Adobe Luncurkan CX Enterprise, Platform AI untuk Bisnis Modern
- Rita Puspita Sari
- •
- 21 jam yang lalu
Ilustrasi Adobe
Adobe kembali memperkuat posisinya dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) untuk sektor bisnis dengan meluncurkan platform enterprise terbaru bernama CX Enterprise. Platform ini diperkenalkan dalam ajang Adobe Summit sebagai solusi baru untuk membantu perusahaan mengelola agen AI di berbagai alur kerja pemasaran, produksi konten, hingga keterlibatan pelanggan secara lebih terintegrasi.
Kehadiran CX Enterprise menjadi jawaban atas tantangan besar yang selama ini dihadapi banyak perusahaan, yakni data yang tersebar di berbagai sistem, kurangnya sinkronisasi antar alat kerja, serta sulitnya mengelola implementasi AI dalam skala besar. Adobe menilai bahwa tanpa integrasi yang kuat, penggunaan AI justru berpotensi menambah kompleksitas baru di lingkungan bisnis modern.
Melalui CX Enterprise, Adobe ingin menyatukan seluruh proses tersebut dalam satu ekosistem yang mampu menghubungkan agen AI, data perusahaan, serta aplikasi eksternal melalui teknologi yang disebut reusable agent skills dan integration endpoints. Dengan pendekatan ini, para pengembang dapat merancang, mengatur, dan mengelola alur kerja lintas sistem secara lebih efisien dan terukur.
Adobe menjelaskan bahwa platform ini dibangun untuk mendukung seluruh siklus hidup pelanggan, mulai dari proses akuisisi pelanggan baru hingga menjaga loyalitas pelanggan lama. Semua itu dilakukan dengan tetap memperhatikan tata kelola data, standar merek, serta kepatuhan terhadap regulasi perusahaan.
Secara teknis, CX Enterprise menggabungkan agen AI, reusable agent skills, dan endpoint berbasis Model Context Protocol (MCP) dalam satu lapisan tata kelola dan kecerdasan. Model ini memungkinkan AI bekerja tidak hanya sebagai alat otomatisasi, tetapi juga sebagai sistem yang mampu mengambil keputusan berdasarkan konteks bisnis yang nyata.
Adobe menyebutkan bahwa hambatan terbesar dalam memperluas penggunaan AI saat ini bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada kualitas data dan keterhubungan antar sistem. Dalam survei terhadap 3.000 eksekutif yang dilakukan perusahaan, hanya 43 persen responden yang merasa kualitas dan aksesibilitas data mereka sudah cukup baik untuk mendukung implementasi AI secara optimal.
Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak organisasi yang belum siap sepenuhnya untuk memanfaatkan AI secara maksimal. Data yang tersebar di banyak tempat dan sistem yang berjalan sendiri-sendiri membuat AI sulit menghasilkan keputusan yang akurat dan relevan.
Platform ini dibangun di atas Adobe Experience Platform, yaitu fondasi data pelanggan milik Adobe yang disebut mampu mendukung lebih dari 1 triliun pengalaman pelanggan setiap tahunnya. Lapisan data ini menjadi sumber konteks utama bagi agen AI yang bekerja di dalam CX Enterprise. Dengan data yang terhubung secara menyeluruh, AI dapat memahami perilaku pelanggan dengan lebih baik dan memberikan respons yang lebih tepat sasaran.
Dua Sistem Inti untuk Pengambilan Keputusan
Dalam CX Enterprise, Adobe juga memperkenalkan dua sistem utama yang menjadi pusat kecerdasan platform ini, yaitu Brand Intelligence System dan Engagement Intelligence System.
Brand Intelligence System berfungsi menangkap berbagai masukan spesifik terkait merek, seperti umpan balik pelanggan, aset yang ditolak, revisi konten, hingga anotasi dari tim kreatif. Informasi tersebut kemudian digunakan sebagai konteks tambahan agar AI dapat menghasilkan konten yang lebih sesuai dengan identitas dan standar merek perusahaan.
Sementara itu, Engagement Intelligence System bertindak sebagai mesin pengambilan keputusan yang menentukan tindakan terbaik berdasarkan customer lifetime value atau nilai pelanggan jangka panjang, serta tujuan bisnis yang telah ditetapkan perusahaan. Sistem ini membantu perusahaan menentukan strategi paling efektif untuk mempertahankan maupun meningkatkan hubungan dengan pelanggan.
Adobe menyebut kedua sistem ini sebagai fondasi bersama yang dapat digunakan oleh banyak agen AI dalam berbagai proses bisnis. Dengan logika keputusan yang sama, koordinasi antar agen menjadi lebih konsisten dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
CX Enterprise Coworker, “Rekan Kerja” untuk Banyak Agen AI
Selain dua sistem inti tersebut, Adobe juga menghadirkan komponen bernama CX Enterprise Coworker. Komponen ini berfungsi sebagai lapisan koordinasi yang mengatur kerja banyak agen AI sekaligus.
Coworker bekerja dengan menerjemahkan tujuan bisnis menjadi serangkaian tindakan otomatis, seperti segmentasi audiens, pembuatan konten pemasaran, distribusi kampanye, hingga pemantauan performa secara real-time. Seluruh proses tetap dilengkapi dengan pengawasan manusia serta jejak audit yang jelas agar perusahaan dapat memantau setiap keputusan yang diambil AI.
Sebagai contoh, ketika perusahaan ingin menjalankan kampanye pemasaran baru, sistem dapat secara otomatis mengumpulkan data audiens yang relevan, membuat aset konten, menyesuaikan pesan kampanye, hingga memantau hasil performanya. Semua proses ini berjalan secara terkoordinasi tanpa harus berpindah antar banyak platform berbeda.
Dalam survei yang sama, sebanyak 78 persen eksekutif mengatakan mereka memperkirakan agen AI akan menangani setidaknya setengah dari interaksi dukungan pelanggan dalam 18 bulan ke depan. Namun menariknya, baru 16 persen organisasi yang benar-benar telah menerapkan AI agentic untuk customer support, sementara hanya 13 persen yang menggunakannya untuk kebutuhan discovery dan search.
Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara ekspektasi dan implementasi nyata di lapangan.
Terintegrasi dengan Banyak Platform Besar
Salah satu kekuatan utama CX Enterprise adalah kemampuannya untuk terhubung dengan banyak platform cloud dan alat bisnis populer. Adobe menyebut platform ini telah terintegrasi dengan layanan dari Amazon Web Services, Google Cloud, Microsoft, IBM, Nvidia, OpenAI, hingga Anthropic.
Dengan integrasi ini, perusahaan dapat menjalankan workflow lintas cloud, model AI, dan aplikasi enterprise tanpa harus membangun sistem dari nol. Adobe menilai pendekatan ini penting karena 75 persen organisasi masih menganggap kualitas data dan integrasi sebagai tantangan utama dalam memperluas sistem AI mereka.
CX Enterprise juga dapat berjalan di lingkungan seperti Microsoft 365 Copilot dan ChatGPT Enterprise. Artinya, agen AI milik Adobe dapat mengakses data perusahaan dan menghasilkan output langsung dari dalam aplikasi yang sudah digunakan sehari-hari oleh tim kerja.
GenStudio Juga Diperkuat AI
Selain CX Enterprise, Adobe turut memperbarui platform GenStudio dengan menghadirkan agen AI untuk otomatisasi perencanaan kampanye, produksi konten, hingga manajemen alur kerja. Sistem Brand Intelligence di dalam GenStudio juga memungkinkan AI menyesuaikan hasil kerja berdasarkan proses persetujuan dan umpan balik tim.
Adobe mengatakan pendekatan ini akan membantu tim kreatif bekerja lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas maupun konsistensi brand.
Saat ini, lebih dari 20.000 organisasi telah menggunakan alat customer experience milik Adobe. Perusahaan juga mencatat bahwa lalu lintas dari sistem AI ke situs ritel di Amerika Serikat meningkat hingga 269 persen dibanding tahun sebelumnya per Maret. Hal ini menunjukkan meningkatnya penggunaan pencarian berbasis AI dan antarmuka percakapan dalam aktivitas digital konsumen.
Menariknya, 70 persen konsumen juga mengharapkan interaksi berbasis AI terasa seperti berkomunikasi dengan manusia sungguhan. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi perusahaan untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih personal melalui teknologi AI.
Melalui CX Enterprise, Adobe ingin memastikan bahwa AI tidak hanya menjadi alat otomatisasi, tetapi benar-benar menjadi mitra kerja strategis dalam operasional bisnis modern. Dengan tata kelola yang kuat, audit yang jelas, dan integrasi yang luas, platform ini disiapkan untuk mendorong implementasi AI berbasis agen secara nyata di dunia enterprise.
