Prodia Ungkap Strategi AI untuk Laboratorium Kesehatan Modern
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 hari yang lalu
Cinde Warno Assistant VP, Information Technology Solution PT Prodia Widyahusada Tbk dalam Acara CIO Healthcare Summit 2026
Transformasi digital di sektor kesehatan kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya digitalisasi hanya berfokus pada penerapan rekam medis elektronik (Electronic Health Record/EHR) dan layanan telemedicine, kini Artificial Intelligence (AI) menjadi fondasi baru dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih cepat, akurat, aman, dan personal.
Namun, di balik peluang besar tersebut, industri kesehatan juga dihadapkan pada tantangan yang tidak sederhana. Mulai dari kualitas data, keamanan siber, integrasi sistem yang kompleks, hingga penerapan AI yang harus tetap mengedepankan etika serta keselamatan pasien.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam CIO Healthcare Summit 2026, di mana Assistant VP Information Technology Solution PT Prodia Widyahusada Tbk, Cinde Warno, membagikan berbagai pengalaman dan strategi Prodia dalam menjalankan transformasi laboratorium modern melalui pemanfaatan teknologi digital dan AI.
Menurut Cinde Warno, transformasi digital di dunia kesehatan bukan lagi sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan sebuah kebutuhan agar layanan kesehatan mampu menjawab tuntutan masyarakat yang terus berkembang.
"AI bukan lagi sesuatu yang akan datang di masa depan. Teknologi ini sudah menjadi bagian penting dalam transformasi layanan kesehatan. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kualitas data, integrasi sistem, dan bagaimana AI mampu membantu tenaga medis mengambil keputusan yang lebih baik, bukan menggantikan mereka," ujar Cinde.
Prodia Bangun Transformasi Digital Berbasis Standar Global
Sebagai salah satu jaringan laboratorium klinik terbesar di Indonesia, Prodia telah memiliki pengalaman lebih dari 52 tahun sejak berdiri pada 1973. Saat ini perusahaan mengoperasikan sekitar 360 outlet yang tersebar di 178 kota dan kabupaten di 34 provinsi.
Dalam paparannya, Cinde menjelaskan bahwa perjalanan panjang tersebut diiringi dengan berbagai inovasi teknologi dan penerapan standar internasional.
Prodia menjadi satu-satunya laboratorium klinik di Indonesia yang memperoleh akreditasi College of American Pathologists (CAP) sejak 2012. Selain itu, Prodia juga menjadi laboratorium pertama di Indonesia yang memperoleh berbagai sertifikasi internasional, mulai dari ISO 9001, ISO 15189, ISO 45001 untuk keselamatan dan kesehatan kerja, hingga ISO 27001 terkait sistem manajemen keamanan informasi sejak 2018.
Menurut Cinde, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya berbicara mengenai penggunaan teknologi terbaru, tetapi juga memastikan kualitas layanan, keamanan informasi, serta tata kelola data yang memenuhi standar global.
Evolusi Layanan Kesehatan Menuju Era AI
Dalam paparannya, Cinde turut menggambarkan bagaimana dunia kesehatan mengalami perubahan besar selama beberapa dekade terakhir. Sebelum tahun 1970-an, layanan kesehatan masih berfokus pada Reactive Care, yakni penanganan pasien setelah muncul gejala penyakit.
Memasuki periode 1970 hingga 1990-an, pendekatan berubah menjadi Evidence-Based Medicine, di mana keputusan klinis semakin didasarkan pada penelitian ilmiah dan bukti medis.
Transformasi berikutnya terjadi pada era 2000 hingga 2010 ketika rumah sakit mulai mengadopsi sistem digital melalui Electronic Health Record (EHR). Selanjutnya, pada dekade 2010-an layanan telemedicine dan aplikasi kesehatan berbasis perangkat mobile berkembang pesat.
Sejak 2015, dunia kesehatan memasuki era Precision Medicine yang memungkinkan pelayanan lebih personal berdasarkan karakteristik masing-masing pasien.
Kini, menurut Cinde, sektor kesehatan memasuki fase AI Enabled, di mana kecerdasan buatan mulai membantu proses diagnosis, prediksi penyakit, hingga meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit maupun laboratorium.
"Perjalanan transformasi kesehatan menunjukkan bahwa teknologi selalu berkembang mengikuti kebutuhan pelayanan. AI hadir bukan untuk menggantikan dokter, tetapi menjadi alat bantu yang mampu mempercepat analisis, meningkatkan akurasi, serta mengurangi beban administratif tenaga kesehatan," jelasnya.
Momentum Tepat Adopsi AI
Cinde menilai saat ini merupakan momentum terbaik bagi industri kesehatan untuk mulai mengimplementasikan AI secara lebih luas. Hal tersebut didorong oleh semakin matangnya teknologi cloud, perangkat mobile, serta perkembangan machine learning yang mampu mengolah data kesehatan dalam jumlah sangat besar.
Menurutnya, AI mampu menemukan pola klinis yang sulit dikenali manusia dalam waktu singkat. Otomatisasi juga dapat mengurangi pekerjaan administratif sehingga dokter dan tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan pasien.
"Cloud, mobile, dan algoritma AI kini telah berada pada titik yang tepat. Ketiganya memungkinkan layanan kesehatan bekerja lebih efisien sekaligus menghasilkan keputusan klinis yang lebih cepat dan berbasis data," kata Cinde.
Perjalanan Digitalisasi Prodia
Transformasi digital di Prodia sendiri dimulai secara bertahap. Pada 2021 perusahaan menghadirkan Prodia Mobile untuk memudahkan pelanggan mengakses layanan laboratorium secara digital. Selanjutnya Prodia terus memperluas inovasi melalui layanan kiosk digital, Gen AI Tania, hingga Smart Report yang membantu penyajian hasil pemeriksaan menjadi lebih informatif dan mudah dipahami pelanggan.
Tak hanya itu, Prodia juga membangun Prodia Electronic Health Record (EHR) berbasis FHIR Repository, yang disebut sebagai repositori FHIR terbesar di kawasan Asia Tenggara. Standar interoperabilitas tersebut memungkinkan pertukaran data kesehatan antar sistem berlangsung lebih cepat, aman, dan terstandarisasi sehingga mendukung kolaborasi layanan kesehatan secara lebih luas.

AI Sudah Digunakan di Berbagai Bidang Medis
Dalam paparannya, Cinde memperlihatkan bagaimana AI telah diterapkan pada berbagai disiplin ilmu kesehatan. Pada bidang radiologi, teknologi AI membantu menganalisis citra medis lebih cepat sehingga mempercepat proses pembacaan hasil pemeriksaan sekaligus meningkatkan tingkat kepercayaan diagnosis.
Di bidang kardiologi, AI mampu mendeteksi anomali halus pada rekaman suara jantung yang sering kali sulit dikenali melalui pemeriksaan rutin. Sementara pada dermatologi, teknologi AI bahkan telah menunjukkan kemampuan mengenali kanker kulit stadium awal dengan tingkat akurasi yang mendekati dokter spesialis kulit.
"Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa AI telah memberikan manfaat nyata. Yang terpenting adalah memastikan implementasinya benar-benar memberikan nilai klinis, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi," ujar Cinde.
Delapan Target Implementasi AI
Prodia memandang penerapan AI harus memberikan manfaat nyata bagi pasien maupun organisasi. Karena itu, implementasi AI diarahkan untuk mencapai delapan tujuan utama, yaitu membantu dokter mengambil keputusan yang lebih baik melalui analisis data, meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat diagnosis penyakit, menghadirkan layanan yang lebih personal, memperluas akses kesehatan hingga wilayah terpencil, menekan biaya layanan, meningkatkan pengalaman pasien, serta menjaga kualitas pelayanan agar tetap konsisten di berbagai fasilitas kesehatan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Prodia telah menjalankan sejumlah inisiatif AI di berbagai lini.
Pada layanan klinis, tersedia Prodia Sight yang membantu penyusunan laporan radiologi, PROREAD untuk menerjemahkan pola hasil laboratorium menjadi insight kesehatan pasien, serta PREDICS sebagai referensi alur kerja klinis. Di bidang riset dan inovasi terdapat PRIME Recommendations yang memberikan rekomendasi pemeriksaan lanjutan berdasarkan riwayat pasien, serta Tania Chatbot yang melayani pertanyaan pelanggan secara otomatis.
Sementara pada sisi operasional terdapat AIXA Assistant untuk memberikan informasi estimasi hasil pemeriksaan, ketersediaan tes, hingga pertanyaan operasional lainnya. Sedangkan di level manajemen tersedia Manager Chatbot yang memungkinkan pengambilan insight bisnis melalui bahasa alami serta Branch Intelligence untuk menganalisis performa cabang dan peluang pertumbuhan.
Tantangan Implementasi AI Masih Besar
Meski menawarkan banyak manfaat, Cinde mengingatkan bahwa implementasi AI di sektor kesehatan masih menghadapi berbagai tantangan. Investasi awal yang tinggi, ketidakpastian waktu pengembalian investasi (ROI), integrasi dengan sistem lama, hingga kualitas data menjadi hambatan utama.
Selain itu, banyak organisasi tergoda mengadopsi AI hanya karena sedang populer tanpa benar-benar memahami manfaat klinis yang dihasilkan.
"Jangan sampai organisasi hanya mengejar AI karena tren. Yang harus menjadi prioritas adalah apakah teknologi tersebut benar-benar meningkatkan kualitas diagnosis, efisiensi layanan, dan memberikan manfaat nyata bagi pasien," tegas Cinde.
Karena itu, Prodia menggunakan pendekatan prioritas berdasarkan dampak klinis, biaya implementasi, serta kesiapan integrasi dengan alur kerja yang sudah ada sebelum memperluas penggunaan AI.
Data Berkualitas Jadi Fondasi AI
Salah satu pesan terpenting yang disampaikan Cinde adalah pentingnya kualitas data. Menurutnya, AI hanya akan menghasilkan keputusan yang baik apabila data yang digunakan benar-benar akurat, lengkap, konsisten, dan dapat dipercaya.
"Tidak ada AI yang dapat dipercaya tanpa data yang terpercaya. Volume data yang besar bukan jaminan kualitas. Karena itu, data governance menjadi fondasi utama sebelum organisasi berbicara mengenai AI," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa interoperabilitas data melalui standar seperti FHIR menjadi langkah penting agar berbagai sistem kesehatan mampu saling bertukar informasi secara aman dan efisien.
Keamanan Siber Menjadi Bagian dari Keselamatan Pasien
Selain kualitas data, keamanan siber juga menjadi perhatian utama dalam transformasi digital kesehatan. Menurut Cinde, serangan siber terhadap rumah sakit maupun laboratorium bukan hanya berdampak pada gangguan sistem teknologi informasi, tetapi juga dapat mengancam keselamatan pasien apabila layanan kesehatan terhenti.
"Dalam layanan kesehatan, keamanan siber tidak hanya melindungi sistem teknologi informasi. Menjaga keamanan sistem berarti menjaga integritas data, memastikan layanan klinis tetap berjalan, dan pada akhirnya melindungi keselamatan pasien," katanya.
Prodia sendiri menerapkan tiga pilar utama keamanan, yakni perlindungan pasien dan data melalui enkripsi serta kontrol akses, kepatuhan terhadap regulasi dengan audit yang jelas, serta ketahanan sistem melalui transparansi perangkat lunak, pembaruan keamanan, dan kesiapan menghadapi serangan siber.
AI Harus Memperkuat Keahlian Manusia
Menutup paparannya, Cinde memperkenalkan konsep "The Right AI Framework", yakni pendekatan dalam memilih solusi AI berdasarkan empat prinsip utama.
Pertama adalah Accuracy First, memastikan AI memiliki akurasi yang telah terbukti secara klinis. Kedua Workflow Fit, yakni AI harus mampu menyatu dengan proses kerja yang sudah berjalan. Ketiga Cost Effectiveness, sehingga investasi memberikan manfaat yang terukur. Terakhir adalah Human-AI Synergy, di mana AI berfungsi sebagai pendukung keputusan tenaga medis, bukan pengganti.
"Masa depan layanan kesehatan bukan tentang AI menggantikan dokter. Masa depan adalah bagaimana AI memperkuat kemampuan para klinisi sehingga mereka dapat memberikan layanan yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih berkualitas. Organisasi yang berhasil adalah mereka yang menggunakan AI secara selektif pada area yang benar-benar meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi bisnis. AI bukan tujuan akhir. Tujuan utamanya adalah menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat," pungkas Cinde.
