Oracle dan Bloom Energy Bangun Daya untuk Data Center AI


Ilustrasi Gedung Oracle

Ilustrasi Gedung Oracle

Pembangunan sistem AI yang berlangsung sangat cepat meningkatkan kebutuhan listrik pusat data, sekaligus menyoroti kendala yang kurang terlihat dalam cloud computing: akses terhadap pasokan listrik.

Kesepakatan terbaru antara Oracle dan Bloom Energy menunjukkan bahwa keduanya berencana memasang kapasitas fuel cell hingga 2,8 gigawatt (GW) untuk mendukung pertumbuhan pusat data, menurut pernyataan dari Bloom Energy.

Sistem AI mengonsumsi energi jauh lebih besar dibandingkan beban kerja komputasi tradisional. Pelatihan model (training) dan proses inferensi membutuhkan klaster GPU yang berjalan dalam waktu lama, sehingga penggunaan listrik meningkat dan kebutuhan pendinginan juga bertambah. Menurut Barron, Oracle bekerja sama dengan Bloom Energy untuk menerapkan fuel cell sebagai bagian dari strategi pusat datanya.

Perusahaan tersebut belum menjelaskan jadwal pasti penerapan proyek ini. International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa penggunaan listrik pusat data meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kebutuhan listrik secara keseluruhan dalam beberapa tahun terakhir.

Di beberapa wilayah Amerika Serikat dan Eropa, perusahaan utilitas telah memperingatkan bahwa mereka mungkin tidak mampu memenuhi permintaan dari proyek pusat data baru tanpa peningkatan infrastruktur. Keterlambatan koneksi ke jaringan listrik dapat memperlambat rencana ekspansi. Riset dari IEA dan Harvard’s Belfer Centre for Science and International Affairs menunjukkan bahwa jalur transmisi baru dan peningkatan gardu induk sering kali diperlukan sebelum tambahan beban listrik dapat disambungkan, dengan proses yang bisa memakan waktu hingga beberapa tahun.

Fuel cell dapat menyediakan pasokan listrik yang stabil dan dapat dipasang dalam unit modular. Laporan industri menunjukkan bahwa sistem modular memungkinkan operator menambah kapasitas secara bertahap seiring pembangunan pusat data. Solid oxide fuel cell, jenis yang diproduksi Bloom Energy, menghasilkan listrik melalui proses elektrokimia, bukan pembakaran.

Sistem ini biasanya mencapai efisiensi listrik sekitar 54% hingga 60%, sebanding dengan pembangkit listrik tenaga gas skala besar, sekaligus menghindari kehilangan daya dalam transmisi karena listrik diproduksi langsung di lokasi. Bloom Energy juga menyatakan bahwa konfigurasi combined heat and power dapat mendorong total efisiensi hingga lebih dari 80%.

Dalam banyak kasus, penyedia cloud kini bersaing untuk mendapatkan pasokan listrik sama seperti mereka bersaing mendapatkan perangkat keras. Akses terhadap listrik dapat memengaruhi lokasi pembangunan pusat data dan seberapa cepat fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi. Di beberapa pasar, ketersediaan listrik bahkan menjadi faktor utama dalam pemilihan lokasi, bersama dengan lahan dan konektivitas jaringan.

Pembangkit listrik di lokasi (on-site generation) kini semakin umum digunakan, begitu pula proyek energi terbarukan dan perjanjian pasokan listrik jangka panjang. Fuel cell menjadi salah satu pilihan. Beberapa perusahaan juga mulai menjajaki tenaga nuklir, sementara lainnya berinvestasi pada energi surya dan angin.

Pilihan bahan bakar memengaruhi biaya dan emisi. Sebagian besar penerapan fuel cell saat ini masih bergantung pada gas, sementara hidrogen masih berada pada tahap adopsi awal karena biaya yang lebih tinggi dan infrastruktur yang masih terbatas. Laporan hidrogen dari IEA mencatat bahwa keterbatasan pasokan dan infrastruktur masih menjadi hambatan utama untuk adopsi skala besar. Biaya juga berbeda-beda tergantung pada jenis bahan bakar dan struktur kontrak yang digunakan.

Penggunaan energi di pusat data juga menimbulkan kekhawatiran terhadap lingkungan, yang kemungkinan akan semakin besar jika beban kerja AI terus meningkat. Proyek energi terbarukan tetap menjadi bagian penting dari banyak strategi cloud. Perjanjian jangka panjang untuk tenaga surya dan angin sudah umum dilakukan, meskipun sumber energi ini sering kali kurang stabil dibandingkan pembangkitan listrik langsung di lokasi.

Pasokan listrik dasar yang andal dapat berasal dari fuel cell atau sumber stabil lainnya, sementara energi terbarukan dapat membantu mengurangi emisi secara bertahap.

Kapasitas komputasi memang masih penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang membatasi pertumbuhan. Pasokan energi kini muncul sebagai kendala utama. Dengan berinvestasi pada pembangkit listrik di lokasi, perusahaan-perusahaan tersebut sedang mengatasi masalah yang berada di luar arsitektur cloud tradisional.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait