Setiaji: Masa Depan Healthcare Dibangun dari Kepercayaan dan Data
- Rita Puspita Sari
- •
- 2 hari yang lalu
Setiaji Direktur IT BPJS Kesehatan dalam Acara CIO Healthcare Summit 2026
Transformasi digital di sektor kesehatan tidak lagi sekadar berbicara mengenai adopsi aplikasi atau pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Di balik seluruh inovasi tersebut, terdapat satu fondasi yang menjadi penentu keberhasilannya, yakni kepercayaan. Tanpa kepercayaan masyarakat terhadap keamanan data dan kualitas layanan digital, transformasi kesehatan akan sulit memberikan dampak nyata.
Pesan tersebut menjadi sorotan utama yang disampaikan Direktur IT BPJS Kesehatan, Setiaji, saat menjadi pembicara dalam CIO Healthcare Summit 2026. Dalam paparannya, Setiaji menegaskan bahwa masa depan layanan kesehatan Indonesia harus dibangun di atas fondasi kepercayaan yang diperkuat oleh pengelolaan data yang aman, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta inovasi teknologi yang bertanggung jawab.
"Kepercayaan adalah mata air kehidupan. Tanpa kepercayaan semua runtuh. Data yang aman adalah fondasi, inovasi yang bertanggung jawab adalah masa depan," ujar Setiaji.
Menurutnya, transformasi digital di sektor kesehatan bukan hanya persoalan menghadirkan teknologi terbaru, tetapi bagaimana teknologi tersebut mampu meningkatkan kualitas pelayanan tanpa mengorbankan keamanan data maupun hak pasien.
Kepercayaan Menjadi Kunci Transformasi Digital Kesehatan
Setiaji menjelaskan bahwa keberhasilan digitalisasi layanan kesehatan sangat bergantung pada tingkat kepercayaan pasien, tenaga kesehatan, hingga masyarakat secara luas.
Ia menggambarkan adanya hubungan yang saling menguatkan antara kepercayaan dan pemanfaatan layanan digital. Ketika pasien percaya bahwa data kesehatannya terlindungi, mereka akan lebih bersedia menggunakan layanan digital dan membagikan informasi kesehatan yang diperlukan. Data yang semakin lengkap kemudian memungkinkan penyedia layanan memberikan pelayanan yang lebih akurat, cepat, dan personal.
Dari kondisi tersebut, kepercayaan publik akan terus tumbuh sehingga membentuk ekosistem kesehatan digital yang semakin kuat.
"Kepercayaan pasien menjadi pintu masuk bagi adopsi layanan digital. Ketika data dikelola secara aman, layanan menjadi lebih baik, dan pada akhirnya kepercayaan masyarakat akan terus meningkat," kata Setiaji.
Ia juga menegaskan bahwa masa depan layanan kesehatan Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya aplikasi yang digunakan rumah sakit atau fasilitas kesehatan.
"Masa depan layanan kesehatan Indonesia tidak dibangun atas banyaknya aplikasi, tetapi atas kepercayaan yang kita bangun bersama," tegasnya.
Fragmentasi Data Masih Menjadi Tantangan Besar
Meski transformasi digital terus berjalan, Setiaji menilai sektor kesehatan masih menghadapi tantangan serius berupa fragmentasi data.
Saat ini, data pasien masih tersebar di berbagai sistem yang tidak saling terhubung. Akibatnya, pasien sering kali harus mengisi data yang sama berulang kali setiap berpindah fasilitas kesehatan. Kondisi tersebut bukan hanya menyulitkan pasien, tetapi juga menghambat inovasi dan efektivitas pelayanan kesehatan.
Menurut Setiaji, fragmentasi data menciptakan tiga risiko utama, yakni risiko medis, operasional, dan reputasi.
Dari sisi medis, tenaga kesehatan berpotensi mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Riwayat alergi, penggunaan obat, maupun penyakit sebelumnya belum tentu dapat diakses ketika pasien berpindah fasilitas kesehatan. Hal ini meningkatkan risiko kesalahan pengobatan maupun komplikasi medis.
Sementara dari sisi operasional, tenaga kesehatan harus melakukan entri data secara manual berulang kali di berbagai sistem. Aktivitas administratif tersebut menghabiskan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk memberikan pelayanan kepada pasien.
Sedangkan dari sisi reputasi, pengalaman pasien menjadi kurang baik karena mereka harus terus mengulang informasi yang sama setiap kali menerima layanan kesehatan. Kondisi ini dapat menurunkan kepuasan sekaligus mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan nasional.
"Fragmentasi data bukan sekadar persoalan teknologi. Dampaknya menyentuh keselamatan pasien, efisiensi operasional, hingga kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan," jelas Setiaji.
Satu Ekosistem, Satu Data untuk Banyak Manfaat
Sebagai solusi, Setiaji mendorong terwujudnya ekosistem kesehatan nasional yang terintegrasi melalui konsep "One Ecosystem, One Data".
Dalam ekosistem tersebut, data pasien dapat digunakan secara aman dan terstandarisasi oleh berbagai fasilitas kesehatan sesuai kewenangan yang dimiliki. Dengan demikian, pasien tidak lagi harus mengulang proses administrasi maupun riwayat kesehatannya.
Ia menjelaskan bahwa integrasi data akan memberikan berbagai manfaat nyata.
Pertama, pengalaman pasien menjadi jauh lebih baik karena proses pelayanan berlangsung lebih cepat, personal, dan tanpa pengisian data berulang.
Kedua, keselamatan pasien meningkat karena tenaga medis memperoleh informasi klinis yang lengkap sehingga mampu mengambil keputusan secara lebih tepat.
Ketiga, efisiensi operasional juga meningkat melalui otomatisasi proses administrasi yang mampu menekan biaya sekaligus meningkatkan produktivitas tenaga kesehatan.
Selain itu, data yang terintegrasi juga menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan kesehatan, perencanaan layanan, hingga evaluasi program pemerintah secara lebih akurat.
"Data yang terintegrasi akan menghasilkan keputusan yang lebih baik, pelayanan yang lebih cepat, dan kebijakan kesehatan yang semakin tepat sasaran," ujar Setiaji.
Perlindungan Data Menjadi Pilar Utama
Dalam presentasinya, Setiaji menempatkan Data Protection sebagai pilar pertama transformasi kesehatan digital. Menurutnya, perlindungan data kesehatan merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia telah memiliki landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang menjadi dasar pengelolaan data secara aman dan bertanggung jawab. Setiaji menilai implementasi regulasi tersebut harus berjalan konsisten di seluruh ekosistem kesehatan.
"Data yang aman hari ini membangun kepercayaan untuk kesehatan Indonesia yang lebih baik di masa depan," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keamanan data bukan hanya tanggung jawab penyedia teknologi, melainkan seluruh institusi kesehatan yang mengelola informasi pasien.
AI Harus Membantu Dokter, Bukan Menggantikan
Selain perlindungan data, Setiaji juga menyoroti pentingnya penerapan Responsible AI sebagai pilar kedua transformasi digital. Menurutnya, AI memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, mulai dari membantu analisis data medis, mempercepat diagnosis, hingga meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit.
Namun, pemanfaatan AI harus dilakukan secara etis dengan mengedepankan transparansi, akuntabilitas, keadilan, serta keselamatan pasien. Setiaji menegaskan bahwa AI bukanlah pengganti dokter.
"AI dan dokter harus berkolaborasi, bukan saling menggantikan. Responsible AI memastikan inovasi berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keselamatan pasien," katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut penting agar perkembangan AI tetap memberikan manfaat nyata tanpa mengurangi peran tenaga kesehatan sebagai pengambil keputusan utama dalam pelayanan medis.
Inovasi Harus Berpusat pada Kebutuhan Pasien
Pilar ketiga yang disampaikan Setiaji adalah Healthcare Innovation, yakni inovasi yang berorientasi langsung pada kebutuhan pasien. Ia menekankan bahwa inovasi tidak boleh sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan harus memberikan dampak nyata terhadap mutu layanan, akses kesehatan, dan pengalaman pasien.
Menurutnya, setiap inovasi perlu memenuhi tiga prinsip utama, yaitu didorong oleh kebutuhan nyata masyarakat, berbasis data dan bukti ilmiah, serta terus diuji dan dievaluasi dampaknya secara berkelanjutan.
"Inovasi hari ini adalah investasi untuk kesehatan Indonesia yang lebih baik pada masa depan," ujarnya.

CIO Healthcare Berperan Sebagai Orkestrator Transformasi
Dalam kesempatan tersebut, Setiaji juga menggarisbawahi peran strategis para Chief Information Officer (CIO) di sektor kesehatan. Ia menyebut CIO bukan lagi sekadar pengelola infrastruktur teknologi informasi, melainkan pemimpin transformasi digital yang mampu menyatukan berbagai kepentingan dalam organisasi kesehatan.
Menurutnya, CIO harus mampu menjembatani kebutuhan tenaga medis, manajemen rumah sakit, regulator, hingga penyedia teknologi agar seluruh inovasi benar-benar memberikan manfaat bagi pasien.
"CIO Healthcare bukan hanya pengelola teknologi, tetapi pemimpin perubahan yang memastikan teknologi memberi dampak nyata bagi pasien, organisasi, dan masyarakat," ujar Setiaji.
Ia mengingatkan bahwa tanpa kepemimpinan digital yang kuat, berbagai inisiatif transformasi hanya akan berjalan secara parsial dan tidak menghasilkan perubahan yang signifikan.
Kolaborasi Menjadi Penentu Masa Depan Kesehatan Indonesia
Setiaji mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem kesehatan digital Indonesia secara bersama-sama.
Menurutnya, perjalanan menuju sistem kesehatan yang aman, terintegrasi, dan inovatif tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan komitmen bersama untuk melindungi data, menerapkan AI secara bertanggung jawab, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk membangun budaya berbagi data yang aman dan terstandarisasi demi menghadirkan layanan kesehatan yang semakin berkualitas bagi masyarakat.
"Komitmen pada perlindungan data, Responsible AI, dan kolaborasi akan menghasilkan pasien yang lebih sehat, institusi yang lebih efisien, serta masyarakat yang lebih sejahtera."
Menutup paparannya, Setiaji kembali menegaskan bahwa transformasi digital bukan semata-mata mengenai teknologi, melainkan tentang membangun kepercayaan yang mampu menghubungkan seluruh ekosistem kesehatan Indonesia.
"Bersatu dalam kolaborasi, berbagi data secara aman dan terstandar, kita dapat mewujudkan ekosistem kesehatan digital yang berkualitas, aman, dan inovatif. Indonesia Sehat, Indonesia Hebat," pungkasnya.
