DeepMind Gandeng 15 Mitra Perkuat Keamanan AI di Bidang Biologi


Ilustrasi Teknologi AI dalam Industri Kesehatan

Ilustrasi Teknologi AI dalam Industri Kesehatan

Penggunaan AI di bidang biologi berkembang sangat pesat dan membuka peluang besar bagi dunia kesehatan, mulai dari mempercepat penemuan obat hingga pengembangan vaksin. Namun, kemajuan tersebut juga memunculkan tantangan baru terkait potensi penyalahgunaan teknologi. Menyadari risiko tersebut, Google DeepMind bersama Isomorphic Labs meluncurkan program AI Bioresilience, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memastikan kecerdasan buatan dimanfaatkan secara bertanggung jawab sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman biologis.

Google DeepMind Luncurkan Program AI Bioresilience, Cegah Penyalahgunaan AI di Bidang Biologi
Google DeepMind bersama Isomorphic Labs memperkenalkan program AI Bioresilience sebagai upaya memperkuat keamanan penggunaan Artificial Intelligence (AI) di bidang biologi. Program ini bertujuan mengurangi risiko penyalahgunaan AI sekaligus memanfaatkan teknologi tersebut untuk mempercepat deteksi dan penanganan wabah penyakit di masa depan.

Inisiatif ini menjadi perhatian karena hadir di tengah pesatnya perkembangan model AI generatif yang semakin mampu memahami ilmu biologi secara mendalam. Dalam pembaruan terbaru, DeepMind mengungkapkan bahwa selama 12 bulan terakhir mereka telah membangun lebih dari 15 kemitraan dengan lembaga pemerintah, organisasi biosekuriti, laboratorium penelitian, hingga institusi ilmiah guna memperkuat ekosistem keamanan biologis berbasis AI.

Menurut DeepMind, kemampuan AI modern seperti Gemini terus berkembang pesat. Ketika dipadukan dengan model AI khusus biologi, agen AI seperti Antigravity, serta berbagai basis data ilmiah, teknologi tersebut dapat membantu para peneliti melakukan analisis biologis yang sebelumnya membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Namun, kemampuan yang sama juga dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memahami karakteristik patogen atau mencari celah dalam sistem keamanan biologis. Oleh karena itu, perusahaan menilai pengembangan AI harus berjalan seiring dengan peningkatan sistem pengamanan.

 

Tiga Pilar AI Bioresilience

Program AI Bioresilience dibangun di atas tiga pilar utama yang saling melengkapi, yakni mencegah penyalahgunaan AI, mempercepat deteksi wabah penyakit, serta meningkatkan kemampuan merespons wabah maupun ancaman biologis ketika sudah terjadi.

Lebih dari 15 kolaborasi yang telah dijalin selama setahun terakhir mendukung ketiga pilar tersebut. Beberapa mitra yang telah diumumkan antara lain Lawrence Livermore National Laboratory, UK AI Security Institute, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), dan Francis Crick Institute.

Dalam enam hingga dua belas bulan ke depan, DeepMind berencana memperluas kerja sama tersebut dengan fokus pada pengembangan intelijen ancaman biologis, metode evaluasi keamanan agen AI, hingga teknik mitigasi terhadap serangan jailbreak yang berupaya mengakali sistem keamanan model AI.

Selain itu, perusahaan juga bekerja sama dengan Frontier Model Forum untuk membahas pengelolaan data pelatihan AI yang berisiko tinggi, termasuk dataset virologi yang memerlukan pengawasan lebih ketat.

 

Menjaga Gemini Tetap Aman Tanpa Menghambat Riset

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan AI adalah memastikan model tetap aman tanpa mengurangi manfaatnya bagi penelitian ilmiah. 

Untuk itu, DeepMind menerapkan pendekatan threat modeling, yaitu metode untuk memetakan siapa saja yang berpotensi menyalahgunakan AI serta hambatan apa yang masih menghalangi mereka.

Perusahaan kemudian melakukan pengujian melalui kombinasi red teaming yang melibatkan para ahli keamanan serta randomized controlled trials untuk mengevaluasi apakah Gemini mampu membantu seseorang melewati hambatan tersebut.

Setelah proses pelatihan selesai, Gemini juga diberikan penyempurnaan tambahan melalui teknik post-training agar mampu menolak permintaan yang berbahaya, namun tetap memberikan jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang sah.

Menurut DeepMind, menjaga keseimbangan antara keamanan dan keterbukaan ilmiah bukanlah pekerjaan mudah. Jika model terlalu ketat, peneliti dapat kesulitan memperoleh informasi yang dibutuhkan. Sebaliknya, jika terlalu longgar, AI berpotensi dimanfaatkan untuk tujuan yang merugikan.

Sebagai lapisan perlindungan tambahan, perusahaan memasang berbagai sistem klasifikasi otomatis dan alat pemantauan yang mampu mendeteksi aktivitas berisiko secara real time. Analisis log penggunaan juga dilakukan untuk menemukan pola penyalahgunaan yang mungkin tidak terdeteksi oleh sistem otomatis.

Meski demikian, DeepMind menegaskan bahwa seluruh mekanisme keamanan tersebut masih terus dikembangkan. Perusahaan tidak mengklaim sistemnya sudah mampu menghadapi seluruh bentuk serangan baru yang mungkin muncul di masa depan.

 

AI Memunculkan Tantangan Baru pada Sintesis DNA

Salah satu perhatian utama dalam program AI Bioresilience adalah perkembangan teknologi sintesis DNA. Saat ini perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam International Gene Synthesis Consortium (IGSC) telah menerapkan proses penyaringan terhadap pesanan sintesis DNA menggunakan daftar patogen dan racun berbahaya beserta algoritma pendeteksi.

Namun DeepMind menilai pendekatan tersebut mulai menghadapi tantangan baru. AI kini mampu membantu merancang urutan DNA yang memiliki fungsi biologis menyerupai patogen berbahaya, tetapi cukup berbeda sehingga tidak dikenali oleh sistem penyaringan yang selama ini digunakan.

Untuk mengatasi potensi tersebut, DeepMind sedang mengeksplorasi pemanfaatan teknologi SynthID, sistem watermark AI yang sebelumnya digunakan untuk menandai gambar dan teks hasil AI.

Ke depan, perusahaan berharap teknologi serupa dapat diterapkan pada urutan DNA sehingga asal-usul desain biologis berbasis AI dapat lebih mudah ditelusuri.

Selain itu, DeepMind juga ingin mengembangkan sistem yang mampu memprediksi apakah suatu urutan DNA baru berpotensi berbahaya berdasarkan fungsi biologisnya, bukan sekadar kemiripan dengan data yang telah tersedia. Meski demikian, perusahaan mengakui bahwa teknologi tersebut masih berada pada tahap penelitian dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut.

 

Mempercepat Deteksi Wabah Melalui Metagenomic Sequencing

Pilar kedua program AI Bioresilience berfokus pada percepatan deteksi wabah penyakit menggunakan teknologi metagenomic sequencing. Berbeda dengan metode diagnostik konvensional yang hanya mencari patogen tertentu, teknologi ini mampu mengidentifikasi seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam suatu sampel secara bersamaan.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dalam menemukan ancaman biologis baru yang sebelumnya belum dikenal. Kendala terbesar saat ini adalah biaya sequencing yang masih relatif mahal.

Karena itu, DeepMind bekerja sama dengan Google dan Pacific Biosciences untuk meningkatkan akurasi sequencing melalui agen AI AlphaEvolve sekaligus mencari cara menekan biaya proses tersebut.

Perusahaan juga mengeksplorasi berbagai peluang lain, mulai dari optimalisasi algoritma pemrosesan data genom hingga pemanfaatan AI AlphaGenome untuk membantu mengidentifikasi patogen secara langsung dari data genom. Walaupun hasil awal cukup menjanjikan, seluruh proyek tersebut masih berada pada tahap penelitian sehingga belum diterapkan sebagai sistem deteksi wabah dalam skala luas.

 

AlphaFold Diperluas untuk Pengembangan Obat dan Vaksin

Pilar terakhir AI Bioresilience difokuskan pada percepatan pengembangan diagnosis, vaksin, antibodi, dan terapi penyakit menular. DeepMind mengungkapkan bahwa selama lima tahun terakhir, AlphaFold telah digunakan dalam lebih dari 10.000 publikasi ilmiah yang membahas berbagai penyakit infeksi, termasuk tuberkulosis, malaria, Mpox, dan Nipah.

Kolaborasi terbaru dilakukan bersama Lawrence Livermore National Laboratory untuk memanfaatkan AlphaFold 3 dalam merancang antibodi spektrum luas yang mampu melawan berbagai virus dari keluarga filovirus.

Selain itu, DeepMind akan terus memperbarui AlphaFold Protein Structure Database dengan struktur protein baru yang relevan untuk pengembangan vaksin dan terapi. Perusahaan juga mulai memberikan akses terhadap agen AI Co-Scientist kepada sejumlah peneliti di laboratorium nasional Amerika Serikat yang tergabung dalam program Genesis Mission.

Sementara itu, Isomorphic Labs membentuk unit khusus yang bertugas mengerahkan teknologi AI pengembangan obat secara cepat apabila muncul wabah penyakit baru. Unit ini akan bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian dan pemerintah, termasuk Lawrence Livermore National Laboratory, UK AI Security Institute, CEPI, dan Francis Crick Institute.

Tak hanya itu, Isomorphic Labs juga mengumumkan pendanaan sebesar US$7 juta bagi program Health for Human Potential di bawah Philanthropy Asia Alliance guna mendukung penelitian penyakit menular di kawasan Asia.

 

Dorong Regulasi AI dan Biosekuriti

Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, DeepMind juga menyampaikan sejumlah rekomendasi kebijakan kepada pemerintah Amerika Serikat. Perusahaan mendorong pembentukan kerangka regulasi nasional mengenai keamanan AI tingkat lanjut, penerapan standar data biologi yang siap digunakan AI, kewajiban penyaringan sintesis DNA, serta berbagai regulasi biosekuriti lainnya.

Di sisi deteksi wabah, DeepMind mengusulkan perluasan penggunaan metagenomic sequencing di pusat transportasi dan wilayah berpenduduk padat agar sistem peringatan dini dapat bekerja lebih efektif.

Sementara pada aspek respons, perusahaan mengusulkan pembangunan jaringan data biologis nasional, peningkatan kapasitas produksi yang siap diaktifkan saat keadaan darurat, pembentukan jaringan uji klinis yang telah dipersiapkan sebelumnya, serta percepatan jalur regulasi bagi pengembangan vaksin, obat, dan diagnosis penyakit.

Meskipun sebagian besar usulan tersebut masih berupa rancangan kebijakan dan belum disahkan menjadi undang-undang, langkah Google DeepMind menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan kemampuan model semata. Ke depan, aspek keamanan, biosekuriti, dan tata kelola teknologi diperkirakan akan menjadi bagian yang sama pentingnya dengan inovasi AI itu sendiri, terutama ketika teknologi tersebut semakin berperan dalam penelitian biologi dan kesehatan global.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait