Hong Kong Andalkan AI untuk Memburu Tikus, Begini Caranya


Ilustrasi AI Pembasmi Tikus

Ilustrasi AI Pembasmi Tikus

Hong Kong memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengatasi salah satu masalah perkotaan yang telah lama dikeluhkan warganya, yaitu populasi tikus yang terus meningkat. Berbeda dari pemanfaatan AI yang umumnya digunakan untuk chatbot, kendaraan otonom, atau analisis data bisnis, kali ini teknologi tersebut memiliki tugas yang tidak biasa, yakni memburu aktivitas tikus di berbagai sudut kota.

Pemerintah Hong Kong mulai menerapkan sistem pemantauan berbasis AI sejak 2024 sebagai bagian dari strategi pengendalian hama yang lebih modern dan berbasis data. Teknologi ini membantu petugas mengidentifikasi lokasi dengan aktivitas tikus paling tinggi sehingga proses penanganan dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat sasaran, dan efisien.

Pendekatan tersebut menjadi contoh bagaimana AI mulai dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari yang selama ini sulit diatasi dengan metode konvensional.

 

Kamera Termal dan AI Pantau Aktivitas Tikus Saat Malam Hari

Sistem pengawasan yang diterapkan Hong Kong mengandalkan kamera termal yang dipasang di sejumlah lokasi yang dianggap rawan menjadi habitat tikus. Kamera tersebut beroperasi sepanjang malam karena tikus merupakan hewan nokturnal yang paling aktif mencari makan ketika kondisi gelap.

Seluruh rekaman dari kamera kemudian diproses menggunakan algoritma kecerdasan buatan. AI akan menganalisis setiap gambar yang diperoleh untuk mendeteksi keberadaan tikus secara otomatis tanpa harus diperiksa satu per satu oleh petugas.

Melalui proses analisis tersebut, sistem menghasilkan sebuah indikator yang disebut Rodent Absence Rate (RAR) atau tingkat ketiadaan tikus.

RAR menjadi parameter utama dalam mengukur tingkat keberhasilan pengendalian hama di suatu wilayah. Nilai ini menunjukkan persentase gambar yang berhasil direkam kamera tetapi tidak memperlihatkan keberadaan tikus.

Semakin tinggi nilai RAR, berarti semakin sedikit aktivitas tikus yang ditemukan. Sebaliknya, jika nilai RAR rendah, maka wilayah tersebut masih memiliki populasi tikus yang cukup tinggi dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Dengan indikator tersebut, pemerintah tidak lagi mengandalkan laporan warga atau inspeksi manual semata, melainkan menggunakan data yang dikumpulkan secara terus-menerus untuk menentukan prioritas penanganan.

 

Hasil Pemantauan Tunjukkan Perbaikan di Sejumlah Kawasan

Menurut Departemen Kebersihan Lingkungan dan Pangan Hong Kong, implementasi sistem AI selama tahun lalu menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.

Data yang dihimpun sepanjang 2024 memperlihatkan bahwa sejumlah kawasan yang sebelumnya memiliki tingkat infestasi tikus tinggi kini mengalami peningkatan nilai RAR. Artinya, aktivitas tikus di lokasi tersebut mulai berkurang setelah dilakukan berbagai langkah pengendalian.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya selesai.

Masih terdapat puluhan titik pemantauan yang mencatat nilai RAR di bawah 80 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa lebih dari satu dari lima gambar yang diambil kamera masih memperlihatkan keberadaan tikus.

Angka tersebut menjadi sinyal bahwa populasi tikus di beberapa wilayah masih cukup tinggi sehingga memerlukan tindakan tambahan, baik melalui pengendalian langsung maupun peningkatan kebersihan lingkungan.

Keberadaan data yang diperoleh AI memungkinkan pemerintah mengetahui lokasi yang benar-benar membutuhkan perhatian tanpa harus menyebarkan sumber daya secara merata ke seluruh wilayah kota.

 

AI Membantu, Tetapi Tidak Bisa Menjadi Solusi Tunggal

Meski memberikan banyak keuntungan dalam proses pemantauan, para ahli mengingatkan bahwa AI bukanlah solusi yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan terkait populasi tikus. Teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mengumpulkan dan menganalisis data secara lebih cepat. Keputusan pengendalian tetap membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.

Pakar tikus perkotaan asal New York, Bobby Corrigan, menjelaskan bahwa pengendalian populasi tikus harus mempertimbangkan berbagai faktor lain selain jumlah hewan yang terlihat di permukaan. Menurutnya, tim pengendalian perlu mengukur ketersediaan sumber makanan, menghitung jumlah liang atau sarang tikus, serta mengevaluasi kondisi lingkungan secara keseluruhan.

Seluruh informasi tersebut kemudian digabungkan agar menghasilkan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi populasi tikus di suatu kawasan. Pendekatan seperti ini dinilai jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan satu indikator, termasuk hasil analisis AI.

 

Tikus Jadi Indikator Kebersihan Kota

Corrigan juga menilai bahwa keberadaan tikus sebenarnya merupakan cerminan kondisi kebersihan lingkungan. Semakin banyak tikus yang ditemukan, semakin besar kemungkinan terdapat sampah, sisa makanan, atau lingkungan yang kurang terawat sehingga menyediakan habitat ideal bagi hewan pengerat tersebut.

Dengan kata lain, meningkatnya populasi tikus bukan hanya persoalan hama, tetapi juga menunjukkan adanya masalah dalam pengelolaan kebersihan kota. Oleh karena itu, pengendalian tikus tidak cukup hanya dengan memasang perangkap atau melakukan pembasmian secara berkala.

Perbaikan sistem pengelolaan sampah, kebersihan saluran air, serta pengurangan sumber makanan menjadi langkah penting agar populasi tikus tidak kembali meningkat.

 

Membasmi Tikus Hingga Habis Dinilai Hampir Mustahil

Para ahli juga mengingatkan bahwa menghilangkan seluruh populasi tikus dari Hong Kong merupakan target yang sangat sulit dicapai.

Salah satu penyebab utamanya adalah keberadaan jaringan saluran air dan sistem pembuangan bawah tanah yang sangat luas. Area tersebut menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi tikus sekaligus sulit dijangkau oleh petugas.

Akibatnya, jumlah populasi tikus sebenarnya sulit dihitung secara pasti karena sebagian besar hidup di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat program pengendalian lebih berfokus pada menekan populasi hingga berada pada tingkat yang terkendali, bukan menghilangkannya sepenuhnya.

 

Kombinasi Teknologi dan Kesadaran Masyarakat Jadi Kunci

Penerapan AI di Hong Kong menunjukkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam pengelolaan kota. Dengan bantuan kamera termal dan analisis AI, pemerintah dapat mengetahui lokasi yang paling membutuhkan intervensi sehingga penggunaan tenaga, waktu, dan anggaran menjadi lebih efisien.

Namun, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kolaborasi antara teknologi, pemerintah, dan masyarakat.

Warga memiliki peran penting dengan menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi sisa makanan yang dapat menarik tikus, serta melaporkan lokasi yang berpotensi menjadi sarang hewan pengerat.

Pengalaman Hong Kong menunjukkan bahwa kecerdasan buatan memang mampu meningkatkan efektivitas pemantauan dan pengendalian hama. Akan tetapi, AI bukanlah jawaban tunggal. Teknologi hanya menjadi salah satu alat pendukung, sementara perubahan perilaku masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang baik tetap menjadi faktor utama dalam mengurangi populasi tikus secara berkelanjutan.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait