ARSSI Ungkap Peran AI dalam Meningkatkan Layanan Rumah Sakit
- Rita Puspita Sari
- •
- 12 jam yang lalu
dr. Mulyadi Muchtiar, MARS dalam Acara Healthcare Executive Roundtable 2026
Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor kesehatan terus mengalami percepatan dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan untuk meningkatkan akurasi diagnosis, tetapi juga mulai memainkan peran penting dalam pengelolaan operasional rumah sakit, dokumentasi klinis, skrining penyakit, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam ajang Healthcare Executive Roundtable 2026 bertema “Driving Artificial Intelligence Innovation in Hospital Management”. Dalam kesempatan tersebut, dr. Mulyadi Muchtiar, MARS, selaku Kompartemen Digitalisasi Pusat Data dan IT ARSSI (Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia), memaparkan bagaimana AI dapat menjadi pendorong transformasi manajemen rumah sakit di Indonesia.
Menurut Mulyadi, pembahasan mengenai AI tidak lagi sekadar melihat teknologi sebagai alat bantu, melainkan sebagai bagian dari strategi organisasi rumah sakit untuk membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
“Pada kesempatan ini saya akan membahas Driving AI Innovation in Hospital Management dari perspektif organisasi rumah sakit, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai penggerak ekosistem inovasi,” ujar Mulyadi.
Tantangan Besar yang Dihadapi Rumah Sakit
Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, rumah sakit menghadapi berbagai tekanan yang semakin kompleks. Salah satu tantangan terbesar adalah tingginya beban dokumentasi yang harus dikerjakan oleh dokter dan tenaga kesehatan.
Selain itu, banyak rumah sakit juga menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM), regulasi yang semakin kompleks, serta tuntutan peningkatan mutu layanan dan efisiensi operasional yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan harus membagi waktu antara memberikan pelayanan kepada pasien dan menyelesaikan pekerjaan administratif yang memakan banyak waktu. Menurut Mulyadi, AI hadir sebagai solusi yang mampu membantu mengurangi beban administratif tersebut sehingga tenaga medis dapat kembali fokus pada aspek klinis dan pelayanan pasien.
“AI menawarkan peluang nyata untuk mengurangi beban administratif, meningkatkan mutu data, dan membuka model layanan baru, asalkan dikelola dengan tata kelola yang tepat,” jelasnya.
Mengapa AI Menjadi Agenda Strategis Rumah Sakit?
Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, perkembangan AI di sektor kesehatan berlangsung sangat cepat. Teknologi ini mulai memberikan dampak nyata baik pada layanan klinis maupun operasional rumah sakit.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI Medical Scribe mampu mengurangi waktu dokumentasi hingga puluhan persen pada setiap kunjungan pasien. Bahkan, teknologi ini dapat menghemat ribuan jam kerja dokter dalam satu tahun sekaligus meningkatkan kualitas dokumentasi medis.
Tidak hanya itu, AI kini telah digunakan di berbagai lini layanan kesehatan, mulai dari radiologi, skrining kanker, integrasi perangkat medis, pemantauan pasien secara real-time, hingga konsep smart ward yang mendukung keselamatan pasien.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan menggunakan AI atau tidak, tetapi bagaimana rumah sakit dapat mengadopsinya secara aman, terukur, dan memberikan nilai nyata,” kata Mulyadi.
AI Hadir di Seluruh Ekosistem Rumah Sakit
Penerapan AI saat ini telah mencakup hampir seluruh aspek operasional rumah sakit.
Pada bidang Clinical Documentation, AI digunakan untuk membuat ringkasan kunjungan pasien, membantu proses coding, meningkatkan kualitas rekam medis, hingga menyusun dokumentasi secara otomatis. Sementara pada Clinical Decision Support, AI berfungsi memberikan dukungan pengambilan keputusan berbasis bukti, sistem peringatan dini, dan prediksi risiko kesehatan pasien.
Di sektor Medical Imaging, AI membantu radiolog dalam mendeteksi kelainan lebih cepat dan akurat, termasuk dalam proses skrining kanker. Sedangkan pada konsep Smart Ward dan Internet of Medical Things (IoMT), teknologi AI memungkinkan pemantauan pasien secara real-time melalui integrasi berbagai perangkat medis yang terhubung.
Tidak kalah penting, AI juga mendukung Hospital Analytics, yaitu kemampuan menganalisis data untuk memprediksi tingkat okupansi rumah sakit, mengoptimalkan alur pasien, merencanakan kebutuhan SDM, hingga mengendalikan biaya operasional.
Peran Strategis ARSSI dalam Adopsi AI
Sebagai organisasi yang mewadahi rumah sakit swasta di Indonesia, ARSSI mengambil peran strategis dalam mendorong adopsi AI yang bertanggung jawab.
Peran pertama adalah menjadi kurator berbagai use case prioritas yang dapat diterapkan oleh rumah sakit anggota, mulai dari AI untuk dokumentasi klinis hingga smart ward dan medical imaging. ARSSI juga berupaya menyusun prinsip tata kelola AI yang mencakup keselamatan pasien, efektivitas klinis, privasi data, keamanan siber, transparansi, interoperabilitas, dan penerapan berbasis nilai.
Selain itu, ARSSI mendorong kolaborasi melalui pilot project bersama, forum berbagi pengalaman, benchmarking, serta kerja sama dengan industri, regulator, dan akademisi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan implementasi AI tidak hanya menjadi proyek teknologi, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap mutu layanan kesehatan.
“AI bukan sekadar teknologi, tetapi enabler transformasi untuk peningkatan mutu layanan, efisiensi operasional, dan keberlanjutan rumah sakit. ARSSI hadir untuk memastikan adopsi AI yang aman, terukur, dan berdampak nyata,” kata Mulyadi.
Mediscribe: Mengurangi Beban Administratif Dokter
Salah satu contoh implementasi AI yang dinilai sangat relevan adalah Mediscribe, sebuah AI Medical Scribe yang membantu proses dokumentasi klinis. Teknologi ini mampu mengubah percakapan antara dokter dan pasien menjadi catatan medis terstruktur yang siap dimasukkan ke dalam Electronic Health Record (EHR).
Prosesnya dimulai dengan menangkap percakapan klinis atau input suara. Selanjutnya AI akan memahami konteks percakapan tersebut dan menyusunnya menjadi catatan medis dalam format standar seperti SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan).
Hasilnya kemudian dapat langsung tersimpan dalam sistem rekam medis elektronik rumah sakit.
Manfaatnya sangat besar. Dokter dan perawat tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu mengetik atau mengisi dokumen secara manual. Mereka dapat lebih fokus berinteraksi dengan pasien dan mengurangi risiko kelelahan kerja atau burnout.
Bagi manajemen rumah sakit, Mediscribe juga memberikan keuntungan berupa dokumentasi yang lebih lengkap, konsisten, dan terstruktur. Data yang dihasilkan dapat digunakan untuk proses coding, klaim asuransi, audit medis, akreditasi, hingga analitik mutu layanan.
“AI bukan menggantikan dokter, tetapi menghilangkan beban administratif agar dokter dapat fokus pada hal yang paling penting, yaitu merawat pasien,” tegas Mulyadi.

Niramai: AI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara
Contoh penerapan AI lainnya adalah solusi skrining kanker payudara dari Niramai yang menggabungkan teknologi thermal imaging dengan algoritma AI bernama Thermalytix.
Berbeda dengan mammografi konvensional, teknologi ini menggunakan kamera termal beresolusi tinggi untuk mendeteksi pola suhu pada jaringan payudara. Data tersebut kemudian dianalisis oleh algoritma machine learning untuk menghasilkan penilaian risiko dan rekomendasi medis.
Keunggulan teknologi ini adalah tidak menggunakan radiasi, tidak memerlukan kontak fisik, lebih nyaman, aman, dan dapat digunakan pada berbagai kelompok usia, termasuk perempuan muda dengan jaringan payudara padat (dense breast).
Secara global, lebih dari 200 ribu perempuan telah menggunakan teknologi Thermalytix. Sistem ini juga telah diterapkan di lebih dari 100 rumah sakit dan pusat diagnostik serta digunakan dalam ribuan kegiatan skrining lapangan di berbagai negara Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin.
Selain memberikan manfaat klinis berupa deteksi dini kanker payudara, teknologi ini juga membuka peluang bisnis baru bagi rumah sakit melalui layanan skrining komunitas, tele-screening, dan program kesehatan preventif.
“AI tidak hanya meningkatkan efisiensi internal rumah sakit, tetapi juga memperluas jangkauan layanan preventif kepada masyarakat,” kata Mulyadi.
Smart Ward dan Integrasi Data Melalui QMed Asia
Transformasi digital rumah sakit tidak hanya bergantung pada aplikasi AI semata, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikan data dari berbagai perangkat medis. Masalah yang umum terjadi saat ini adalah perangkat medis dari berbagai merek tidak saling terhubung. Data pasien tersebar di berbagai sistem dan dokumentasi masih banyak dilakukan secara manual.
Untuk mengatasi masalah tersebut, QMed Asia menghadirkan QMed Connect Suite yang memungkinkan integrasi berbagai perangkat medis ke dalam satu platform.
Sistem ini dapat menghubungkan monitor pasien, ventilator, infusion pump, dan berbagai perangkat lainnya. Data vital sign pasien dapat dikirim secara otomatis dari sisi tempat tidur pasien ke sistem rumah sakit tanpa perlu input manual.
Selain itu, tersedia fitur cloud imaging, teleradiologi, dashboard analitik real-time, serta sistem peringatan dini berbasis algoritma untuk mendeteksi kondisi pasien yang memburuk. Implementasi sistem ini dilaporkan mampu menghemat lebih dari lima jam waktu dokumentasi per bangsal setiap hari sekaligus meningkatkan akurasi pemantauan pasien.
Menurut Mulyadi, keberhasilan transformasi digital rumah sakit tidak hanya bergantung pada aplikasi AI semata. “Kunci manfaat AI dan digital bukan hanya aplikasi, tetapi arsitektur integrasi, interoperabilitas, dan tata kelola data yang baik,” ujarnya.
Samsung Medison dan AI di Radiologi
Pemanfaatan AI juga semakin berkembang pada perangkat medis modern seperti ultrasound dan radiologi. Samsung Medison menghadirkan teknologi AI pada perangkat ultrasound seri Z20 dan OB/GYN yang mampu mengenali hingga 39 tampilan obstetri secara otomatis sesuai standar internasional.
Teknologi deep learning yang tertanam di dalam perangkat dapat melakukan segmentasi, pelabelan struktur anatomi, hingga pengukuran penting secara otomatis.
Hasilnya, operator dapat mengurangi jumlah input manual hingga sekitar 90 persen. Waktu pemeriksaan juga dapat dipercepat antara 20 hingga 30 persen dibandingkan metode konvensional. Selain meningkatkan efisiensi, AI juga membantu menciptakan standar pemeriksaan yang lebih konsisten, meningkatkan akurasi diagnosis, dan mendukung deteksi dini berbagai kondisi medis.
Namun demikian, Mulyadi mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam perangkat medis tetap memerlukan tata kelola yang baik, termasuk validasi hasil, auditabilitas, keamanan data, dan pelatihan SDM secara berkelanjutan.
AI untuk Rumah Sakit yang Lebih Cerdas dan Berkelanjutan
Di akhir paparannya, Mulyadi menegaskan bahwa AI bukan sekadar tren teknologi yang sedang populer. Teknologi ini merupakan alat strategis yang mampu menciptakan nilai nyata bagi pasien, tenaga kesehatan, dan organisasi rumah sakit.
Keberhasilan implementasi AI sangat bergantung pada kemampuan rumah sakit dalam memilih permasalahan yang tepat untuk diselesaikan, mengintegrasikan teknologi dengan proses kerja yang sudah ada, serta membangun tata kelola yang kuat.
Dengan pendekatan tersebut, AI dapat membantu mengembalikan waktu dokter dan perawat untuk lebih fokus pada pasien, meningkatkan mutu dan keselamatan layanan, serta menciptakan efisiensi operasional yang berkelanjutan.
“AI untuk kesehatan yang berpusat pada pasien, didorong teknologi, dan ditopang tata kelola yang kuat. Bersama ARSSI, rumah sakit bukan hanya menjadi pengguna, tetapi juga penggerak inovasi AI yang amanah dan berdampak,” tutup Mulyadi.
