BRI Dorong Inovasi AI Lewat Data Berkualitas dan Responsible AI
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 hari yang lalu
Shinta Indriyaty Thio, Executive Vice President, Head of IT Strategy & Enterprise Architecture Group BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus mempercepat transformasi digital dengan menjadikan kecerdasan buatan sebagai fondasi utama dalam membangun layanan perbankan yang lebih cerdas, personal, efisien, sekaligus tetap aman dan terpercaya. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan layanan keuangan digital, BRI menegaskan bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kualitas data, tata kelola, serta penerapan prinsip AI yang bertanggung jawab.
Komitmen tersebut disampaikan oleh Shinta Indriyaty Thio, Executive Vice President, Head of IT Strategy & Enterprise Architecture Group BRI, saat menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) "Data & AI in Finance: Shaping the Future of Financial Services". Dalam paparannya Shinta menjelaskan bagaimana AI kini menjadi bagian penting dalam strategi transformasi jangka panjang BRI.
Menurut Shinta, sektor jasa keuangan Indonesia saat ini berada pada fase penting transformasi digital. Industri perbankan, asuransi, pasar modal, pembiayaan, hingga fintech dituntut mampu menghadirkan layanan yang semakin cepat, aman, personal, serta tetap menjaga kepercayaan masyarakat melalui pengelolaan data yang baik, keamanan siber, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi.
"Transformasi AI bukan hanya tentang mengadopsi teknologi terbaru. Yang jauh lebih penting adalah membangun kepercayaan melalui data yang berkualitas, tata kelola yang kuat, serta penerapan AI yang bertanggung jawab sehingga mampu memberikan nilai nyata bagi nasabah maupun bisnis," ujar Shinta dalam paparannya.
Hybrid Banking Jadi Kekuatan BRI
Dalam paparannya, Shinta menjelaskan bahwa BRI telah lebih dulu membangun konsep hybrid banking, yaitu menggabungkan kekuatan layanan digital dengan jaringan kantor fisik yang tersebar hingga pelosok Indonesia.
Ekosistem digital BRI saat ini mencakup berbagai layanan seperti BRImo, BRIAPI, Qlola by BRI, Bank Raya, hingga layanan pinjaman digital Pinang. Seluruh layanan tersebut diperkuat oleh lebih dari 7.392 kantor cabang, sekitar 700 ribu kanal elektronik, dan lebih dari 1,13 juta Agen BRILink yang menjadi ujung tombak inklusi keuangan nasional.
Menurut Shinta, besarnya infrastruktur tersebut bukan hanya menunjukkan skala bisnis BRI, tetapi juga menggambarkan besarnya tanggung jawab perusahaan dalam menghadirkan layanan kepada masyarakat.
"Di balik setiap angka tersebut ada masyarakat Indonesia yang kami layani. Teknologi membantu kami menjangkau lebih banyak orang, tetapi pada saat yang sama kami harus memastikan layanan tetap aman, cepat, dan dapat dipercaya," katanya.
Saat ini BRI melayani lebih dari 159 juta nasabah, mengelola 388 juta rekening, dan memproses sekitar 496 juta transaksi setiap hari melalui jaringan BRINETS.
Aplikasi BRImo juga telah digunakan oleh lebih dari 47 juta pengguna dengan nilai transaksi sekitar Rp31 triliun per hari, sedangkan platform Qlola by BRI melayani lebih dari 320 ribu pengguna dengan nilai transaksi mencapai Rp72 triliun setiap hari.
"Skala layanan sebesar ini membuat kami harus memastikan sistem tetap andal. Karena itu kami terus memperkuat infrastruktur sehingga tingkat ketersediaan layanan dapat dipertahankan hingga 99,98 persen," ujar Shinta.
AI Menjadi Penggerak Brivolution Reignite
Shinta mengatakan, seluruh inovasi tersebut merupakan bagian dari strategi transformasi perusahaan yang dikenal sebagai Brivolution Reignite.
Melalui strategi ini, BRI berupaya memperkuat bisnis pendanaan, meningkatkan layanan transaction banking, memperbarui sistem core banking, mempercepat transformasi bisnis mikro, serta membangun fondasi perusahaan kelas dunia melalui penguatan sumber daya manusia, operasional, distribusi, manajemen risiko, dan teknologi digital.
Namun, menurutnya, transformasi sebesar ini memiliki tantangan tersendiri.
"Kami harus melakukan perubahan di seluruh organisasi tanpa mengurangi kualitas layanan kepada jutaan nasabah. Itulah tantangan terbesar dalam transformasi BRI saat ini," ungkapnya.

AI Membantu Memahami Kebutuhan Setiap Nasabah
Shinta menjelaskan bahwa tujuan utama implementasi AI di BRI bukan sekadar melakukan otomatisasi pekerjaan, melainkan menghadirkan layanan yang lebih relevan bagi setiap nasabah.
Ia mengatakan, BRI mengusung konsep "Satu Bank untuk Semua", tetapi bukan berarti seluruh nasabah mendapatkan perlakuan yang sama.
"Setiap nasabah memiliki kebutuhan yang berbeda. AI membantu kami memahami karakteristik tersebut sehingga layanan yang diberikan menjadi lebih personal, lebih tepat sasaran, dan memberikan pengalaman yang lebih baik," jelas Shinta.
Saat ini AI telah diterapkan di berbagai proses bisnis BRI, mulai dari peningkatan pengalaman nasabah, analisis risiko, deteksi fraud, penilaian kredit, otomatisasi operasional, hingga mendukung perluasan inklusi keuangan.
Data Berkualitas Menjadi Syarat Utama
Meski AI menawarkan berbagai peluang besar, Shinta menegaskan bahwa keberhasilan implementasi AI tetap bergantung pada kualitas data. Ia menyebut masih banyak organisasi yang menghadapi persoalan data yang tersebar di berbagai sistem atau data silo, sehingga menyulitkan AI menghasilkan analisis yang akurat.
"AI hanya akan menghasilkan keputusan yang baik apabila data yang digunakan benar. Kalau kualitas datanya tidak baik, maka hasil AI juga tidak akan bisa dipercaya," katanya.
Karena itu BRI membangun Enterprise Data Governance, memperjelas peran Data Steward, serta menerapkan pengelolaan kualitas data berbasis kebutuhan bisnis.
"Kami selalu mengatakan bahwa AI hanya bisa berkembang apabila datanya tidak bermasalah. Trusted AI harus dimulai dari trusted data," ujar Shinta.
AI Sudah Digunakan di Berbagai Lini Bisnis
Shinta menjelaskan bahwa AI di BRI saat ini telah dimanfaatkan pada hampir seluruh aktivitas bisnis. Salah satunya adalah Sabrina, chatbot berbasis AI yang kini telah memasuki generasi ketiga.
Jika pada awal pengembangannya Sabrina hanya mampu menjawab pertanyaan sederhana berdasarkan skenario tertentu, kini teknologi tersebut telah memanfaatkan Large Language Model (LLM) dan machine learning, sehingga mampu memahami percakapan secara lebih alami, membantu menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, hingga mempercepat penyelesaian pengaduan pelanggan.
"Kami terus mengembangkan Sabrina agar interaksinya semakin alami seperti berbicara dengan manusia, sekaligus mampu memberikan rekomendasi yang lebih relevan kepada nasabah," ujar Shinta.
Hingga akhir Maret 2026, Sabrina menangani sekitar 49,6 persen trafik Contact Center BRI dan menghasilkan efisiensi biaya sekitar Rp78,5 miliar, setara dengan pekerjaan lebih dari 500 agen call center.
Selain Sabrina, BRI juga mengembangkan Alia, asisten AI internal yang membantu pegawai memperoleh informasi perusahaan secara lebih cepat.
"Dengan Alia, waktu pencarian informasi yang sebelumnya bisa mencapai belasan menit kini dapat dipangkas menjadi kurang dari lima menit. Dampaknya bukan hanya meningkatkan produktivitas pegawai, tetapi juga mempercepat pengambilan keputusan," jelasnya.
Jumlah pengguna aktif bulanan Alia kini mencapai lebih dari 37 ribu pegawai, meningkat sekitar 79 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
AI Mendorong Pertumbuhan Bisnis
Tidak hanya meningkatkan pelayanan, AI juga dimanfaatkan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. BRI mengembangkan berbagai sistem berbasis AI seperti Pipeline Management System, Pipeline Marketing Automation, New Agent Acquisition Recommender, Merchant Recommender, hingga Micro Debtor Recommender yang membantu tenaga pemasaran menemukan calon nasabah dengan potensi terbaik berdasarkan data historis, profil demografi, lokasi, dan pola transaksi.
Di sisi lain, AI juga dimanfaatkan melalui BRILink Bad Agent Detection untuk mendeteksi aktivitas transaksi yang tidak wajar sehingga potensi penyalahgunaan dapat diketahui lebih cepat.
"AI bukan menggantikan manusia, melainkan membantu kami mengambil keputusan yang lebih cepat, lebih akurat, dan berbasis data sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi semakin baik," tutur Shinta.
Menutup paparannya, Shinta menegaskan bahwa perjalanan transformasi AI BRI masih akan terus berlanjut menuju era Agentic AI, yakni AI yang mampu menjalankan berbagai tugas secara lebih mandiri dengan tetap berada dalam pengawasan manusia.
Namun, menurutnya, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, keberhasilan transformasi tetap bergantung pada satu hal yang tidak berubah.
"Teknologi akan terus berkembang, tetapi kepercayaan adalah fondasi yang harus selalu dijaga. Karena itu kami membangun AI yang bertanggung jawab, didukung data yang tepercaya, agar mampu memberikan manfaat nyata bagi nasabah, bisnis, dan industri keuangan Indonesia," pungkas Shinta.
