood-Eye diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dan petugas kebencanaan dalam mengambil keputusan berdasarkan kondisi sungai secara lebih aktual.
Pantau Perubahan Air Sungai Secara Berkala
Salah satu keunggulan Flood-Eye dibandingkan sistem peringatan dini konvensional terletak pada kemampuannya menganalisis perubahan tinggi muka air sungai dalam interval waktu yang lebih rapat.
Sistem konvensional umumnya mengandalkan data curah hujan harian untuk memperkirakan potensi banjir. Sementara itu, Flood-Eye dirancang untuk memantau perubahan muka air sungai secara lebih terperinci, mulai dari interval per jam hingga per menit.
Pemantauan tersebut mencakup Sungai Pengkol dan anak-anak sungainya yang berada di wilayah Kota Semarang. Informasi dari sensor sungai kemudian dipadukan dengan teknologi AI untuk membantu menganalisis kondisi aliran air dan memperkirakan potensi banjir bandang.
Pendekatan ini dinilai penting karena banjir bandang dapat terjadi ketika volume air meningkat dengan cepat. Perubahan kondisi sungai dalam waktu singkat berpotensi menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang memiliki risiko banjir tinggi.
Melalui pemantauan yang lebih intensif, petugas diharapkan dapat memperoleh gambaran kondisi sungai secara lebih menyeluruh dibandingkan hanya mengandalkan laporan curah hujan harian.
Meski demikian, kemampuan sistem dalam memberikan peringatan dini tetap bergantung pada kualitas dan ketersediaan data yang digunakan.
Dipasang di Enam Titik Pemantauan
Pemasangan Flood-Eye mulai dilakukan di bantaran anak sungai Kali Babon, kawasan Meteseh, Semarang, pada Rabu (28/10/2026). Selain di lokasi tersebut, sistem ini telah disebar di enam titik pemantauan yang berada di Kecamatan Tembalang dan Pedurungan.
Kedua kecamatan tersebut menjadi bagian dari wilayah yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pengurangan risiko banjir di Kota Semarang.
Keberadaan sensor di sejumlah titik memungkinkan pemantauan kondisi sungai dilakukan dari beberapa lokasi sekaligus. Data yang terkumpul diharapkan dapat membantu memberikan gambaran mengenai perubahan kondisi aliran air di kawasan tersebut.
Informasi dari sistem juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi BPBD dan pihak terkait dalam menentukan langkah penanganan ketika terdapat indikasi peningkatan risiko banjir.
Penempatan perangkat pemantauan di wilayah rawan bencana menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem peringatan dini. Sebab, keberhasilan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan analisis, tetapi juga oleh ketersediaan data lapangan yang relevan.
Masih Terkendala Data Curah Hujan
Meski menawarkan kemampuan pemantauan yang lebih terperinci, pengembangan Flood-Eye masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan data curah hujan dengan interval waktu pendek. Padahal, informasi mengenai intensitas hujan dalam rentang waktu tertentu diperlukan untuk membantu memperkirakan perubahan kondisi sungai dan potensi banjir.
Ketersediaan data curah hujan yang lebih rapat dapat mendukung analisis sistem dalam memahami hubungan antara hujan, peningkatan debit air, dan kemungkinan terjadinya banjir.
Keterbatasan data tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan sistem berbasis AI. Semakin lengkap dan akurat data yang tersedia, semakin baik pula dasar analisis yang dapat digunakan untuk menghasilkan informasi peringatan dini.
Karena itu, pengembangan Flood-Eye tidak hanya berkaitan dengan pemasangan perangkat sensor, tetapi juga dengan penguatan infrastruktur pengumpulan data dan pemantauan lingkungan.
Kendati demikian, sistem ini diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen pendukung dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir di Kota Semarang.
Ditargetkan Melindungi 115.000 Warga
Para peneliti memperkirakan Flood-Eye berpotensi memberikan manfaat bagi sekitar 115.000 warga yang tinggal di kawasan rawan banjir di Kota Semarang. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap sistem peringatan dini yang mampu memberikan informasi mengenai ancaman bencana secara lebih cepat.
Dengan tersedianya informasi kondisi sungai dan potensi banjir, masyarakat diharapkan dapat memiliki waktu lebih panjang untuk mempersiapkan diri ketika ancaman meningkat. Bagi pemerintah daerah, informasi dari Flood-Eye juga berpotensi membantu proses pemantauan dan penentuan langkah penanganan bencana.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada keandalan sistem, kelengkapan data, serta kemampuan menyampaikan informasi peringatan kepada masyarakat secara tepat waktu.
Kelanjutan Kerja Sama Indonesia-Australia
Flood-Eye merupakan bagian dari program Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (KONEKSI), sebuah program kemitraan yang mendukung kerja sama pengetahuan dan penelitian antara Indonesia dan Australia. Proyek ini resmi dimulai pada Juni 2025 dan dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026.
Pengembangan Flood-Eye juga menjadi kelanjutan dari proyek sebelumnya bernama Tide-Eye, yang turut memperoleh pendanaan dari KONEKSI pada 2023. Melalui kerja sama tersebut, para peneliti berupaya mengembangkan teknologi pemantauan dan peringatan dini yang dapat diterapkan untuk membantu mengurangi risiko bencana di Indonesia.
Kehadiran Flood-Eye menjadi salah satu upaya pemanfaatan teknologi AI dan IoT dalam pengelolaan risiko bencana, khususnya untuk menghadapi ancaman banjir bandang. Jika pengembangan dan penerapannya berjalan sesuai harapan, sistem ini dapat membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memperkuat kemampuan pemerintah daerah dalam memantau kondisi sungai.
Dengan demikian, Flood-Eye diharapkan tidak hanya menjadi perangkat pemantauan banjir, tetapi juga bagian dari upaya membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih responsif terhadap perubahan kondisi lingkungan.
