Agentic Hospital, Strategi Salesforce Ubah Layanan Kesehatan


Joshua Prayogi Angki Senior Solution Engineer Salesforce

Joshua Prayogi Angki Senior Solution Engineer Salesforce dalam Acara CIO Healthcare Summit 2026

Industri kesehatan tengah memasuki fase transformasi baru. Setelah beberapa tahun berfokus pada digitalisasi rekam medis dan layanan kesehatan berbasis aplikasi, kini perhatian mulai beralih pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang mampu membantu tenaga medis mengambil keputusan, mempercepat layanan, hingga menghadirkan pengalaman pasien yang lebih personal.

Namun, menurut Joshua Prayogi Angki, Senior Solution Engineer Salesforce, membangun rumah sakit berbasis AI bukan sekadar menghadirkan chatbot atau mengintegrasikan model AI generatif ke dalam sistem yang sudah ada. Transformasi tersebut harus dimulai dari fondasi yang lebih mendasar, yakni membangun ekosistem data yang terhubung sehingga setiap bagian rumah sakit dapat bekerja secara terkoordinasi. Gagasan itu akan menjadi salah satu topik utama yang dibawakan Joshua dalam acara CIO Healthcare Summit 2026.

Menurut Joshua, banyak rumah sakit sebenarnya telah memiliki berbagai sistem digital, mulai dari rekam medis elektronik, sistem administrasi, layanan laboratorium, hingga aplikasi pendaftaran pasien. Sayangnya, sistem-sistem tersebut sering kali berjalan sendiri-sendiri sehingga data pasien tersebar di berbagai platform.

Akibatnya, tenaga kesehatan harus membuka banyak aplikasi untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan sebelum mengambil keputusan medis.

"Transformasi menuju Agentic Hospital bukan dimulai dari AI, melainkan dari bagaimana rumah sakit mampu menghubungkan seluruh data yang selama ini terpisah. Ketika data sudah saling terkoneksi, AI bisa bekerja sebagai asisten yang benar-benar membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat," ujar Joshua.

 

Tantangan Layanan Kesehatan Semakin Kompleks

Joshua menjelaskan, kebutuhan membangun rumah sakit yang lebih cerdas muncul seiring semakin besarnya tekanan terhadap sistem kesehatan global. 

Menjelang 2030, dunia diperkirakan mengalami kekurangan sekitar 11 juta tenaga kesehatan. Di saat yang sama, penyakit tidak menular terus meningkat dan diproyeksikan menjadi penyebab sekitar 75 persen kematian di dunia. Beban biaya kesehatan pun diperkirakan melonjak hingga mencapai 15 triliun dollar AS, sementara ekspektasi masyarakat terhadap layanan kesehatan ikut berubah.

Kini pasien tidak lagi hanya menginginkan pelayanan yang cepat ketika datang ke rumah sakit. Mereka juga berharap dapat memperoleh informasi, berkonsultasi, hingga mengakses berbagai layanan melalui kanal digital. Bahkan sekitar 68 persen pasien kini lebih memilih layanan kesehatan hybrid yang menggabungkan layanan tatap muka dengan layanan digital.

Menurut Joshua, kondisi tersebut membuat rumah sakit tidak bisa lagi mengandalkan penambahan tenaga kerja sebagai satu-satunya solusi.

"Tekanan terhadap layanan kesehatan akan terus meningkat, sementara sumber daya yang tersedia terbatas. Karena itu rumah sakit membutuhkan cara kerja baru yang lebih efisien dengan memanfaatkan teknologi sebagai pendukung tenaga kesehatan," katanya.

 

AI Tidak Hanya untuk Diagnosis Penyakit

Selama ini pembahasan AI di sektor kesehatan lebih banyak dikaitkan dengan kemampuan mendiagnosis penyakit, membaca hasil radiologi, atau mendeteksi gejala lebih dini.

Padahal, menurut Joshua, manfaat terbesar AI justru dapat dirasakan lebih cepat pada aktivitas non-klinis yang setiap hari menghabiskan banyak waktu tenaga kesehatan. Ia mengutip sejumlah hasil penelitian yang menunjukkan bagaimana AI mulai memberikan dampak nyata bagi organisasi kesehatan.

McKinsey & Company, misalnya, melaporkan penggunaan AI Agent pada pusat layanan pelanggan mampu menurunkan biaya operasional hingga 50 persen untuk setiap panggilan.

Sementara survei terhadap dokter menunjukkan 81 persen tenaga medis percaya Generative AI akan meningkatkan kolaborasi antara dokter, perawat, dan pasien. Sebagian besar bahkan memperkirakan teknologi tersebut mampu menghemat lebih dari 20 persen waktu kerja mereka.

Menurut Joshua, waktu yang dihemat tersebut dapat dialihkan untuk meningkatkan kualitas interaksi dengan pasien.

"Nilai AI bukan menggantikan dokter ataupun perawat. AI mengambil alih pekerjaan administratif yang repetitif sehingga tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan pelayanan yang benar-benar membutuhkan sentuhan manusia," jelasnya.

Joshua Prayogi Angki Senior Solution Engineer Salesforce dalam Acara CIO Healthcare Summit 2026

Peluang Terbesar Berada di Balik Layar

Joshua mengatakan, ketika berbicara mengenai AI kesehatan, banyak orang langsung membayangkan teknologi untuk diagnosis penyakit. Padahal dari sisi bisnis, manfaat tercepat justru datang dari proses yang tidak terlihat langsung oleh pasien.

Sekitar 15 hingga 30 persen biaya operasional layanan kesehatan, menurutnya, masih dihabiskan untuk proses administrasi seperti pengelolaan klaim, penagihan, verifikasi asuransi, hingga berbagai pekerjaan manual lainnya.

Di area tersebut AI dapat membantu membuat ringkasan percakapan pasien secara otomatis, mempercepat proses penjadwalan, mendukung persetujuan layanan (prior authorization), memprediksi penolakan klaim, hingga membantu contact center memberikan jawaban yang lebih cepat dan akurat.

Teknologi AI juga mulai dimanfaatkan untuk memprediksi jumlah pasien yang akan datang, memperkirakan kebutuhan tenaga medis, mengantisipasi pembatalan jadwal, hingga mengirimkan pengingat pemeriksaan sesuai kondisi masing-masing pasien.

"Rumah sakit tidak harus langsung memulai dari implementasi AI yang paling kompleks. Banyak proses operasional yang bisa memberikan manfaat besar dalam waktu relatif singkat ketika dibantu AI," ujar Joshua.

 

Data Menjadi Jantung Agentic Hospital

Dalam konsep Agentic Hospital, Salesforce menempatkan data sebagai fondasi utama seluruh inovasi. Joshua menjelaskan, platform Health Cloud memungkinkan seluruh informasi pasien dihimpun dalam satu 360 Patient Profile, sehingga tenaga kesehatan dapat melihat riwayat pasien secara menyeluruh tanpa harus berpindah-pindah aplikasi.

Platform tersebut mampu mengintegrasikan rekam medis elektronik (EMR/EHR), sistem administrasi pasien, jadwal pelayanan, hingga berbagai data lain melalui standar interoperabilitas seperti HL7 dan FHIR.

Dengan pendekatan itu, setiap tenaga kesehatan memperoleh konteks yang lebih lengkap sebelum memberikan pelayanan kepada pasien.

"Semakin lengkap konteks yang dimiliki tenaga kesehatan, semakin baik pula keputusan yang dapat diambil. Karena itu Agentic Hospital dibangun di atas data yang berkualitas, bukan hanya AI yang canggih," kata Joshua.

 

Transformasi Dilakukan Secara Bertahap

Joshua juga mengingatkan bahwa membangun Agentic Hospital merupakan perjalanan jangka panjang. Ia mengibaratkan proses tersebut dengan pepatah "eat the elephant one bite at a time", yaitu menyelesaikan pekerjaan besar melalui langkah-langkah kecil yang terukur.

Rumah sakit dapat memulai dari penggunaan AI untuk kebutuhan internal seperti manajemen pengetahuan dan layanan karyawan. Setelah fondasi data semakin matang, implementasi dapat diperluas ke layanan pasien, pengelolaan rujukan, contact center, komunikasi dengan dokter, hingga akhirnya menghadirkan perjalanan pasien yang sepenuhnya terorkestrasi menggunakan AI dan analitik.

Menurut Joshua, pendekatan bertahap tersebut membuat risiko implementasi menjadi lebih rendah sekaligus memberikan kesempatan bagi organisasi untuk membangun budaya kerja berbasis data.

 

Keamanan Data Tetap Menjadi Prioritas

Di tengah semakin luasnya penggunaan AI, Joshua menegaskan bahwa keamanan data pasien tetap menjadi syarat utama keberhasilan transformasi digital.

Karena itu Salesforce mengembangkan platform yang mendukung berbagai standar kepatuhan internasional, termasuk HIPAA, HITRUST CSF, HL7, FHIR, hingga berbagai regulasi keamanan informasi lainnya.

"Kepercayaan adalah fondasi layanan kesehatan digital. AI hanya akan memberikan manfaat maksimal apabila dibangun di atas data yang aman, berkualitas, dan dikelola secara bertanggung jawab. Pada akhirnya, tujuan Agentic Hospital bukan sekadar membuat rumah sakit lebih modern, tetapi membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang lebih baik bagi setiap pasien," tutup Joshua Prayogi Angki.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait