Coca-Cola Gunakan AI untuk Rekomendasikan Pesanan Toko
- Rita Puspita Sari
- •
- 4 jam yang lalu
Ilustrasi Produk Coca-Cola
Coca-Cola memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu peritel di Malaysia menentukan produk yang perlu dipesan sekaligus memperkirakan jumlahnya. Teknologi tersebut dihadirkan melalui fitur Perfect Basket pada platform pemesanan digital Coke Buddy.
Melalui fitur ini, Coca-Cola tidak sekadar menyediakan sarana bagi toko untuk melakukan pemesanan secara digital. Sistem juga menganalisis berbagai data untuk memberikan rekomendasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peritel.
Perfect Basket menggunakan Central Recommendation Engine milik Coca-Cola untuk memproses sejumlah indikator. Data yang dianalisis antara lain riwayat pesanan, frekuensi pembelian, faktor musiman, kondisi cuaca, serta pola pembelian dari bisnis lain yang memiliki karakteristik serupa.
Dengan memanfaatkan kombinasi data tersebut, sistem berupaya memberikan gambaran kepada peritel mengenai produk yang kemungkinan dibutuhkan dan jumlah yang dapat dipesan.
Coke Buddy Dukung 39.000 Gerai di Malaysia
Coca-Cola mengatakan platform Coke Buddy saat ini mendukung sekitar 39.000 gerai ritel di Malaysia. Platform tersebut dirancang sebagai sistem pemesanan mandiri yang memungkinkan peritel membeli produk Coca-Cola tanpa harus selalu melakukan pemesanan secara langsung melalui tenaga penjualan.
Peritel dapat menggunakan Coke Buddy melalui aplikasi, situs web, maupun WhatsApp. Selain melakukan pemesanan, platform ini menyediakan sejumlah fitur pendukung, termasuk rekomendasi pesanan yang dipersonalisasi dan pelacakan status pesanan.
Kehadiran Perfect Basket memperluas fungsi tersebut. Jika sebelumnya sistem terutama menggunakan riwayat pembelian untuk memperkirakan produk yang kemungkinan dipesan kembali, kini rekomendasi juga mempertimbangkan lebih banyak faktor.
Sebelum pesanan dikirimkan, peritel akan melihat rekomendasi produk beserta jumlah yang disarankan. Peritel kemudian dapat memeriksa rekomendasi tersebut dan menentukan sendiri apakah akan mengikuti seluruhnya, mengubah jumlahnya, atau tidak membeli produk yang disarankan.
Artinya, AI tidak secara otomatis menentukan isi keranjang belanja. Teknologi tersebut berfungsi sebagai alat bantu pengambilan keputusan, sedangkan keputusan pembelian tetap berada di tangan peritel.
AI Menganalisis Musim hingga Kondisi Cuaca
Salah satu aspek penting dari Perfect Basket adalah kemampuannya menggunakan berbagai sumber data secara bersamaan. Riwayat pembelian menjadi salah satu dasar rekomendasi. Misalnya, ketika sebuah toko secara rutin membeli produk tertentu dalam jumlah tertentu, informasi tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan berikutnya.
Namun, pola pembelian tidak selalu sama sepanjang tahun. Permintaan terhadap produk tertentu dapat berubah karena musim, kondisi cuaca, maupun kebiasaan konsumen. Karena itu, Perfect Basket memasukkan faktor musiman dan cuaca dalam proses rekomendasinya. Sistem juga melihat frekuensi pemesanan dan tren pembelian dari bisnis lain yang dianggap memiliki karakteristik serupa.
Pendekatan tersebut memungkinkan rekomendasi tidak hanya bergantung pada apa yang pernah dibeli oleh sebuah toko, tetapi juga mempertimbangkan kondisi yang dapat memengaruhi permintaan.
Setelah peritel menyetujui pesanan, proses pemenuhan tetap mengikuti mekanisme distribusi yang sudah berjalan. Coca-Cola Refreshments Malaysia atau pemasoknya menangani proses tersebut berdasarkan pengaturan penjualan dan distribusi yang berlaku.
83 Persen Peserta Kampanye Mengikuti Rekomendasi AI
Coca-Cola mengungkapkan data penggunaan Perfect Basket setelah menjalankan kampanye Perfect Basket, Perfect Ride yang berlangsung dari Januari hingga April 2026. Kampanye tersebut dirancang untuk mendorong peritel memanfaatkan fitur rekomendasi ketika melakukan pemesanan melalui Coke Buddy.
Menurut Coca-Cola, kampanye itu menerima lebih dari 4.500 entri dari lebih dari 4.000 peritel di Malaysia. Dari peritel yang berpartisipasi, sebanyak 83 persen gerai menggunakan rekomendasi Perfect Basket.
Angka tersebut perlu dibaca dalam konteks cakupan kampanye. Persentase 83 persen tidak berarti 83 persen dari seluruh sekitar 39.000 gerai yang didukung Coke Buddy telah menggunakan rekomendasi AI. Angka itu hanya menggambarkan peritel yang mengikuti kampanye.
Coca-Cola juga menyatakan bahwa gerai yang mengikuti rekomendasi Perfect Basket mencatat pertumbuhan pendapatan penjualan yang lebih tinggi dibandingkan gerai ritel pembanding.
Namun, perusahaan tidak mengungkapkan secara rinci seberapa besar perbedaan pertumbuhan tersebut. Coca-Cola juga belum memberikan data yang menunjukkan hubungan antara rekomendasi tertentu dengan perubahan penjualan atau tingkat persediaan di masing-masing gerai.
Data yang tersedia dari kampanye Malaysia juga belum mencakup metrik seperti akurasi prediksi, tingkat ketersediaan stok, jumlah persediaan, maupun dampak terhadap biaya logistik.
Bukan Pertama Kali Coca-Cola Gunakan AI untuk Pesanan
Perfect Basket di Malaysia bukan merupakan eksperimen pertama Coca-Cola dalam menggunakan AI untuk membantu proses pemesanan.
Coca-Cola sebelumnya telah mengembangkan kemampuan rekomendasi pesanan serupa di berbagai wilayah dalam jaringan pembotolannya. Dalam laporan kuartal pertama 2024, perusahaan mengatakan Coca-Cola dan mitra pembotolannya telah menghubungkan hampir 8 juta pelanggan dengan platform B2B secara global.
Pada periode yang sama, kemampuan rekomendasi pesanan berbasis AI disebut telah menjangkau lebih dari 3 juta gerai di Amerika Latin.
Sistem tersebut menggabungkan data pelanggan dengan informasi eksternal untuk menghasilkan rekomendasi secara prediktif. Dengan pendekatan ini, AI dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan produk berdasarkan pola yang ditemukan dari berbagai sumber data.
Mantan CEO Coca-Cola, James Quincey, juga pernah menjelaskan pada 2024 bahwa pemesanan digital memberikan fleksibilitas tambahan kepada peritel, termasuk dalam menyesuaikan pengiriman tanpa harus menunggu tenaga penjualan datang secara langsung.
AI Membantu Mengubah Peran Tenaga Penjualan
Pemanfaatan AI dalam pemesanan juga berkaitan dengan perubahan cara kerja tim penjualan Coca-Cola.
Menurut Quincey, rekomendasi pesanan yang dihasilkan AI dapat membantu staf prapenjualan mengurangi waktu untuk menangani pesanan rutin. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk mencatat atau memproses pesanan dapat dialihkan untuk kegiatan lain, seperti mengembangkan hubungan dengan pelanggan dan mencari peluang bisnis.
Meski demikian, digitalisasi tidak berarti tenaga penjualan sepenuhnya digantikan oleh sistem otomatis. Coca-Cola mengatakan tim penjualan masih terlibat dalam hubungan dengan para peritel.
Pendekatan ini menempatkan AI sebagai pendukung pekerjaan manusia. Sistem menangani analisis data dan memberikan rekomendasi, sementara tenaga penjualan tetap dapat membantu pelanggan dalam kebutuhan yang membutuhkan interaksi langsung.
Uji Coba Sebelumnya Tunjukkan Dampak pada Pembelian
Coca-Cola juga pernah mengungkapkan hasil uji coba sistem rekomendasi produk berbasis AI. Dalam laporan hasil kuartal kedua 2024, perusahaan mengatakan peritel yang menerima rekomendasi produk berdasarkan riwayat pesanan dan data pasar memiliki kemungkinan lebih dari 30 persen lebih tinggi untuk membeli SKU yang direkomendasikan dalam uji coba awal.
SKU atau stock keeping unit merupakan kode atau identitas yang digunakan untuk membedakan suatu produk dalam persediaan.
Namun, Coca-Cola menegaskan bahwa hasil tersebut merupakan bagian dari uji coba sistem rekomendasi sebelumnya dan bukan hasil yang secara khusus berasal dari Perfect Basket di Malaysia. Perbedaan konteks tersebut penting karena setiap pasar memiliki karakteristik konsumen, pola pembelian, serta kondisi operasional yang berbeda.
AI Juga Dipakai untuk Memprediksi Kebutuhan Stok
Selain rekomendasi pesanan, Coca-Cola menggunakan AI untuk membantu memprediksi kebutuhan pengisian kembali stok.
Dalam salah satu proyeknya, perusahaan menggabungkan data penjualan historis dengan informasi cuaca dan geolokasi. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan rekomendasi mengenai kebutuhan pengisian kembali produk.
CIO Coca-Cola Neeraj Tolmare mengatakan kepada Fortune pada 2025 bahwa uji coba di tiga negara menghasilkan penjualan sekitar 7 hingga 8 persen lebih tinggi dibandingkan gerai yang tidak menggunakan algoritma AI tersebut. Sekali lagi, hasil tersebut berasal dari proyek prediksi permintaan yang berbeda, bukan dari Perfect Basket di Malaysia.
Meski demikian, berbagai proyek tersebut menunjukkan pola penggunaan AI yang semakin luas dalam operasi Coca-Cola. Teknologi digunakan untuk menganalisis permintaan, memberikan rekomendasi produk, membantu pengelolaan stok, serta mendukung proses penjualan.
Perfect Basket Tetap Berjalan Setelah Kampanye
Kampanye Perfect Basket, Perfect Ride telah berakhir pada April 2026. Namun, fitur Perfect Basket tetap tersedia bagi pengguna Coke Buddy. Coca-Cola mengatakan akan terus mengembangkan Coke Buddy dan kemampuan rekomendasinya berdasarkan umpan balik dari para peritel serta data penggunaan platform.
Bagi Coca-Cola, pemanfaatan AI dalam proses pemesanan bukan hanya soal membuat transaksi lebih cepat. Teknologi tersebut juga menjadi bagian dari upaya perusahaan memahami kebutuhan setiap gerai berdasarkan pola pembelian dan kondisi pasar.
Di sisi lain, peritel tetap memegang kendali atas keputusan akhir. Rekomendasi yang diberikan AI dapat digunakan sebagai pertimbangan, tetapi tidak secara otomatis mengikat toko untuk membeli produk atau jumlah tertentu.
Dengan model tersebut, Coca-Cola mencoba menggabungkan analisis data, AI, sistem pemesanan digital, dan dukungan tenaga penjualan dalam satu proses. Perfect Basket menjadi salah satu contoh bagaimana AI mulai digunakan bukan hanya untuk membuat prediksi, tetapi juga membantu keputusan operasional sehari-hari di sektor ritel.
