AI Jadi Andalan, Google DeepMind Dukung Misi Sains Nasional AS
- Rita Puspita Sari
- •
- 2 hari yang lalu
Ilustrasi Riset Ilmiah
Perkembangan Artificial Intellligence (AI) kini memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar alat bantu teknologi, AI mulai diposisikan sebagai mitra strategis dalam riset ilmiah berskala nasional. Hal inilah yang mendorong Google DeepMind untuk mendukung Genesis Mission, sebuah misi nasional Amerika Serikat yang digagas Gedung Putih guna mempercepat inovasi dan penemuan ilmiah melalui pemanfaatan AI canggih.
Genesis Mission menjadi tonggak penting dalam sejarah riset Amerika Serikat. Program ini dirancang untuk mengubah cara penelitian ilmiah dilakukan, dari yang sebelumnya memakan waktu bertahun-tahun menjadi lebih cepat, efisien, dan terintegrasi. Melalui misi ini, 17 Laboratorium Nasional di bawah Departemen Energi Amerika Serikat (Department of Energy/DOE) akan digerakkan bersama industri dan kalangan akademisi untuk membangun sebuah platform penemuan terpadu.
Tujuan besarnya adalah mempercepat terobosan di berbagai bidang strategis yang menjadi tantangan utama dunia saat ini, mulai dari energi bersih, penemuan ilmiah fundamental, hingga keamanan nasional. Pemerintah AS menilai bahwa tanpa lompatan teknologi berbasis AI, banyak tantangan global tersebut akan sulit diatasi dalam waktu dekat.
AI dan Sains di Titik Balik Sejarah
Google DeepMind menilai dunia saat ini berada di titik balik penting, di mana konvergensi antara AI canggih dan sains modern berpotensi membuka “era keemasan” baru dalam penemuan ilmiah. Para ilmuwan kini dihadapkan pada tantangan riset dengan skala dan kompleksitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam dunia energi, misalnya, para peneliti harus memodelkan dinamika plasma fusi yang sangat rumit. Di bidang material, ilmuwan dihadapkan pada ruang pencarian material baru yang hampir tak terbatas. Sementara itu, di hampir semua disiplin ilmu, volume data dan literatur ilmiah terus bertambah secara eksponensial, membuat proses analisis menjadi semakin berat.
Menurut Google DeepMind, metode deep learning modern sangat cocok untuk menjawab tantangan tersebut. AI mampu menyaring, menganalisis, dan mensintesis informasi dalam jumlah masif dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan manusia. Dengan demikian, waktu yang biasanya dibutuhkan untuk menghasilkan penemuan baru dapat dipangkas secara signifikan.
Kemitraan Strategis Google dan Departemen Energi AS
Untuk mewujudkan visi besar Genesis Mission, Google DeepMind menjalin kemitraan strategis dengan Departemen Energi AS. Kerja sama ini sejalan dengan tujuan pemerintah Amerika Serikat untuk memanfaatkan revolusi AI dan komputasi canggih guna meningkatkan produktivitas dan dampak riset nasional secara drastis dalam satu dekade ke depan.
Google DeepMind memandang kolaborasi ini bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan awal dari kemitraan jangka panjang di bidang AI untuk Sains. Ke depan, kerja sama ini diharapkan terus berkembang dan melahirkan terobosan-terobosan baru yang berdampak luas, tidak hanya bagi Amerika Serikat tetapi juga dunia.
AI Canggih Langsung di Tangan Ilmuwan
Salah satu langkah konkret dari dukungan ini adalah penyediaan program akses dipercepat ke teknologi AI terdepan bagi para ilmuwan di seluruh 17 Laboratorium Nasional DOE. Program ini dimulai dengan peluncuran AI co-scientist yang tersedia melalui Google Cloud.
AI co-scientist merupakan kolaborator ilmiah virtual berbasis multi-agen yang dibangun di atas model Gemini dan dilatih menggunakan TPU (Tensor Processing Unit) kelas dunia milik Google. Sistem ini dirancang untuk membantu ilmuwan menyintesis informasi dalam jumlah besar, menyusun hipotesis baru, serta merancang proposal penelitian dengan lebih cepat dan akurat.
Dalam praktiknya, AI co-scientist telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, khususnya di bidang biomedis. Sistem ini berhasil mengusulkan kandidat penggunaan ulang obat untuk penyakit fibrosis hati yang kemudian terbukti valid melalui eksperimen laboratorium. Selain itu, AI ini juga mampu memprediksi mekanisme resistansi antimikroba yang kompleks, bahkan sebelum hasil eksperimennya dipublikasikan.
Temuan tersebut menunjukkan potensi besar AI dalam mempercepat pengembangan hipotesis ilmiah, dari yang sebelumnya memakan waktu bertahun-tahun menjadi hanya hitungan hari. Tak hanya biomedis, AI co-scientist juga mulai menunjukkan kinerja positif di bidang fisika, kimia, ilmu komputer, dan disiplin ilmu lainnya.
Perluasan Teknologi AI pada 2026
Google DeepMind berencana memperluas program akses dipercepat ini pada awal 2026 dengan menghadirkan sejumlah model AI canggih lainnya. Salah satunya adalah AlphaEvolve, agen pemrograman berbasis Gemini yang dirancang untuk menciptakan algoritma tingkat lanjut.
AlphaEvolve telah menunjukkan kemampuannya dalam meningkatkan efisiensi pusat data Google, desain chip, serta proses pelatihan AI. Ke depan, teknologi ini diyakini dapat membawa dampak besar di bidang ilmu material, penemuan obat, hingga energi.
Selain itu, Google juga menghadirkan AlphaGenome, model AI yang berfokus pada pemahaman bagian DNA non-koding. Model ini diharapkan mampu mempercepat riset biologi genom dan meningkatkan pemahaman terhadap berbagai penyakit. Dengan pengayaan data genom tanaman, AlphaGenome bahkan berpotensi mendukung pengembangan tanaman tahan iklim, biofuel berkelanjutan, dan biomaterial canggih.
Di sektor kebencanaan, Google DeepMind menyediakan WeatherNext, keluarga model prakiraan cuaca mutakhir. Melalui kerja sama dengan Pusat Badai Nasional AS, teknologi ini telah membantu meningkatkan akurasi prakiraan dan peringatan siklon, sehingga masyarakat dapat bersiap lebih dini menghadapi bencana.
Tak ketinggalan, DOE dan seluruh Laboratorium Nasional juga mendapatkan akses ke Gemini for Government, platform yang menggabungkan cloud Google yang telah terakreditasi dengan model Gemini terbaru, termasuk Gemini 3 yang memiliki kemampuan penalaran dan pemahaman multimodal tingkat lanjut.
Fondasi Kolaborasi Ilmiah yang Kuat
Kolaborasi antara Google DeepMind dan Laboratorium Nasional AS bukanlah hal baru. Salah satu contoh suksesnya adalah kontribusi Brookhaven National Laboratory dalam pengembangan Protein Data Bank, yang menjadi fondasi bagi terciptanya AlphaFold.
AlphaFold, sistem AI yang mampu memprediksi struktur tiga dimensi protein, telah merevolusi dunia biologi struktural. Atas pengembangan teknologi ini, Demis Hassabis dan John Jumper dianugerahi Penghargaan Nobel Kimia 2024. Basis data AlphaFold kini digunakan oleh lebih dari tiga juta ilmuwan di lebih dari 190 negara, mendukung riset mulai dari vaksin malaria hingga terapi gen mutakhir.
Menatap Masa Depan
Melalui Genesis Mission, Google DeepMind dan pemerintah Amerika Serikat optimistis dapat memperkuat kepemimpinan ilmiah nasional. Kolaborasi riset ke depan akan difokuskan pada bidang-bidang strategis seperti energi fusi, penemuan material baru, dan ilmu kebumian.
Di tengah tantangan global yang kian kompleks pendekatan inovatif berbasis AI dinilai menjadi kunci. Dengan menggabungkan kecerdasan manusia dan kemampuan AI canggih, para ilmuwan kini memiliki peluang untuk mencapai penemuan-penemuan yang hingga beberapa tahun lalu dianggap mustahil.
