Satelit China Uji Robot Orbit untuk Isi BBM di Antariksa
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 hari yang lalu
Ilustrasi Layanan Satelit Orbit
Perusahaan teknologi antariksa asal China kembali mencuri perhatian dunia setelah berhasil menguji lengan robot fleksibel di orbit bumi. Uji coba tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan satelit di luar angkasa, termasuk pengisian bahan bakar, perbaikan satelit, hingga pembersihan sampah antariksa yang selama ini menjadi ancaman serius bagi aktivitas luar angkasa global.
Pengujian dilakukan oleh Sustain Space, perusahaan rintisan China yang juga dikenal dengan nama Sanyuan Aerospace. Teknologi tersebut dibawa oleh satelit Xiyuan-0 atau Yuxing-3 (06), yang diluncurkan menggunakan roket Kuaizhou-11 pada 16 Maret waktu UTC. Satelit itu dirancang khusus untuk menguji kemampuan lengan robot fleksibel dalam melakukan berbagai operasi presisi di orbit.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 25 Maret, Sustain Space mengumumkan seluruh rangkaian pengujian lengan robot berhasil dilakukan sesuai rencana. Keberhasilan ini dinilai sebagai langkah besar bagi industri antariksa komersial China yang kini semakin agresif mengembangkan teknologi layanan orbit.
Lengan robot fleksibel tersebut dikembangkan untuk menjalankan beberapa fungsi penting di luar angkasa. Salah satunya adalah simulasi pengisian bahan bakar satelit secara otomatis. Teknologi ini sangat penting karena dapat memperpanjang usia operasional satelit tanpa harus mengganti perangkat baru yang biayanya jauh lebih mahal.
Selain itu, sistem robot juga diuji untuk melakukan manipulasi berbasis gaya atau force-compliant manipulation, yakni kemampuan robot menyesuaikan tekanan dan gerakan saat berinteraksi dengan objek di luar angkasa. Teknologi seperti ini diperlukan untuk memperbaiki, memindahkan, atau menangani satelit dan puing-puing antariksa dengan tingkat presisi tinggi.
Sustain Space menyebut pihaknya berhasil memverifikasi empat mode operasi utama dalam misi tersebut. Keempatnya meliputi simulasi pengisian bahan bakar otomatis yang sudah diprogram sebelumnya, pengendalian jarak jauh oleh operator manusia, operasi berbasis sistem visual, dan pengujian kontrol berbasis gaya.
Keberhasilan pengujian ini membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi layanan orbit di masa depan. Dengan kemampuan tersebut, satelit yang mengalami kerusakan ringan atau kehabisan bahan bakar nantinya tidak perlu langsung ditinggalkan di orbit. Sebaliknya, satelit bisa diperbaiki atau diisi ulang sehingga masa pakainya menjadi lebih panjang.
Di sisi lain, teknologi ini juga dinilai penting untuk mengurangi jumlah sampah antariksa yang terus bertambah setiap tahun. Sampah antariksa terdiri dari satelit rusak, pecahan roket, dan berbagai serpihan benda buatan manusia yang mengorbit bumi. Jika tidak dikendalikan, benda-benda tersebut dapat membahayakan satelit aktif hingga misi antariksa berawak.
Meski begitu, Sustain Space mengakui bahwa teknologi yang diuji saat ini masih berada pada tahap demonstrasi. Aktivitas pengisian bahan bakar yang dilakukan juga masih berupa simulasi dan belum melibatkan transfer propelan secara nyata di orbit. Perusahaan belum mengungkap jadwal pasti kapan teknologi tersebut akan mulai digunakan secara komersial.
Direktur Space Security and Stability dari Secure World Foundation, Victoria Samson, menilai pencapaian ini sebagai perkembangan teknologi yang sangat mengesankan. Menurutnya, keterbukaan informasi yang diberikan perusahaan menjadi hal penting di tengah meningkatnya aktivitas baru di luar angkasa.
Ia menegaskan bahwa transparansi sangat diperlukan agar masyarakat internasional memahami tujuan dari pengembangan teknologi semacam ini. Sebab, teknologi layanan orbit tidak hanya dapat digunakan untuk memperbaiki satelit, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan strategis dan keamanan.
Pengembangan satelit Xiyuan-0 sendiri melibatkan kolaborasi sejumlah institusi industri dan akademisi di China. Shenzhen Mofang Satellite Technology menyediakan platform satelit, sementara Sekolah Pascasarjana Internasional Shenzhen dari Tsinghua University turut mengembangkan sistem lengan robot fleksibel tersebut.
Selain itu, Hunan University of Science and Technology menyediakan muatan optik yang mendukung sistem kontrol visual dan teleoperasi. Sementara Emposat bertanggung jawab dalam dukungan komunikasi dan operasional satelit selama misi berlangsung.
Tak hanya fokus pada pengujian lengan robot, satelit Xiyuan-0 juga membawa misi tambahan berupa eksperimen percepatan deorbit. Dalam eksperimen ini, satelit akan menggunakan bola peningkat hambatan udara yang dapat dibentangkan untuk mempercepat proses jatuhnya satelit keluar dari orbit.
Teknologi tersebut dinilai berpotensi menjadi solusi efektif dalam mengurangi penumpukan sampah antariksa di masa depan. Dengan mempercepat proses deorbit, satelit yang sudah tidak digunakan bisa lebih cepat terbakar di atmosfer bumi sehingga tidak menjadi ancaman bagi objek lain di orbit.
Sustain Space sendiri merupakan perusahaan yang relatif baru. Perusahaan ini didirikan pada Juni 2022 dan menjadi anak perusahaan Emposat, penyedia layanan stasiun bumi satelit komersial yang memiliki jaringan di China maupun sejumlah negara lain. Pada 2024, perusahaan tersebut berhasil memperoleh pendanaan awal untuk mempercepat pengembangan teknologinya.
Ke depan, Sustain Space dan Emposat berencana membangun model operasi komersial “closed-loop” yang mengintegrasikan layanan orbit dengan infrastruktur stasiun bumi mereka. Model ini diharapkan mampu mendukung operasi satelit dengan latensi rendah dan kendali manusia secara langsung dari bumi.
Ambisi China dalam layanan orbit memang semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Negara tersebut diketahui tengah aktif mengembangkan teknologi pengisian bahan bakar satelit, perbaikan satelit, hingga perakitan infrastruktur luar angkasa.
Bahkan, pesawat antariksa Shijian-21 dan Shijian-25 milik China dilaporkan telah menjalankan uji pengisian bahan bakar di orbit geostasioner pada 2025. Langkah ini menunjukkan bahwa China ingin menjadi salah satu pemain utama dalam ekonomi luar angkasa masa depan.
Di sisi lain, persaingan global dalam teknologi layanan orbit juga semakin ketat. NASA sebelumnya sempat mengembangkan proyek On-orbit Servicing, Assembly, and Manufacturing 1 (OSAM-1). Namun proyek tersebut dibatalkan pada 2024 akibat keterlambatan dan pembengkakan biaya.
Meski demikian, sejumlah perusahaan dari Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang tetap melanjutkan pengembangan teknologi serupa. Di antaranya adalah Astroscale dan Northrop Grumman yang kini berlomba menghadirkan solusi layanan orbit dengan pendekatan teknologi masing-masing.
Keberhasilan Sustain Space menguji lengan robot fleksibel di orbit menjadi sinyal bahwa era baru layanan luar angkasa semakin dekat. Teknologi yang dulu hanya ada dalam konsep kini mulai diwujudkan menjadi sistem nyata yang berpotensi mengubah cara manusia membangun dan memelihara infrastruktur di luar angkasa.
