Qmed Asia dan Intel Hadirkan AI Pemantau Pasien Real-Time


Dr. Sim Hui Xin Chief Medical Officer Qmed Asia

Dr. Sim Hui Xin Chief Medical Officer Qmed Asia

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor kesehatan terus menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk mendukung proses administrasi kini telah berkembang menjadi alat penting dalam membantu tenaga medis mengambil keputusan klinis secara lebih cepat, akurat, dan efisien.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam ajang Healthcare Executive Roundtable 2026, di mana Qmed Asia memperkenalkan berbagai inovasi kesehatan digital yang memadukan kecerdasan klinis dengan teknologi AI modern. Dalam kesempatan tersebut, Chief Medical Officer Qmed Asia, Dr. Sim Hui Xin, menjelaskan bagaimana pemanfaatan AI mampu mengubah cara rumah sakit dan fasilitas kesehatan memberikan pelayanan kepada pasien.

Menurut Dr. Sim Hui Xin, tantangan terbesar yang dihadapi dunia kesehatan saat ini bukan hanya meningkatnya jumlah pasien, tetapi juga bagaimana tenaga kesehatan dapat mengakses informasi yang tepat pada waktu yang tepat untuk mengambil keputusan terbaik.

“Teknologi AI bukanlah pengganti dokter atau perawat. Sebaliknya, AI hadir untuk membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih mudah dipahami sehingga mereka dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien,” ujar Dr. Sim Hui Xin.

 

Dibangun oleh Dokter untuk Menjawab Kebutuhan Klinis

Qmed Asia merupakan perusahaan teknologi kesehatan yang didirikan pada tahun 2019 oleh para dokter yang memahami langsung berbagai tantangan di lapangan. Berbeda dengan banyak perusahaan teknologi lainnya, pendekatan Qmed Asia berangkat dari kebutuhan klinis nyata yang dihadapi tenaga kesehatan setiap hari.

Melalui platform kesehatan digital terintegrasi, perusahaan ini berupaya menjembatani kesenjangan antara praktik medis dan teknologi modern. Solusi yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada digitalisasi data, tetapi juga membantu rumah sakit mengoptimalkan alur kerja, meningkatkan keselamatan pasien, dan mempercepat proses pengambilan keputusan medis.

Saat ini, Qmed Asia telah melayani lebih dari 500 fasilitas kesehatan, digunakan oleh lebih dari 5.000 tenaga kesehatan, serta mendukung layanan bagi lebih dari 6 juta pasien dan pelanggan di Malaysia.

Keberhasilan tersebut didukung oleh berbagai sertifikasi internasional yang dimiliki perusahaan, termasuk ISO 13485 untuk Sistem Manajemen Mutu Perangkat Medis dan ISO 27001 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi. Sertifikasi tersebut menjadi bukti komitmen Qmed Asia dalam menghadirkan solusi yang aman, andal, dan memenuhi standar industri kesehatan global.

 

Kolaborasi Kekuatan Klinis dan Teknologi

Salah satu kekuatan utama Qmed Asia terletak pada tim multidisiplin yang terdiri dari dokter, insinyur, dan ahli teknologi kesehatan. Kombinasi ini memungkinkan perusahaan mengembangkan solusi yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis sehari-hari.

Qmed Asia dipimpin oleh Dr. Kev Lim sebagai CEO dan Co-Founder. Sebagai dokter sekaligus pengusaha teknologi kesehatan, Dr. Kev memiliki pengalaman luas dalam pengembangan solusi kesehatan digital dan AI klinis. Bersama Dr. Tai Tzyy Jiun selaku Chief Medical Technology Officer dan Nic Tai sebagai Chief Operating Officer, mereka membangun ekosistem teknologi kesehatan yang berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan medis.

“Ketika teknologi dikembangkan dengan memahami kebutuhan tenaga kesehatan secara langsung, maka inovasi yang dihasilkan akan lebih mudah diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi pasien,” kata Dr. Sim Hui Xin.

 

Kemitraan Strategis dengan Intel

Untuk mempercepat transformasi digital di sektor kesehatan, Qmed Asia menjalin kemitraan strategis dengan Intel sebagai mitra resmi pengembangan solusi AI medis berbasis edge computing di kawasan Asia Tenggara.

Kolaborasi ini memungkinkan pengolahan data dilakukan langsung di lokasi pelayanan kesehatan tanpa harus selalu mengirimkan data ke pusat data atau cloud. Pendekatan tersebut memberikan keuntungan berupa kecepatan pemrosesan yang lebih tinggi, latensi yang rendah, serta keamanan data yang lebih baik.

Selain bekerja sama dengan Intel, Qmed Asia juga berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan Malaysia melalui proyek Dr. Mata AI Retina yang telah diterapkan di berbagai klinik kesehatan pemerintah. Teknologi tersebut membantu proses deteksi dini gangguan retina secara lebih cepat dan akurat.

Qmed Asia juga memperkenalkan asisten AI pertama di Malaysia yang dirancang untuk membantu tenaga kesehatan mengakses pedoman praktik klinis dengan lebih mudah. Kehadiran teknologi ini memungkinkan dokter dan perawat memperoleh referensi medis berbasis bukti dalam waktu singkat sehingga mendukung keputusan klinis yang lebih tepat.

Dr. Sim Hui Xin Chief Medical Officer Qmed Asia

Pemantauan Pasien Real-Time untuk Meningkatkan Keselamatan

Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah solusi Qmed-Intel Edge Patient Monitoring Hub, sebuah platform pemantauan pasien berbasis AI dan edge computing yang memungkinkan rumah sakit melakukan pemantauan kondisi pasien secara real-time.

Melalui sistem ini, data tanda-tanda vital pasien seperti tekanan darah, denyut jantung, kadar oksigen, dan parameter klinis lainnya dapat dipantau secara terus-menerus. Seluruh informasi tersebut kemudian dianalisis menggunakan teknologi AI untuk mengidentifikasi potensi risiko kesehatan lebih awal.

Dr. Sim Hui Xin menjelaskan bahwa dalam dunia kesehatan, setiap detik dapat menentukan keselamatan pasien.

“Banyak kondisi kritis berkembang secara bertahap. Dengan pemantauan berkelanjutan dan analitik cerdas, tenaga medis dapat mengetahui adanya perubahan kondisi pasien sebelum menjadi keadaan darurat,” jelasnya.

Sistem ini juga dilengkapi dengan teknologi Early Warning Score (EWS) yang mampu menghitung tingkat risiko pasien berdasarkan berbagai indikator klinis. Jika sistem mendeteksi adanya tanda-tanda penurunan kondisi kesehatan, tenaga medis akan menerima peringatan secara instan sehingga dapat segera melakukan intervensi.

 

Mengubah Layanan Kesehatan dari Reaktif Menjadi Proaktif

Selama ini, banyak rumah sakit masih mengandalkan pendekatan reaktif, yaitu memberikan tindakan setelah muncul gejala atau kondisi pasien memburuk. Dengan dukungan AI, pendekatan tersebut mulai bergeser menjadi lebih proaktif.

Melalui analitik prediktif yang berjalan langsung di sisi edge, sistem Qmed-Intel dapat mengidentifikasi pola yang menunjukkan kemungkinan penurunan kondisi pasien bahkan sebelum gejala serius muncul.

“Transformasi terbesar adalah berpindah dari layanan yang bersifat reaktif menjadi intervensi yang proaktif. Hasil klinis menjadi lebih baik, layanan lebih aman, dan tim kesehatan bekerja lebih efisien,” ujar Dr. Sim Hui Xin.

Pendekatan ini tidak hanya berpotensi menurunkan angka komplikasi dan kematian pasien, tetapi juga membantu rumah sakit mengurangi biaya operasional akibat keterlambatan penanganan kondisi kritis.

 

Mengurangi Beban Kerja Tenaga Kesehatan

Selain meningkatkan keselamatan pasien, teknologi ini juga dirancang untuk mengurangi beban administratif yang selama ini menjadi tantangan besar bagi tenaga kesehatan. Melalui otomatisasi pengumpulan data, dokumentasi digital, serta sistem notifikasi otomatis, perawat dan dokter tidak lagi harus melakukan banyak pencatatan manual.

Dengan demikian, mereka dapat lebih fokus pada interaksi langsung dengan pasien dan memberikan pelayanan yang lebih berkualitas.

Sistem pemantauan terpusat juga memungkinkan seluruh kondisi pasien dari berbagai bangsal dipantau melalui satu dashboard terpadu. Hal ini meningkatkan koordinasi antar tenaga medis dan mempercepat respons terhadap kondisi darurat.

 

Keamanan Data Menjadi Prioritas

Dalam implementasi AI di sektor kesehatan, keamanan dan privasi data pasien menjadi aspek yang sangat penting. Karena itu, solusi Qmed dan Intel dirancang dengan prinsip keamanan sejak tahap pengembangan.

Seluruh data pasien dapat diproses dan disimpan di jaringan internal rumah sakit tanpa ketergantungan penuh pada layanan cloud. Pendekatan ini membantu menjaga kerahasiaan informasi kesehatan sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data.

Platform tersebut juga mendukung standar interoperabilitas internasional seperti HL7 dan FHIR sehingga dapat terintegrasi dengan berbagai sistem rumah sakit, termasuk Electronic Medical Record (EMR) dan Hospital Information System (HIS).

 

Masa Depan Kesehatan yang Lebih Cerdas

Perkembangan AI di sektor kesehatan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Dengan kemampuan menganalisis data dalam jumlah besar, mendeteksi pola penyakit, serta memberikan dukungan keputusan klinis secara real-time, teknologi ini menjadi fondasi penting bagi rumah sakit modern.

Qmed Asia melihat masa depan layanan kesehatan tidak hanya sebatas digitalisasi rekam medis, tetapi juga menghadirkan kecerdasan klinis yang mampu membantu tenaga kesehatan memberikan perawatan yang lebih cepat, aman, dan personal.

Melalui kolaborasi strategis bersama Intel, perusahaan berupaya menghadirkan standar baru dalam pelayanan kesehatan berbasis AI, di mana data pasien tidak hanya disimpan, tetapi juga diubah menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti secara langsung.

“Tujuan utama kami adalah menghadirkan teknologi yang benar-benar membantu tenaga kesehatan dan meningkatkan hasil perawatan pasien. Ketika informasi klinis tersedia secara real-time, keputusan dapat diambil lebih cepat dan pasien memperoleh manfaat yang lebih besar,” tutup Dr. Sim Hui Xin.

Dengan semakin matangnya teknologi AI dan edge computing, inovasi seperti yang dikembangkan Qmed Asia menunjukkan bahwa masa depan layanan kesehatan akan semakin cerdas, terhubung, dan berorientasi pada keselamatan serta kualitas hidup pasien.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait