Intel Ungkap Peluang AI untuk Percepat Layanan Kesehatan


James Tan Director Health and Cities Division Intel Corporation

James Tan Director Health and Cities Division Intel Corporation

Transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia memasuki babak baru. Kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan, melainkan telah menjadi kebutuhan nyata untuk membantu rumah sakit meningkatkan kualitas layanan, efisiensi operasional, dan akses kesehatan bagi masyarakat.

Perkembangan ini menjadi salah satu fokus utama dalam ajang Healthcare Executive Roundtable 2026 yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di bidang kesehatan dan teknologi. Dalam kesempatan tersebut, Director Health and Cities Division Intel Corporation, James Tan, memaparkan bagaimana AI berpotensi menjadi fondasi utama dalam membangun sistem layanan kesehatan yang lebih modern, cerdas, dan berkelanjutan di Indonesia.

Menurut James Tan, Indonesia saat ini berada pada titik penting transformasi kesehatan nasional. Berbagai tantangan yang selama ini membebani sistem kesehatan justru menjadi pendorong lahirnya inovasi berbasis teknologi.

“Indonesia sedang berada pada momen yang sangat menentukan. Tekanan terhadap sistem kesehatan memang besar, tetapi pada saat yang sama dukungan pemerintah, kesiapan infrastruktur digital, dan kemajuan AI menciptakan peluang yang belum pernah sebesar ini sebelumnya,” ujar James Tan.

 

Tantangan Besar Sistem Kesehatan Indonesia

Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar dalam sektor kesehatan. Salah satu yang paling krusial adalah keterbatasan tenaga medis, khususnya dokter spesialis.

Berdasarkan data yang dipaparkan Intel, Indonesia masih membutuhkan sekitar 29.000 dokter spesialis tambahan untuk melayani lebih dari 280 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Kondisi tersebut diperparah dengan fakta bahwa hanya sekitar 65 persen puskesmas yang telah memenuhi standar kebutuhan tenaga kesehatan dasar.

Selain persoalan sumber daya manusia, Indonesia juga menghadapi peningkatan kasus penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Di sisi lain, jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat sehingga kebutuhan layanan kesehatan menjadi semakin tinggi dari tahun ke tahun.

Tantangan lainnya adalah masih rendahnya belanja kesehatan nasional yang berada di kisaran 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya.

Kondisi tersebut membuat sektor kesehatan membutuhkan pendekatan baru yang lebih efisien dan mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas. Di sinilah AI dinilai memiliki peran yang sangat strategis.

 

Dukungan Pemerintah Percepat Transformasi

Meski menghadapi berbagai tantangan, Indonesia juga memiliki modal besar untuk melakukan transformasi kesehatan.

Pemerintah telah mengalokasikan anggaran kesehatan tahun 2026 sebesar Rp244 triliun atau sekitar US$15 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai program prioritas, mulai dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pembangunan fasilitas kesehatan, hingga program pemeriksaan kesehatan gratis.

Selain itu, pemerintah juga menargetkan percepatan pendidikan dan pengembangan sekitar 70.000 dokter spesialis, termasuk tenaga profesional yang memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi AI.

Transformasi digital bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas utama dalam Rencana Strategis (Renstra) Kesehatan 2025–2029.

“Ketika kebijakan, investasi, dan teknologi bergerak ke arah yang sama, maka peluang untuk menciptakan perubahan besar menjadi jauh lebih tinggi,” kata James Tan.

James Tan Director Health and Cities Division Intel Corporation

Momentum AI Sedang Terbuka Lebar

Menurut Intel, saat ini merupakan waktu yang paling tepat bagi rumah sakit untuk mulai mengadopsi AI secara lebih luas.

Kesiapan tersebut terlihat dari perkembangan ekosistem digital kesehatan nasional. Lebih dari 270 juta rekam medis pasien telah terintegrasi ke dalam platform SATUSEHAT, sementara sekitar 95 persen rumah sakit di Indonesia telah terhubung dengan sistem tersebut.

Tidak hanya itu, sebanyak 84 persen tenaga kesehatan di Indonesia meyakini bahwa AI dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Intel juga mengungkap contoh nyata implementasi AI di Indonesia. Salah satu rumah sakit di Jakarta berhasil mengurangi waktu penyelesaian pemeriksaan radiologi hingga sekitar 50 persen setelah memanfaatkan teknologi AI dalam proses analisis dan pelaporan.

“Anggaran, platform, dan mandat AI kini telah selaras. Delapan belas bulan ke depan akan menentukan rumah sakit mana yang mampu mengubah momentum ini menjadi hasil yang nyata dan terukur,” tegas James Tan.

 

Intel Menjadi Fondasi Ekosistem AI Kesehatan

Dalam transformasi ini, Intel tidak berperan sebagai penyedia layanan kesehatan secara langsung. Perusahaan teknologi tersebut lebih memosisikan diri sebagai penyedia infrastruktur dan fondasi teknologi yang memungkinkan berbagai solusi AI berjalan dengan optimal di lingkungan rumah sakit.

Intel menyediakan berbagai komponen penting seperti edge computing, AI inference, Agentic AI, hingga arsitektur referensi yang telah tervalidasi untuk berbagai skenario penggunaan di sektor kesehatan.

Di atas fondasi tersebut, berbagai mitra teknologi Intel mengembangkan aplikasi dan solusi yang dapat langsung digunakan oleh rumah sakit. Mitra tersebut antara lain Samsung, Qmed, MediScribe, Niramai, hingga Onyx.

“Intel berperan sebagai penyedia teknologi dan enabler ekosistem yang mendukung berbagai inovasi layanan kesehatan. Kami membantu memastikan solusi AI dapat berjalan secara efisien, aman, dan siap digunakan dalam lingkungan klinis,” jelas James Tan.

Saat ini Intel mengklaim telah mendukung lebih dari 3.000 implementasi solusi kesehatan di berbagai negara di dunia.

 

Perkuat Talenta Digital Melalui Kemitraan Strategis

Sebagai bagian dari komitmennya terhadap pengembangan teknologi di Indonesia, Intel juga menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan ICDEC yang berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia pada April 2026.

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan talenta semikonduktor, peningkatan kemampuan desain chip, serta penciptaan sumber daya manusia yang mampu mendukung kebutuhan industri teknologi masa depan. 

Selain itu, kolaborasi juga diarahkan untuk mengembangkan berbagai solusi di bidang kesehatan, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, serta infrastruktur kritis nasional. Intel juga akan berpartisipasi dalam penyusunan kebijakan strategis, penyelarasan standar industri global, hingga pengembangan kurikulum untuk mencetak talenta digital Indonesia.

“Lebih dari sekadar semikonduktor, Intel bekerja sama dengan pemerintah, universitas, dan pelaku industri untuk membangun talenta, kebijakan, serta kemampuan pengembangan produk di berbagai negara. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dalam ekosistem teknologi global,” ujar James Tan.

 

Berbagai Solusi AI Siap Diterapkan

Dalam acara tersebut, Intel bersama para mitranya juga mendemonstrasikan berbagai solusi AI yang telah siap diterapkan di rumah sakit Indonesia.

Samsung menampilkan teknologi AI Ultrasound yang membantu tenaga medis menginterpretasikan hasil USG secara otomatis. Teknologi ini dapat mempercepat proses diagnosis sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dokter spesialis.

Qmed memperkenalkan Unified Patient Monitoring, sebuah platform pemantauan pasien berbasis AI yang mampu memberikan peringatan dini secara otomatis sehingga tim medis dapat merespons kondisi kritis dengan lebih cepat.

Sementara itu, Star Labs menghadirkan MediScribe, solusi AI yang dapat melakukan transkripsi dan dokumentasi medis secara otomatis selama konsultasi berlangsung. Teknologi ini membantu tenaga medis mengurangi beban administrasi dan lebih fokus pada pasien.

Di bidang deteksi kanker, Niramai menampilkan Thermalytix, teknologi skrining kanker payudara berbasis AI dan termografi yang tidak menggunakan radiasi sehingga lebih aman bagi pasien.

Onyx juga memperkenalkan Smart Operating Room, sistem ruang operasi pintar yang memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan penjadwalan operasi, memantau proses bedah secara real-time, dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan fasilitas rumah sakit.

Tak hanya itu, Intel juga memamerkan konsep Agentic AI yang mampu menganalisis video USG janin secara otomatis dan menghasilkan laporan klinis terstruktur tanpa campur tangan manusia.

Teknologi ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu analisis, tetapi mulai berkembang menjadi sistem yang mampu melakukan tindakan dan menghasilkan output secara mandiri.

 

Saatnya Rumah Sakit Bergerak Cepat

Menutup presentasinya, James Tan menegaskan bahwa pembangunan rumah sakit berbasis AI saat ini telah berlangsung di Indonesia. Karena itu, pertanyaan yang harus dijawab bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan seberapa cepat rumah sakit mampu mengadopsinya.

Ia mendorong rumah sakit untuk memanfaatkan teknologi seperti AI Copilot, telemedicine, dan tele-specialist guna mengatasi keterbatasan tenaga medis dan memperluas jangkauan layanan kesehatan.

Selain itu, implementasi AI perlu diselaraskan dengan program nasional seperti SATUSEHAT, JKN, dan Renstra Kesehatan agar integrasi data serta dukungan anggaran dapat berjalan lebih optimal.

“Rumah sakit tidak perlu menunggu teknologi menjadi sempurna. Solusi yang tervalidasi sudah tersedia saat ini. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dan komitmen untuk bertransformasi,” kata James Tan.

Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk segera mengambil langkah konkret dalam perjalanan menuju layanan kesehatan yang lebih cerdas dan modern.

“Mulailah dari salah satu area transformasi hari ini. Manfaatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan tim Intel dan para mitra teknologi yang hadir untuk mempercepat perjalanan menuju rumah sakit berbasis AI. Masa depan layanan kesehatan sedang dibangun sekarang, dan Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian penting dari perubahan tersebut,” pungkasnya.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait