Korea Selatan Manfaatkan AI untuk Deteksi Dini Bunuh Diri
- Rita Puspita Sari
- •
- 2 jam yang lalu
Ilustrasi Korea
Teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin menunjukkan perannya dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Jika selama ini AI identik dengan chatbot, pembuatan gambar, atau analisis data bisnis, Korea Selatan justru memanfaatkan teknologi tersebut untuk tujuan yang jauh lebih humanis, yakni membantu mencegah tindakan bunuh diri.
Pemerintah Kota Seoul kini menggunakan sistem AI untuk memantau aktivitas masyarakat di sejumlah jembatan yang melintasi Sungai Han (Hangang), salah satu lokasi yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai titik dengan angka percobaan bunuh diri yang tinggi di negara tersebut.
Pemanfaatan teknologi ini dilakukan melalui Pusat Pengendalian Terpadu CCTV Jembatan Hangang yang telah beroperasi sejak 2021. Dari pusat kendali tersebut, sistem AI membantu memantau sekitar 900 kamera CCTV yang tersebar di 17 dari 21 jembatan Sungai Han yang dapat diakses pejalan kaki.
AI Tidak Sekadar Merekam, Tetapi Menganalisis Perilaku
Berbeda dengan sistem CCTV konvensional yang hanya berfungsi merekam kejadian, teknologi AI yang digunakan di Seoul dirancang untuk menganalisis perilaku manusia secara real-time.
Sistem ini mampu mengenali pola aktivitas yang dianggap tidak biasa atau berpotensi mengarah pada tindakan berbahaya. Salah satu indikator utama yang digunakan adalah keberadaan seseorang dalam waktu yang cukup lama di area tertentu yang dikenal sebagai loitering zones atau titik-titik yang sering digunakan orang untuk berdiri menghadap sungai.
Apabila seseorang berada di area tersebut selama lebih dari 300 detik atau sekitar lima menit, sistem AI secara otomatis akan mengirimkan alarm kepada operator yang bertugas di pusat pengendalian.
Peringatan tersebut kemudian diperiksa lebih lanjut oleh petugas manusia. Mereka akan menilai apakah orang tersebut hanya menikmati pemandangan Sungai Han atau menunjukkan tanda-tanda tekanan emosional yang memerlukan perhatian khusus.
Mengamati Tanda-Tanda yang Tidak Biasa
Setelah menerima notifikasi dari sistem AI, operator akan memperbesar tampilan kamera untuk melakukan pemeriksaan lebih detail terhadap individu yang terdeteksi.
Petugas akan mencari berbagai petunjuk visual yang dapat menunjukkan kondisi psikologis seseorang. Misalnya, apakah orang tersebut tampak murung, gelisah, sedih, atau menunjukkan ekspresi yang mengindikasikan tekanan emosional.
Selain itu, operator juga memperhatikan sejumlah perilaku dan kondisi yang dianggap tidak lazim. Beberapa contoh yang menjadi perhatian antara lain membawa minuman beralkohol ke area jembatan, mengenakan sandal saat musim dingin yang ekstrem, atau memindahkan kursi ke lokasi yang tidak semestinya.
Kombinasi antara kemampuan AI dalam mendeteksi pola perilaku dan penilaian manusia dalam membaca situasi dinilai menjadi pendekatan yang efektif untuk mengidentifikasi potensi risiko sebelum terjadi tindakan yang fatal.
AI Berperan Sebagai Penyaring Awal
Pengelola sistem menegaskan bahwa AI tidak berfungsi sebagai pengambil keputusan akhir dalam menentukan apakah seseorang benar-benar berpotensi melakukan percobaan bunuh diri. Teknologi tersebut lebih berperan sebagai “penyaring awal” atau early warning system yang membantu operator menemukan kejadian penting di tengah ribuan jam rekaman CCTV yang dipantau setiap hari.
Sebelum AI diterapkan, seluruh proses pengawasan dilakukan secara manual oleh petugas. Namun metode tersebut memiliki keterbatasan yang cukup besar.
Berdasarkan penelitian Pemerintah Kota Seoul, seorang operator rata-rata hanya mampu memantau sekitar 12 layar CCTV secara bersamaan secara efektif. Dengan jumlah kamera yang mencapai ratusan, risiko terlewatnya kejadian penting menjadi sangat tinggi.
Kehadiran AI membantu mengatasi tantangan tersebut. Operator kini tidak perlu terus-menerus memperhatikan seluruh layar kamera. Sistem akan secara otomatis memberikan notifikasi ketika menemukan pola perilaku yang dianggap berisiko.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pemantauan, tetapi juga mempercepat respons petugas di lapangan ketika diperlukan tindakan penyelamatan.
Tingkat Keberhasilan Penyelamatan Mencapai 99 Persen
Data Pemerintah Kota Seoul menunjukkan bahwa jumlah percobaan bunuh diri di jembatan Sungai Han telah melampaui 1.000 kasus setiap tahun selama empat tahun berturut-turut sejak 2022. Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat sekitar 1.270 panggilan penanganan terkait dugaan percobaan bunuh diri di kawasan tersebut.
Meski angka tersebut terbilang tinggi, hasil intervensi yang dilakukan menunjukkan efektivitas yang cukup mengesankan. Dari seluruh laporan yang ditangani, hanya 10 kasus yang berujung pada kematian. Dengan kata lain, tingkat keberhasilan penyelamatan yang didukung oleh sistem penyaringan awal berbasis AI mencapai sekitar 99 persen.
Angka tersebut menjadi indikator bahwa teknologi dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung upaya pencegahan bunuh diri ketika digunakan bersama intervensi manusia yang cepat dan tepat.
Teknologi Belum Sempurna
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, pengelola sistem mengakui bahwa teknologi AI yang digunakan masih memiliki keterbatasan.
Sistem tersebut dilaporkan masih mengalami tingkat kesalahan atau halusinasi sekitar 15 persen. Dalam beberapa kasus, AI dapat salah mengenali objek tertentu sebagai manusia atau memberikan peringatan yang ternyata tidak terkait dengan situasi berisiko.
Karena itu, peran manusia tetap menjadi bagian yang sangat penting dalam keseluruhan proses pemantauan. AI hanya bertugas mengidentifikasi pola dan memberikan peringatan, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan operator yang melakukan verifikasi langsung terhadap kondisi di lapangan.
Pendekatan kolaboratif antara teknologi dan manusia ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat sistem tetap efektif sekaligus meminimalkan risiko kesalahan.
AI untuk Kemanusiaan
Kasus di Seoul menunjukkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan tidak selalu berkaitan dengan otomatisasi pekerjaan, pembuatan konten digital, atau pengembangan layanan komersial.
Dalam konteks tertentu, AI dapat menjadi alat deteksi dini yang membantu menyelamatkan nyawa manusia. Dengan kemampuan memproses data dalam jumlah besar dan mengenali pola perilaku yang sulit dipantau secara manual, teknologi ini memberikan kesempatan bagi petugas untuk bertindak lebih cepat sebelum terjadi tragedi.
Pengalaman Korea Selatan juga memperlihatkan bagaimana inovasi teknologi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan sosial yang kompleks, termasuk kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Meski belum sempurna, pemanfaatan AI sebagai sistem peringatan dini menjadi contoh bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung upaya kemanusiaan dan memberikan harapan bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Bagi siapa pun yang sedang mengalami tekanan emosional, depresi, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, penting untuk segera mencari bantuan profesional dan berbicara dengan orang terpercaya. Dukungan yang tepat dapat menjadi langkah awal untuk menemukan jalan keluar dan mencegah keputusan yang tidak dapat diperbaiki.
