Mengenal AI Slop dan Dampaknya pada Kualitas Konten Digital


Ilustrasi AI Generative Image

Ilustrasi AI Generative Image

Belakangan ini, ruang digital terasa semakin padat oleh beragam konten yang sekilas tampak menarik, rapi, dan meyakinkan. Namun, ketika diamati lebih dalam, banyak di antaranya terasa hambar, janggal, atau bahkan menyesatkan. Mulai dari gambar manusia dengan jumlah jari yang tidak wajar, video pendek dengan alur cerita berulang, hingga tulisan panjang yang informatif di permukaan tetapi kosong makna. Fenomena inilah yang kini dikenal dengan istilah AI slop.

AI slop menjadi salah satu dampak tak terhindarkan dari pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif. Ketika alat AI semakin mudah diakses, murah, dan mampu memproduksi konten dalam skala besar, ruang digital pun dibanjiri materi yang dibuat bukan untuk kualitas, melainkan untuk kuantitas dan kecepatan. Lantas, apa sebenarnya AI slop, bagaimana ia bekerja, dan sejauh mana dampaknya terhadap kualitas konten digital yang kita konsumsi sehari-hari?

 

Mengenal Istilah AI Slop

Istilah AI slop merujuk pada konten buatan kecerdasan buatan dengan kualitas rendah hingga menengah yang diproduksi secara massal tanpa perhatian serius terhadap akurasi, orisinalitas, atau nilai informatif. Konten ini bisa berbentuk teks, gambar, audio, video, maupun gabungan dari semuanya. Meski tidak selalu salah secara teknis, AI slop umumnya dangkal, repetitif, dan dibuat sekadar “cukup layak” untuk menarik perhatian pengguna internet.

Menurut laporan yang dimuat di The Conversation, AI slop berkembang pesat karena didukung oleh ekosistem digital yang menekankan kecepatan, volume, dan metrik keterlibatan seperti jumlah klik, tayangan, serta durasi tonton. Dalam konteks ini, konten tidak lagi dinilai dari kualitas substansi, melainkan dari kemampuannya mempertahankan perhatian audiens selama mungkin.

Berbeda dengan konten kreatif berbasis AI yang dirancang dengan kurasi, penyuntingan, dan tujuan artistik atau edukatif yang jelas, AI slop diproduksi secara otomatis dan massal. Ia sering kali mengandalkan pola-pola yang sudah terbukti “laris”, lalu mengulanginya tanpa inovasi atau kedalaman.

 

Mengapa AI Slop Mudah Berkembang?

Ada beberapa faktor utama yang mendorong suburnya AI slop di ruang digital. Pertama adalah kemudahan akses teknologi AI. Saat ini, siapa pun dapat menggunakan generator teks, gambar, atau video berbasis AI tanpa perlu keahlian khusus. Dengan beberapa perintah sederhana, ribuan konten dapat dihasilkan dalam waktu singkat.

Kedua, model bisnis platform digital turut berperan besar. Media sosial, layanan streaming, dan platform berbagi video mengandalkan algoritma yang memprioritaskan keterlibatan pengguna. Selama sebuah konten mampu menarik klik, komentar, atau waktu tonton, algoritma cenderung mempromosikannya, terlepas dari kualitas atau nilai informatifnya.

Ketiga, biaya produksi yang sangat rendah. Dibandingkan dengan konten yang dibuat oleh manusia—yang membutuhkan riset, waktu, dan tenaga kreatif—AI slop hampir tidak memerlukan investasi besar. Hal ini membuatnya menjadi pilihan menarik bagi pihak-pihak yang ingin mengejar keuntungan cepat melalui monetisasi iklan atau afiliasi.

 

AI Slop Menguasai Berbagai Platform Digital

Fenomena AI slop tidak terbatas pada satu jenis platform. Ia menyebar luas ke hampir seluruh ekosistem media digital, mulai dari media sosial, layanan streaming, hingga platform referensi daring.

Analisis yang dimuat oleh The Guardian pada Juli 2025 menunjukkan bahwa AI slop mulai mendominasi kanal YouTube dengan pertumbuhan tercepat. Dari 100 kanal teratas dengan laju pertumbuhan paling signifikan, sembilan di antaranya diisi hampir sepenuhnya oleh konten buatan AI. Tema yang diangkat pun beragam, mulai dari video sepak bola dengan narasi zombie, cerita fiksi absurd tentang kucing, hingga rangkaian video motivasi dengan suara sintetis.

Secara visual, konten-konten ini tidak selalu buruk. Bahkan, sebagian tampak cukup profesional dan menarik. Namun, isinya cenderung repetitif, minim narasi bermakna, dan dibuat semata-mata untuk memancing rasa penasaran atau mempertahankan durasi tonton.

 

Merambah Dunia Musik Digital

AI slop juga mulai terasa dampaknya di industri musik digital. Pengguna layanan streaming seperti Spotify sempat dihebohkan oleh kemunculan band bernama The Velvet Sundown. Band ini memiliki profil lengkap, cerita latar yang meyakinkan, serta lagu-lagu yang terdengar familier dan nyaman di telinga.

Namun, belakangan terungkap bahwa The Velvet Sundown sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Musiknya dirancang agar “cukup enak didengar”, tanpa ciri khas artistik yang kuat. Inilah ciri khas AI slop dalam dunia musik: tidak buruk, tetapi juga tidak istimewa. Tujuannya sederhana, yakni membuat pendengar bertahan lebih lama agar metrik pemutaran meningkat.

Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan musisi manusia, karena konten musik buatan AI yang diproduksi massal berpotensi memenuhi daftar putar dan mengurangi eksposur karya orisinal.

 

Membebani Media Sastra dan Platform Referensi

Dampak AI slop tidak hanya dirasakan di ranah hiburan. Media sastra dan platform rujukan juga menghadapi tantangan serius. Majalah fiksi ilmiah daring Clarkesworld, misalnya, sempat menghentikan sementara penerimaan naskah karena kebanjiran kiriman cerita buatan AI. Banyak di antaranya memiliki struktur yang rapi, tetapi dangkal dan tidak orisinal.

Sementara itu, Wikipedia menghadapi lonjakan artikel dan suntingan berbasis AI berkualitas rendah. Konten semacam ini membebani sistem moderasi berbasis komunitas, karena membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk diverifikasi, diperbaiki, atau dihapus.

 

Dampak AI Slop terhadap Kualitas Ekosistem Media Digital

Dalam artikelnya di The Conversation, Adam Nemeroff, Assistant Provost for Innovations in Learning, Teaching, and Technology di Quinnipiac University, menilai AI slop sebagai tantangan serius bagi kualitas ekosistem media digital. Menurutnya, banjir konten berkualitas rendah dapat mengikis kepercayaan publik terhadap informasi digital secara keseluruhan.

Salah satu dampak paling berbahaya dari AI slop adalah peningkatan risiko misinformasi. Dalam situasi krisis, konten visual atau teks buatan AI yang tampak meyakinkan dapat dengan mudah menyesatkan publik. Contohnya terjadi saat Badai Helene melanda Amerika Serikat. Beredar gambar buatan AI yang menampilkan seorang anak kecil menggendong anak anjing, diklaim sebagai korban bencana.

Gambar tersebut digunakan untuk mendukung narasi politik tertentu. Meski sebagian pengguna menyadari bahwa visual itu buatan AI, banyak orang tetap tertipu hanya dengan melihatnya sekilas. Hal ini menunjukkan betapa efektifnya AI slop dalam memanipulasi persepsi, terutama ketika emosi publik sedang tinggi.

 

Menekan Kreator dan Pekerja Kreatif Manusia

Selain berdampak pada konsumen, AI slop juga memberikan tekanan besar pada para kreator manusia. Konten AI yang diproduksi secara massal dan murah sering kali tidak dibedakan secara jelas oleh algoritma platform. Akibatnya, karya seniman, penulis, jurnalis, dan musisi manusia harus bersaing dengan volume konten AI yang jauh lebih besar.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan insentif untuk menghasilkan karya berkualitas tinggi. Jika konten dangkal yang diproduksi secara otomatis lebih mudah mendapatkan perhatian dan pendapatan, ekosistem kreatif bisa kehilangan standar mutu yang selama ini dijaga.

Fenomena ini bahkan menjadi sorotan dalam acara Last Week Tonight with John Oliver, yang mengangkat bagaimana banjir konten AI berkontribusi pada degradasi kualitas lingkungan media dan melemahkan posisi pekerja kreatif.

 

Tantangan bagi Pengguna Internet

Bagi pengguna internet, maraknya AI slop berarti bertambahnya beban kognitif. Selain harus mewaspadai hoaks, deepfake, dan akun palsu, kini pengguna juga harus memilah konten AI yang tampak normal tetapi miskin substansi.

Tanpa literasi digital yang memadai, pengguna berisiko terjebak dalam konsumsi konten yang tidak memberikan nilai tambah, bahkan menyesatkan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas diskursus publik dan pemahaman masyarakat terhadap isu-isu penting.

 

Menuju Ruang Digital yang Lebih Sehat

Menghadapi maraknya AI slop, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Platform digital perlu meningkatkan transparansi dan tanggung jawab algoritma mereka. Kreator dan pengguna perlu meningkatkan literasi AI agar lebih kritis dalam memproduksi dan mengonsumsi konten. Sementara itu, regulator dan komunitas digital dapat berperan dalam menetapkan standar dan etika penggunaan AI.

AI pada dasarnya adalah alat. Ia dapat digunakan untuk memperkaya kreativitas dan memperluas akses informasi, atau sebaliknya, membanjiri ruang digital dengan konten dangkal. Pilihan ada pada cara manusia mengelola dan menggunakannya.

Di tengah derasnya arus AI slop, menjaga kualitas konten digital bukan lagi sekadar tugas kreator, melainkan tanggung jawab bersama demi ruang digital yang sehat, informatif, dan bermakna.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait