AI Workflow Automation, Begini Cara Kerja dan Manfaatnya


Ilustrasi Agentic AI di Perusahaan

Ilustrasi Agentic AI di Perusahaan

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak lagi sebatas kemampuan chatbot untuk menjawab pertanyaan atau menghasilkan gambar. Teknologi ini mulai masuk lebih jauh ke dalam aktivitas bisnis dengan membantu perusahaan menjalankan berbagai pekerjaan secara otomatis, terstruktur, dan saling terhubung. Salah satu penerapannya dikenal sebagai AI workflow automation.

Secara sederhana, AI workflow automation adalah penggunaan teknologi AI untuk mengotomatiskan serangkaian pekerjaan dalam sebuah alur kerja. Sistem tidak hanya menjalankan tugas yang berulang, tetapi juga dapat memahami informasi, menganalisis data, menentukan tindakan berikutnya, hingga berinteraksi dengan berbagai aplikasi atau layanan lain.

Konsep tersebut menjadi semakin penting ketika perusahaan menjalankan transformasi digital. Dalam proses bisnis tradisional, banyak pekerjaan masih bergantung pada manusia, mulai dari memasukkan data, memeriksa dokumen, mengirimkan informasi, hingga membuat laporan. Proses semacam ini dapat membutuhkan banyak waktu dan berisiko menimbulkan kesalahan.

Dengan AI workflow, sebagian pekerjaan tersebut dapat dijalankan secara otomatis. Manusia tetap dapat terlibat, terutama dalam pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan, kreativitas, komunikasi, atau pengambilan keputusan strategis.

 

Memahami Konsep AI Workflow

AI workflow atau alur kerja berbasis AI merupakan rangkaian proses yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk menjalankan, mengoordinasikan, atau meningkatkan pekerjaan tertentu di dalam organisasi.

Penerapannya dapat sangat sederhana. Misalnya, sebuah perusahaan menerima ratusan tiket keluhan pelanggan setiap hari. Sistem AI dapat membaca isi setiap tiket, memahami permasalahannya, kemudian mengelompokkannya berdasarkan kategori seperti pembayaran, produk, pengiriman, atau masalah teknis.

Setelah diklasifikasikan, tiket tersebut dapat diteruskan secara otomatis kepada tim yang sesuai. Dengan cara ini, karyawan tidak perlu membaca dan memilah setiap tiket secara manual.

Pada tingkat yang lebih kompleks, AI workflow dapat melibatkan beberapa sistem dan AI agent sekaligus. Misalnya, dalam proses pembuatan laporan riset, satu AI agent dapat mencari informasi, agent lain menganalisis data, sementara agent berikutnya menyusun laporan. Seluruh proses tersebut dapat dikoordinasikan oleh sistem yang bertugas memastikan setiap tahapan berjalan sesuai urutan.

Perkembangan model AI generatif, AI agent, API, machine learning, serta platform otomatisasi membuat kemungkinan penerapan AI workflow semakin luas.

Penelitian IBM Institute for Business Value menunjukkan bahwa 82 persen eksekutif operasional dari berbagai industri memperkirakan otomatisasi proses dan perancangan ulang workflow akan menjadi lebih efektif berkat AI agent pada 2027.

Artinya, AI tidak hanya digunakan sebagai alat bantu individual. Teknologi ini mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari fondasi operasional perusahaan.

 

Dari Otomatisasi Tradisional ke AI Workflow

Sebelum AI berkembang seperti sekarang, perusahaan sebenarnya sudah lama menggunakan teknologi untuk mengotomatiskan pekerjaan. Salah satu contohnya adalah Robotic Process Automation atau RPA.

RPA dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan berulang seperti menyalin data, mengisi formulir, memindahkan file, atau memasukkan informasi dari satu sistem ke sistem lainnya.

Namun, otomatisasi tradisional umumnya bekerja berdasarkan aturan yang telah ditentukan sebelumnya. Jika kondisi yang dihadapi berbeda dari aturan tersebut, sistem dapat mengalami kesulitan untuk menentukan tindakan berikutnya.

AI workflow membawa kemampuan yang lebih adaptif.

Sistem AI dapat memahami bahasa manusia, membaca dokumen, menganalisis data, mengenali pola, dan menggunakan informasi tersebut untuk menentukan tindakan. Karena itu, AI workflow dapat menangani proses yang lebih dinamis dibandingkan otomatisasi berbasis aturan sederhana.

Perubahan ini juga mendorong munculnya konsep agentic AI, yaitu sistem AI yang dapat menjalankan serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan tertentu dengan tingkat kemandirian yang lebih tinggi.

 

Komponen Utama AI Workflow Automation

AI workflow automation tidak berdiri di atas satu teknologi saja. Di belakangnya terdapat sejumlah komponen yang saling terhubung untuk membuat sebuah proses dapat berjalan dari awal hingga akhir.

  1. AI Agent
    AI agent merupakan salah satu komponen penting dalam AI workflow modern. AI agent adalah sistem perangkat lunak yang dapat menjalankan tugas secara relatif mandiri untuk mencapai tujuan tertentu. Berbeda dari model AI yang hanya memberikan jawaban setelah menerima perintah, AI agent dapat merencanakan beberapa langkah dan menggunakan berbagai alat untuk menyelesaikan pekerjaan.

    Misalnya, perusahaan meminta AI agent membuat dokumen briefing mengenai sebuah perusahaan. Agent tersebut dapat mencari informasi, mengumpulkan data dari berbagai sumber, menganalisis informasi, menyusun poin penting, kemudian membuat dokumen akhir.

    Dalam workflow yang lebih kompleks, perusahaan dapat menggunakan multi-agent system. Beberapa agent dengan kemampuan berbeda bekerja bersama. Satu agent dapat bertugas melakukan riset, agent lainnya menganalisis data, dan agent lain bertanggung jawab menyusun hasil. Koordinasi antartugas tersebut dapat dilakukan oleh agent supervisor atau sistem orkestrasi.

  2. API
    API atau Application Programming Interface memungkinkan berbagai aplikasi perangkat lunak saling berkomunikasi dan bertukar data. Dalam AI workflow, API berfungsi sebagai penghubung antara AI dengan layanan lain.

    Sebagai contoh, ketika sebuah aplikasi membutuhkan data pelanggan dari sistem CRM, aplikasi tersebut dapat menggunakan API untuk mengambil informasi yang diperlukan. AI kemudian dapat mengolah informasi tersebut dan menghasilkan tindakan atau rekomendasi.

    API juga memungkinkan workflow terhubung dengan layanan pembayaran, email, kalender, database, sistem pelanggan, hingga berbagai platform bisnis lainnya. Tanpa koneksi semacam ini, AI akan memiliki kemampuan yang jauh lebih terbatas karena hanya bekerja di dalam satu lingkungan.

  3. Business Process Automation
    Business Process Automation atau BPA merupakan pendekatan untuk mengotomatiskan proses bisnis yang kompleks dan berulang menggunakan perangkat lunak.

    Contohnya adalah pemrosesan pesanan, pengelolaan akun pelanggan, onboarding karyawan, penggajian, hingga berbagai pekerjaan administratif. Salah satu teknologi yang berada dalam ekosistem otomatisasi tersebut adalah RPA. Teknologi ini dapat menjalankan tugas rutin seperti memindahkan data, mengisi formulir, membaca informasi dari sistem tertentu, atau memindahkan dokumen.

    Ketika BPA digabungkan dengan AI, otomatisasi tidak hanya menjalankan aturan tetap, tetapi juga dapat memahami informasi dan menyesuaikan proses berdasarkan kondisi yang ditemukan.

  4. Generative AI
    Generative AI atau Gen AI merupakan teknologi AI yang dapat menghasilkan konten baru berdasarkan instruksi pengguna. Konten tersebut dapat berupa teks, gambar, audio, video, hingga kode perangkat lunak. Dalam AI workflow, Gen AI dapat digunakan untuk membuat ringkasan dokumen, menyusun email, menghasilkan laporan, menganalisis informasi, menerjemahkan teks, atau membuat kode.

    Sebagai contoh, ketika perusahaan menerima ratusan email pelanggan, Gen AI dapat membantu membaca pesan tersebut, memahami maksud pelanggan, membuat rangkuman, kemudian menyusun draf jawaban.

    Karyawan tetap dapat melakukan pemeriksaan sebelum jawaban dikirim. Dengan demikian, AI mengambil alih pekerjaan yang memakan waktu, sementara manusia tetap menjalankan kontrol terhadap hasil akhir.

  5. Intelligent Automation
    Intelligent automation menggabungkan kemampuan otomatisasi dengan kecerdasan AI. Teknologi ini memungkinkan sistem tidak hanya melakukan tugas, tetapi juga membantu proses pengambilan keputusan.

    Dalam industri asuransi, misalnya, intelligent automation dapat membantu menghitung pembayaran, memperkirakan tarif, memproses dokumen, serta mendukung kebutuhan kepatuhan terhadap regulasi.

    Kemampuan tersebut membuat otomatisasi dapat diterapkan pada proses yang sebelumnya membutuhkan analisis manusia.

  6. Machine Learning
    Machine learning atau ML merupakan cabang AI yang memungkinkan sistem mempelajari pola berdasarkan data. Semakin banyak data berkualitas yang tersedia, sistem dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenali pola dan menghasilkan prediksi.

    Salah satu bagian dari machine learning adalah deep learning. Teknologi ini menggunakan jaringan saraf berlapis untuk menangani pola yang kompleks. Dalam AI workflow, machine learning dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya mendeteksi transaksi yang mencurigakan, memprediksi permintaan pelanggan, mengelompokkan data, atau menentukan prioritas suatu pekerjaan.

  7. Natural Language Processing
    Natural Language Processing atau NLP memungkinkan komputer memahami bahasa manusia. Teknologi ini menjadi penting karena sebagian besar informasi bisnis berbentuk bahasa, baik dalam email, dokumen, laporan, percakapan, maupun pesan pelanggan.

    Perusahaan jasa keuangan, misalnya, dapat menggunakan NLP untuk membaca laporan keuangan yang panjang dan mengidentifikasi informasi tertentu. NLP juga dapat digunakan untuk memahami pertanyaan pelanggan, mengelompokkan keluhan, melakukan analisis sentimen, hingga membantu pencarian informasi dalam dokumen internal.

  8. Optical Character Recognition
    Optical Character Recognition atau OCR merupakan teknologi yang mengubah teks dalam gambar atau dokumen fisik menjadi data digital yang dapat dibaca komputer. Teknologi ini sangat berguna bagi organisasi yang masih memiliki banyak arsip dalam bentuk dokumen cetak.

    Misalnya, dokumen lama dapat dipindai dan diproses menggunakan OCR. Teks yang sebelumnya hanya dapat dibaca manusia kemudian dapat disimpan dalam database dan diproses menggunakan sistem AI.

    Ketika OCR dikombinasikan dengan NLP dan Gen AI, perusahaan dapat membangun workflow pemrosesan dokumen yang lebih canggih. Sistem dapat membaca dokumen, memahami isinya, mengambil informasi penting, lalu memasukkannya ke dalam sistem perusahaan.

  9. Orchestration Layer
    Semakin banyak AI agent dan aplikasi yang digunakan, semakin penting sebuah sistem yang mampu mengatur seluruh proses tersebut. Di sinilah orchestration layer berperan. Teknologi ini dapat diibaratkan sebagai konduktor dalam sebuah orkestra. Jika dalam orkestra terdapat banyak pemain dengan instrumen berbeda, orchestration layer memastikan setiap komponen AI dan sistem bekerja pada waktu dan urutan yang tepat.

    Orchestration layer dapat menentukan agent mana yang bekerja lebih dulu, API apa yang perlu digunakan, data mana yang harus diteruskan, serta kapan sebuah proses dianggap selesai. Komponen ini menjadi semakin penting ketika perusahaan mulai membangun workflow multi-agent yang terdiri dari banyak tahapan.

 

Manfaat AI Workflow Automation bagi Bisnis

Penerapan AI workflow dapat memberikan dampak terhadap berbagai aspek operasional perusahaan.

  • Mengotomatiskan Tugas Berulang
    Salah satu manfaat paling mudah terlihat adalah berkurangnya pekerjaan manual. Tugas seperti memasukkan data, mengelompokkan dokumen, membuat ringkasan, menjawab pertanyaan sederhana, dan memindahkan informasi antarplatform dapat ditangani sistem.

    Dengan demikian, karyawan dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk pekerjaan yang membutuhkan kemampuan manusia, seperti membangun hubungan dengan pelanggan, berkomunikasi, melakukan negosiasi, dan menciptakan strategi baru.

  • Menghemat Biaya Operasional
    Otomatisasi dapat mengurangi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Ketika pekerjaan rutin dapat diselesaikan oleh sistem, karyawan dapat lebih fokus pada aktivitas yang memberikan nilai lebih tinggi bagi perusahaan.

    AI workflow juga dapat mengurangi hambatan dalam proses pertukaran informasi. Data yang sebelumnya harus dipindahkan secara manual dapat mengalir secara otomatis dari satu sistem ke sistem lainnya.

  • Mengurangi Kesalahan Manusia
    Pekerjaan berulang dapat meningkatkan risiko kesalahan karena manusia bisa kehilangan konsentrasi atau salah memasukkan informasi. AI workflow dapat membantu mengurangi risiko tersebut dengan menjalankan proses berdasarkan aturan dan data yang telah ditentukan.

    Namun, otomatisasi bukan berarti hasilnya selalu benar. Sistem AI tetap dapat menghasilkan kesalahan, terutama ketika data yang digunakan tidak lengkap, tidak akurat, atau konteksnya sulit dipahami. Karena itu, pengawasan manusia tetap penting, terutama untuk proses yang memiliki dampak besar.

  • Membantu Pengambilan Keputusan
    AI mampu memproses data dalam jumlah besar dan menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan.

    Dalam pemasaran, misalnya, AI workflow dapat menganalisis performa kampanye dan membantu menentukan segmen pelanggan yang memiliki respons terbaik. Dashboard yang terhubung dengan workflow juga memungkinkan perusahaan memantau indikator penting secara real-time.

    Ketika terjadi perubahan atau masalah, sistem dapat memberikan peringatan sehingga tim dapat mengambil tindakan lebih cepat.

  • Meningkatkan Pengalaman Pelanggan
    AI workflow juga dapat digunakan untuk meningkatkan layanan pelanggan. Chatbot dan virtual assistant dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan sederhana tanpa pelanggan harus selalu menunggu petugas.

    Jika pertanyaan membutuhkan penanganan manusia, sistem dapat mengumpulkan informasi awal dan meneruskan kasus tersebut kepada petugas yang tepat. Dengan cara tersebut, pelanggan tidak perlu mengulangi informasi yang sama berkali-kali.

    Penggunaan agentic AI bahkan dapat membantu mempercepat proses onboarding pelanggan. Avid Solutions, misalnya, dilaporkan mampu mengurangi waktu onboarding pelanggan baru sebesar 25 persen melalui penggunaan agentic AI.

  • Mengoptimalkan Proses dalam Skala Besar
    Pertumbuhan bisnis biasanya membuat jumlah transaksi, pelanggan, dokumen, dan permintaan ikut meningkat. Jika seluruh proses masih bergantung pada manusia, perusahaan mungkin harus menambah tenaga kerja secara proporsional.

    AI workflow menawarkan pendekatan berbeda. Sistem dapat membantu meningkatkan kapasitas pemrosesan tanpa selalu membutuhkan peningkatan sumber daya manusia dalam jumlah yang sama.

    Informasi juga dapat diteruskan secara otomatis ke bagian organisasi yang membutuhkan. Hal ini membuat perusahaan lebih mudah mengelola proses dalam skala besar.

 

Berbagai Tools untuk AI Workflow

Perkembangan AI workflow melahirkan banyak platform dengan fungsi yang berbeda.

  • Apollo.io dapat membantu organisasi menemukan prospek dan mengelola proses engagement menggunakan workflow berbasis AI. Platform ini dapat digunakan untuk kebutuhan sales engagement, inbound marketing, dan pengelolaan CRM.
  • ChatGPT dari OpenAI dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan, membuat konten, menganalisis informasi, merangkum dokumen, hingga membantu berbagai pekerjaan berbasis teks dan data.
  • Claude dari Anthropic dapat membantu meringkas dokumen panjang, membuat konten, menerjemahkan bahasa, dan membantu pemrograman. Platform ini juga mengembangkan kemampuan berbasis agent untuk mendelegasikan pekerjaan tertentu kepada AI.
  • Google Gemini merupakan layanan generative AI yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Integrasinya dengan layanan seperti Gmail, Docs, dan Sheets membuka peluang untuk memasukkan AI secara langsung ke dalam workflow sehari-hari.
  • IBM watsonx merupakan rangkaian teknologi AI untuk membantu organisasi membangun, menyesuaikan, dan menerapkan solusi AI. Platform ini dapat digunakan untuk mengolah data, membangun chatbot dan voice agent, serta mendukung pengembangan aplikasi.
  • IBM watsonx Orchestrate berfokus pada pengelolaan AI agent dan workflow. Organisasi dapat menggunakan agent dan tools yang tersedia maupun membangun kemampuan sendiri sesuai kebutuhan.
  • Microsoft Copilot mengintegrasikan generative AI ke dalam berbagai produk Microsoft. Pengguna dapat memanfaatkan AI dalam aplikasi seperti Teams, Outlook, dan PowerPoint sehingga pekerjaan tertentu dapat dilakukan tanpa harus berpindah platform.
  • Zapier menyediakan platform otomatisasi yang memungkinkan berbagai aplikasi saling terhubung. Pengguna dapat membuat workflow berdasarkan pemicu dan tindakan, termasuk workflow yang memanfaatkan AI, tanpa harus memiliki kemampuan pemrograman tingkat lanjut.

Beragam tools tersebut menunjukkan bahwa AI workflow tidak lagi terbatas pada perusahaan teknologi besar. Bisnis dengan kebutuhan berbeda dapat memilih platform berdasarkan proses yang ingin diotomatisasi, tingkat kompleksitas, sistem yang sudah digunakan, serta kemampuan sumber daya manusia..

 

Contoh Penggunaan AI Workflow

Setelah memahami komponen dan manfaat AI Workflow Automation, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam aktivitas bisnis sehari-hari. Pada praktiknya, AI workflow tidak hanya diterapkan pada perusahaan teknologi. Teknologi ini dapat digunakan dalam layanan pelanggan, pengelolaan hubungan pelanggan, keuangan, operasional, rekrutmen, penjualan, hingga pemeliharaan mesin.

Kemampuan AI untuk membaca data, memahami bahasa, mengenali pola, membuat prediksi, dan menjalankan sejumlah tugas secara otomatis membuat penerapannya semakin luas. Workflow yang sebelumnya membutuhkan banyak pekerjaan manual dapat dirancang agar sebagian prosesnya berjalan secara otomatis.

Namun, penerapan AI workflow bukan sekadar memasang sebuah perangkat lunak kemudian membiarkannya bekerja sendiri. Organisasi tetap perlu memahami proses bisnis, menyiapkan data, menentukan batas kewenangan AI, serta memastikan manusia tetap dapat melakukan pemeriksaan ketika diperlukan.

Berikut sejumlah contoh penggunaan AI workflow yang umum ditemukan dalam aktivitas organisasi.

  • Layanan Pelanggan
    Layanan pelanggan menjadi salah satu area yang paling mudah mendapatkan manfaat dari AI workflow. Organisasi dapat menggunakan teknologi ini untuk menangani berbagai tahapan interaksi dengan pelanggan, mulai dari proses penerimaan pelanggan baru hingga penyampaian informasi mengenai pembelian.

    AI workflow juga dapat membantu menangani permintaan layanan yang masuk. Sistem dapat membaca pesan pelanggan, memahami masalah yang disampaikan, mengelompokkan permintaan berdasarkan jenisnya, kemudian meneruskannya kepada petugas atau sistem yang sesuai.

    Cara ini memungkinkan petugas layanan pelanggan tidak perlu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan administratif. Mereka dapat lebih fokus menangani masalah yang membutuhkan penalaran, komunikasi, empati, atau keputusan manusia.

    Penerapan AI bahkan dapat masuk ke dalam percakapan langsung antara pelanggan dan petugas. Salah satu bank besar, misalnya, memperkenalkan asisten virtual berbasis AI yang dapat menganalisis percakapan selama panggilan pelanggan dan memberikan rekomendasi mengenai pertanyaan berikutnya yang sebaiknya diajukan petugas contact center.

    Penerapan tersebut menghasilkan penurunan waktu rata-rata penanganan pelanggan sebesar 6% sekaligus mengurangi kebutuhan pelatihan bagi petugas. Contoh tersebut menunjukkan bahwa AI workflow tidak selalu harus menggantikan manusia. AI justru dapat ditempatkan sebagai asisten yang memberikan informasi pada saat yang tepat sehingga petugas dapat bekerja lebih efektif.

  • Customer Relationship Management
    Customer Relationship Management atau CRM merupakan sistem yang digunakan organisasi untuk mengelola dan memantau hubungan dengan pelanggan. Dalam perkembangan terbaru, AI mulai menjadi bagian penting dari sistem CRM.

    AI workflow dapat membantu menggabungkan berbagai informasi yang berasal dari pelanggan yang sama. Data pembelian, interaksi, riwayat komunikasi, dan informasi dari sumber eksternal dapat disatukan sehingga perusahaan memiliki gambaran yang lebih lengkap mengenai pelanggan.

    Setelah data terkumpul, AI dapat menganalisisnya untuk menghasilkan wawasan yang dapat digunakan sebagai dasar tindakan.

    Salah satu contohnya adalah mendeteksi pelanggan yang memiliki kemungkinan berhenti menggunakan produk atau layanan. Kondisi ini sering disebut sebagai churn.Jika sistem menemukan pola yang menunjukkan pelanggan berisiko melakukan churn, perusahaan dapat mengambil tindakan lebih awal, misalnya memberikan penawaran khusus atau menghubungi pelanggan untuk mengetahui masalah yang mereka hadapi.

    AI juga dapat membantu menemukan pelanggan yang memiliki kemungkinan membeli produk atau layanan tambahan. Informasi tersebut dapat digunakan tim penjualan untuk menjalankan strategi upselling secara lebih tepat.

    Dengan demikian, AI workflow mengubah CRM dari sekadar tempat penyimpanan informasi pelanggan menjadi sistem yang dapat membantu perusahaan menentukan tindakan berikutnya.

  • Entri dan Pengelolaan Data
    Data merupakan bagian penting dalam hampir semua aktivitas bisnis. Namun, semakin besar organisasi, semakin banyak pula data yang harus dikumpulkan, diperiksa, disusun, dan diproses. Pekerjaan tersebut sering kali membutuhkan waktu dan dapat menimbulkan kesalahan apabila dilakukan sepenuhnya secara manual.

    AI workflow dapat membantu mengumpulkan data dari berbagai format dan sumber, kemudian menyusunnya agar lebih mudah dianalisis.

    Sistem juga dapat mengenali pola dalam kumpulan data yang besar dan kompleks. Pola tertentu yang sulit terlihat ketika manusia memeriksa data satu per satu dapat lebih mudah ditemukan menggunakan algoritma AI.

    Selain menemukan pola, AI workflow dapat membantu mendeteksi kemungkinan kesalahan dalam data. Ketika menemukan informasi yang tidak sesuai, sistem dapat memberikan peringatan kepada operator manusia atau, dalam kondisi tertentu, melakukan perbaikan secara otomatis.

    AI juga dapat mengambil informasi dari sumber eksternal dan memasukkannya ke sistem internal organisasi dalam format yang lebih terstruktur.

    Kemampuan tersebut sangat berguna bagi perusahaan yang harus menangani data dalam jumlah besar. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga dan waktu dapat diproses dengan lebih cepat dan konsisten.

  • Penetapan Harga Dinamis
    AI workflow juga dapat digunakan dalam strategi penetapan harga dinamis atau dynamic pricing. Dalam pendekatan ini, harga suatu produk atau layanan dapat disesuaikan berdasarkan kondisi tertentu, seperti tingkat permintaan, ketersediaan, acara khusus, maupun kondisi lingkungan.

    Layanan transportasi seperti Uber dan Lyft merupakan contoh penggunaan model harga yang dapat berubah berdasarkan sejumlah faktor. Ketika permintaan meningkat dan ketersediaan kendaraan terbatas, harga dapat mengalami perubahan.

    Konsep serupa juga mulai digunakan dalam berbagai industri lain. Maskapai penerbangan dan toko bahan makanan, misalnya, dapat memanfaatkan strategi dynamic pricing tertentu untuk menyesuaikan harga dengan kondisi pasar.

    AI workflow memungkinkan proses tersebut dilakukan secara lebih otomatis karena sistem dapat menerima data, menganalisis kondisi, dan membantu menentukan penyesuaian harga berdasarkan aturan maupun model yang telah ditentukan.

  • Pelaporan dan Pengelolaan Keuangan
    Sektor jasa keuangan merupakan salah satu bidang yang memiliki banyak peluang untuk memanfaatkan AI workflow. Organisasi dapat menggunakan AI untuk mengotomatiskan pembuatan faktur dan proses account payable atau pengelolaan kewajiban pembayaran perusahaan.

    Selain pekerjaan administratif, AI dapat digunakan untuk membantu menemukan indikasi penipuan maupun kesalahan dalam pengelolaan keuangan yang mungkin sulit ditemukan melalui pemeriksaan manual.

    Kemampuan AI dalam menganalisis data dalam jumlah besar juga membuka peluang untuk menghasilkan laporan keuangan yang lebih informatif.

    Studi IBM Institute for Business Value menunjukkan bahwa para eksekutif memperkirakan generative AI dapat meningkatkan kemampuan organisasi dalam memprediksi anomali, menjelaskan perbedaan atau penyimpangan dalam data keuangan, membuat berbagai skenario, serta menghasilkan laporan.

    Artinya, AI workflow dapat ditempatkan di berbagai tahap proses keuangan, mulai dari pekerjaan administratif hingga analisis yang membantu organisasi memahami kondisi bisnis.

  • Manajemen Pengetahuan
    Dalam organisasi modern, informasi tersebar di berbagai tempat. Dokumen, email, percakapan, hasil rapat, laporan, dan berbagai catatan internal dapat menjadi sumber pengetahuan penting. Masalahnya, informasi tersebut tidak selalu mudah ditemukan ketika dibutuhkan. AI workflow dapat membantu mengatasi persoalan tersebut melalui sistem manajemen pengetahuan yang lebih otomatis.

    Sebagai contoh, AI dapat mengubah percakapan telepon menjadi teks kemudian menghasilkan ringkasan rapat. Dengan cara tersebut, peserta rapat dapat lebih fokus mengikuti pembahasan tanpa harus sibuk mencatat setiap detail.

    Setelah rapat selesai, hasil pembicaraan dan poin penting tetap tersedia dalam bentuk informasi yang lebih mudah dicari dan digunakan.

    AI juga dapat membantu menyederhanakan distribusi informasi. Informasi tertentu dapat diberikan kepada seluruh organisasi, sementara informasi yang lebih spesifik dapat diarahkan kepada kelompok atau individu yang membutuhkan.Karyawan kemudian dapat menggunakan AI assistant atau chatbot untuk mencari dan menganalisis informasi perusahaan. Mereka tidak harus membuka satu per satu dokumen untuk menemukan jawaban yang diperlukan.Jika diterapkan dengan baik, pendekatan ini dapat membuat pengetahuan organisasi lebih mudah diakses hampir secara real-time.

  • Manajemen Operasional
    AI workflow juga dapat membantu perusahaan mengelola kegiatan operasional. Penerapannya dapat mencakup pengelolaan persediaan, optimalisasi rantai pasok, pemantauan proses produksi, hingga pengendalian kualitas.

    Misalnya, sistem dapat memantau tingkat persediaan dan permintaan produk. Ketika AI memprediksi bahwa sebuah produk berpotensi habis karena permintaan tinggi dan stok terbatas, workflow dapat mengambil tindakan berikutnya.

    Dalam skenario tertentu, sistem dapat menghubungi pemasok dan membuat permintaan atau pemesanan tambahan secara otomatis. Proses semacam ini mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan manual. Karyawan tidak harus terus-menerus memantau setiap perubahan persediaan karena sistem dapat memberikan peringatan atau menjalankan tindakan yang telah ditentukan.

    Dengan demikian, AI workflow dapat membantu organisasi bergerak dari pola kerja reaktif menjadi lebih proaktif.

  • Predictive Analytics
    Kemampuan AI untuk mempelajari pola dari data historis membuatnya cocok digunakan dalam predictive analytics atau analitik prediktif. Algoritma machine learning dapat memeriksa data masa lalu dan berbagai faktor eksternal untuk memperkirakan kemungkinan kondisi yang akan terjadi di masa depan.

    Dalam bisnis ritel, misalnya, sistem dapat mempelajari hubungan antara kondisi cuaca dan permintaan produk tertentu. Jika sistem memprediksi suhu udara akan meningkat, perusahaan dapat memperkirakan kemungkinan kenaikan permintaan minuman. Workflow kemudian dapat membantu melakukan pemesanan tambahan sebelum permintaan benar-benar meningkat.

    Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan mengambil keputusan berdasarkan prediksi, bukan hanya menunggu perubahan terjadi. Data historis menjadi dasar pembelajaran, sementara data terbaru dan faktor eksternal digunakan untuk memperbarui prediksi.

  • Predictive Maintenance
    Di sektor industri, AI workflow dapat digunakan untuk menjalankan predictive maintenance atau pemeliharaan prediktif. Dalam pendekatan tradisional, mesin mungkin diperiksa berdasarkan jadwal tertentu atau baru diperbaiki setelah mengalami kerusakan. Keduanya memiliki keterbatasan.

    AI workflow menawarkan pendekatan berbeda dengan memantau data kinerja peralatan secara terus-menerus. Dari data tersebut, sistem dapat mencari pola yang menunjukkan kemungkinan terjadinya gangguan atau kerusakan. Jika potensi kerusakan terdeteksi, perusahaan dapat menjadwalkan perawatan sebelum mesin benar-benar mengalami kegagalan.

    Waktu pemeliharaan juga dapat dipilih agar memberikan dampak sekecil mungkin terhadap kegiatan operasional.

    IBM, misalnya, membantu Toyota meningkatkan kemampuan predictive maintenance menggunakan AI. Penerapan tersebut menghasilkan pengurangan downtime sebesar 50% dan penurunan kerusakan mesin sebesar 80%.Bagi industri yang sangat bergantung pada mesin, kemampuan memprediksi masalah sebelum terjadi dapat memberikan pengaruh besar terhadap efisiensi operasional.

  • Rekrutmen dan Perekrutan Karyawan
    AI workflow juga mulai digunakan dalam proses perekrutan karyawan. Perusahaan dapat menggunakan perangkat lunak berbasis AI untuk memindai CV atau resume dan menemukan kandidat yang sesuai dengan kriteria tertentu. AI kemudian dapat membantu proses administratif lainnya, seperti menjadwalkan panggilan awal dengan kandidat.

    Ketika kandidat sudah diterima, workflow berbasis AI dapat diteruskan ke tahap onboarding. Sistem dapat membantu menyiapkan informasi, materi pelatihan, maupun layanan yang dibutuhkan karyawan baru.

    Corning bekerja sama dengan IBM untuk mengurangi biaya HR sekaligus meningkatkan pengalaman sekitar 45.000 karyawan. Perusahaan tersebut melihat semakin besarnya proporsi generasi milenial dalam tenaga kerjanya dan ingin menyediakan lebih banyak layanan mandiri berbasis teknologi. Corning kemudian memperkenalkan portal HR self-service yang dilengkapi data masing-masing karyawan. Portal berbasis cloud tersebut membantu karyawan mendapatkan informasi dan layanan yang mereka perlukan. Platform itu tercatat menerima lebih dari 10.000 kunjungan setiap hari dari karyawan dan manajer yang mencari informasi maupun pelatihan.

    Contoh tersebut memperlihatkan bahwa AI workflow tidak hanya digunakan untuk kepentingan pelanggan. Karyawan di dalam organisasi juga dapat menjadi pengguna utama sistem otomatisasi.

  • Penjualan dan Upselling
    Dalam bidang penjualan, AI workflow dapat membantu perusahaan menentukan calon pelanggan yang memiliki peluang pembelian paling besar. Sistem dapat menganalisis data prospek dan menggunakan metode lead scoring untuk memberikan prioritas kepada calon pelanggan tertentu. Dengan demikian, tenaga penjualan tidak perlu memperlakukan seluruh prospek dengan cara yang sama.

    Mereka dapat memusatkan perhatian pada calon pelanggan yang memiliki kemungkinan konversi lebih tinggi. Generative AI dan Large Language Models atau LLM juga dapat membantu tenaga penjualan menyiapkan materi komunikasi.

    AI dapat membantu menyusun argumen mengenai manfaat produk, menyesuaikan pesan dengan kebutuhan calon pelanggan, serta membantu mempersiapkan komunikasi lanjutan.

    Teknologi tersebut membuat workflow penjualan tidak hanya berfungsi untuk mengelola data prospek, tetapi juga membantu tim penjualan menjalankan interaksi dengan calon pelanggan secara lebih terarah.

 

Tantangan dalam Menerapkan AI Workflow

Meskipun menawarkan berbagai manfaat, AI workflow bukan teknologi yang dapat diterapkan tanpa persiapan. Ketika AI mulai masuk ke dalam proses penting perusahaan, organisasi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap karyawan, sistem yang sudah berjalan, kualitas data, serta proses pengambilan keputusan.

Ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan sebelum AI workflow diterapkan secara luas.

  • Kekhawatiran Karyawan
    Salah satu tantangan terbesar berasal dari manusia yang akan menggunakan teknologi tersebut. Karyawan dapat merasa khawatir ketika melihat AI mengambil alih pekerjaan manual yang sebelumnya mereka kerjakan. Kekhawatiran tersebut dapat semakin besar jika perusahaan tidak menjelaskan tujuan penerapan AI secara terbuka.

    Karena itu, organisasi perlu menjelaskan bahwa AI workflow seharusnya tidak hanya dipandang sebagai alat untuk menggantikan pekerjaan manusia. AI dapat digunakan untuk mengurangi pekerjaan yang berulang sehingga karyawan memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan aktivitas yang membutuhkan kemampuan manusia.

    Komunikasi yang transparan menjadi penting. Pimpinan perlu menjelaskan perubahan yang akan terjadi, pekerjaan apa yang akan terdampak, keterampilan apa yang diperlukan, serta bagaimana perusahaan membantu karyawan beradaptasi.

    Dengan rencana transformasi yang jelas, AI dapat lebih mudah diterima sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas daripada sekadar ancaman terhadap pekerjaan.

  • Persiapan dan Implementasi Awal
    Membangun AI workflow membutuhkan persiapan. Perusahaan tidak dapat langsung mengotomatiskan seluruh proses tanpa memahami bagaimana pekerjaan tersebut berjalan. Tahap awal perlu dimulai dengan mempelajari sistem yang sudah digunakan dan memetakan proses bisnis yang berlangsung.

    Dari pemetaan tersebut, organisasi dapat menentukan bagian mana yang paling cocok untuk ditingkatkan menggunakan AI. Tidak semua pekerjaan harus diotomatisasi. Proses yang memiliki aturan jelas dan banyak pekerjaan berulang mungkin menjadi kandidat yang lebih baik dibandingkan pekerjaan yang membutuhkan penilaian manusia secara mendalam.

    Perusahaan juga harus menentukan perubahan yang diperlukan agar workflow baru dapat terintegrasi dengan sistem lama. Tahap persiapan memang membutuhkan waktu dan pola pikir strategis. Namun, pekerjaan awal tersebut penting untuk memastikan AI workflow benar-benar menghasilkan nilai ketika mulai digunakan dalam operasional sehari-hari.

  • Kemungkinan Terjadinya Kesalahan
    AI dapat membantu mengurangi kesalahan manusia, tetapi bukan berarti AI selalu benar. Sistem AI dapat menghasilkan informasi yang tidak tepat atau mengambil keputusan berdasarkan data yang kurang lengkap.

    Karena itu, organisasi tetap perlu melakukan pemeriksaan terhadap data dan hasil yang diberikan AI. Untuk proses tertentu, manusia perlu ditempatkan sebagai pemeriksa akhir. Pendekatan ini memastikan keputusan penting tidak sepenuhnya diserahkan kepada sistem otomatis.

    Pengetahuan, pengalaman, dan penilaian manusia tetap diperlukan untuk menentukan apakah hasil yang diberikan AI sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dengan kata lain, semakin penting dampak sebuah workflow, semakin penting pula perusahaan menentukan tingkat pengawasan manusia yang diperlukan.

  • Upskilling dan Reskilling
    Penerapan AI workflow juga membawa perubahan terhadap keterampilan yang dibutuhkan tenaga kerja. Sebagian workflow mungkin dapat digunakan tanpa mengubah cara karyawan bekerja secara signifikan. Namun, penerapan teknologi yang lebih kompleks dapat membutuhkan kemampuan baru.

    Karena itu, organisasi perlu memberikan pelatihan agar karyawan memahami cara menggunakan AI dan berbagai tools yang tersedia. Pelatihan tidak hanya bertujuan agar karyawan mampu menjalankan perangkat lunak. Mereka juga perlu memahami kapan AI dapat digunakan, bagaimana memeriksa hasilnya, serta kapan keputusan harus dikembalikan kepada manusia.

    Program upskilling dapat membantu karyawan meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki, sedangkan reskilling membantu mereka mempelajari keterampilan baru untuk menghadapi perubahan pekerjaan. Keduanya menjadi semakin penting ketika AI workflow berkembang dari sekadar otomatisasi tugas menjadi bagian dari proses bisnis utama.

Pada akhirnya, keberhasilan AI workflow tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model AI yang digunakan. Kualitas data, kesiapan sistem, kemampuan karyawan, desain proses, serta cara organisasi mengelola perubahan juga menjadi bagian penting dari penerapannya.

Semakin banyak proses bisnis yang terhubung dengan AI, semakin penting pula bagi perusahaan memahami bagaimana manusia dan mesin dapat bekerja bersama dalam satu workflow yang terstruktur, aman, dan dapat dikendalikan.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait