Dataiku Ungkap Rahasia Sukses AI untuk Perusahaan Modern
- Rita Puspita Sari
- •
- 6 jam yang lalu
Randy Goh Area Vice President Dataiku
Di tengah semakin besarnya ketergantungan perusahaan terhadap data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kebutuhan akan arsitektur data yang modern, aman, dan berkelanjutan menjadi semakin mendesak. Tidak hanya sektor swasta, pemerintah hingga industri jasa keuangan kini dituntut mampu membangun fondasi AI yang benar-benar siap digunakan dalam skala besar.
Hal tersebut disampaikan Randy Goh, Area Vice President perusahaan teknologi Dataiku, dalam ajang Cloud Computing Indonesia Conference 2026. Menurutnya, banyak perusahaan saat ini sudah mengadopsi AI, tetapi belum semuanya mampu menghasilkan dampak bisnis yang nyata.
Mengacu pada laporan McKinsey & Company pada Desember 2025, sebanyak 88 persen perusahaan global telah menggunakan AI dalam berbagai aktivitas bisnisnya. Sementara itu, Accenture menyebutkan bahwa AI canggih kini telah tertanam di hampir seluruh lini operasional perusahaan.
Artinya, AI kini bukan lagi sekadar teknologi tambahan, melainkan sudah menjadi bagian dari proses bisnis sehari-hari. Mulai dari analitik data, layanan pelanggan, pengelolaan risiko, hingga pengambilan keputusan strategis, semuanya semakin bergantung pada kecerdasan buatan.
Namun, meskipun AI hadir di mana-mana, hasilnya belum selalu sesuai harapan.
Banyak Proyek AI Berhenti di Tahap Uji Coba
Randy menyoroti masih banyak perusahaan yang menghadapi persoalan serupa dalam implementasi AI. Salah satunya adalah proyek percontohan atau pilot project yang tidak pernah benar-benar diterapkan secara penuh.
“Banyak organisasi sudah memulai berbagai use case AI dan generative AI, tetapi sering kali berhenti di tahap eksperimen,” ujarnya.
Masalah lain yang juga kerap muncul adalah biaya investasi AI yang terus meningkat, sementara hasil bisnis atau return on investment (ROI) belum terlihat jelas. Selain itu, tingkat kepercayaan terhadap hasil keluaran AI juga masih terbatas, terutama ketika sistem belum memiliki tata kelola yang kuat.
Menurut Randy, kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan AI tidak cukup hanya dengan membeli teknologi terbaru. Ada fondasi yang harus dibangun lebih dulu agar AI benar-benar bisa bekerja secara optimal.
Fondasi Penting untuk AI
Menurut Randy, keberhasilan AI sangat bergantung pada fondasi teknologi yang kuat. Infrastruktur yang digunakan harus mampu diskalakan (scalable) seiring pertumbuhan kebutuhan bisnis, sekaligus memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan (resilient).
Selain itu, perusahaan juga harus memiliki platform data modern seperti data lake, data warehouse, serta pipeline data real-time. Infrastruktur ini memungkinkan pengolahan data dalam jumlah besar secara cepat dan efisien.
Namun, memiliki fondasi teknologi saja belum menjamin keberhasilan AI.
“Banyak organisasi sudah memiliki kemampuan teknis, tetapi belum mampu mengorkestrasi seluruh inisiatif AI dengan baik,” ujar Randy.
Orkestrasi Jadi Kunci
Saat ini, banyak perusahaan telah memulai berbagai inisiatif AI, mulai dari eksplorasi use case hingga implementasi generative AI (Gen AI). Meski demikian, tantangan utama terletak pada bagaimana semua inisiatif tersebut dapat berjalan secara terintegrasi.
Randy memperkenalkan rumus keberhasilan AI yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni People, Orchestration, dan Governance.
People merujuk pada keahlian sumber daya manusia yang terlibat dalam pengembangan dan implementasi AI. Orchestration adalah kemampuan sistem untuk menghubungkan berbagai proses dan teknologi AI dalam satu ekosistem. Sementara Governance berkaitan dengan tata kelola yang memastikan transparansi, keamanan, dan kepatuhan.
Ketiga elemen ini menjadi faktor pembeda antara perusahaan yang sekadar menggunakan AI dan perusahaan yang benar-benar memperoleh keunggulan kompetitif dari teknologi tersebut.
Dalam konteks ini, Dataiku hadir sebagai platform orkestrasi yang menghubungkan seluruh komponen AI dalam perusahaan. Platform ini memungkinkan kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari domain experts, tim data, hingga pengembang machine learning.
Dataiku juga mengintegrasikan berbagai teknologi seperti machine learning, large language model (LLM), hingga AI agents dalam satu sistem yang terpadu. Dengan demikian, perusahaan dapat mengelola seluruh lifecycle AI secara lebih efisien.

Studi Kasus: Transformasi AI di BNP Paribas
Keberhasilan pendekatan ini dapat dilihat dari kolaborasi antara BNP Paribas dan Dataiku dalam melakukan transformasi AI skala besar.
Dari sisi sumber daya manusia, jumlah pengguna bisnis meningkat drastis dari sekitar 150 orang menjadi lebih dari 1.000 pengguna yang tersebar di 35 unit bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa adopsi AI tidak lagi terbatas pada tim teknis, tetapi telah meluas ke berbagai fungsi organisasi.
Dalam hal orkestrasi, BNP Paribas berhasil memodernisasi proses persiapan data dan analitik dengan meninggalkan sistem lama (legacy systems). Sementara dari sisi governance, perusahaan mampu mengurangi praktik shadow IT dan menyatukan tata kelola AI serta analitik dalam satu kerangka kerja yang terintegrasi.
Hasilnya pun signifikan. Proses pelaporan yang sebelumnya memakan waktu lama kini dapat dihemat hingga tiga hari untuk setiap proses di 177 proyek berbeda. Selain itu, perusahaan mampu menjalankan hingga 30.000 skenario stress-testing otomatis setiap hari dengan audit penuh untuk memenuhi regulasi.
Tidak hanya itu, lebih dari 1.000 proyek AI di sektor retail banking berhasil dikembangkan untuk mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari pelaporan keuangan, analitik SDM, hingga analitik ESG dan customer journey.
Dalam kesempatan yang sama, Randy juga menyoroti peran HPE melalui solusi AI Factory yang dirancang sebagai mesin inovasi baru.
Platform ini menawarkan kemampuan AI yang siap digunakan (ready to run), didukung oleh software end-to-end, serta optimalisasi performa sistem. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mempercepat implementasi AI tanpa harus membangun semuanya dari nol.
AI yang Memberikan Dampak Nyata
Pada akhirnya, keberhasilan AI tidak hanya diukur dari seberapa banyak teknologi yang diadopsi, tetapi dari dampak nyata yang dihasilkan bagi bisnis.
Dataiku menekankan bahwa AI harus didukung oleh manusia yang kompeten, orkestrasi yang terintegrasi, serta tata kelola yang kuat dan transparan. Tanpa ketiga elemen tersebut, AI berisiko hanya menjadi proyek eksperimen tanpa hasil yang signifikan.
Dengan pendekatan yang tepat, AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga penggerak utama transformasi digital yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif di era ekonomi berbasis data.
