Support Vector Machines: Cara Kerja dan Contoh Penerapannya
- Rita Puspita Sari
- •
- 2 hari yang lalu
Ilustrasi Machine Learning
Dalam dunia kecerdasan buatan dan machine learning, terdapat banyak algoritma yang dirancang untuk membantu komputer mengenali pola, membuat prediksi, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Salah satu algoritma klasik namun tetap relevan hingga saat ini adalah Support Vector Machines (SVM). Meski dikembangkan sejak tahun 1990-an, SVM masih banyak digunakan di berbagai bidang karena kemampuannya yang kuat dalam menangani data berdimensi tinggi dan kasus klasifikasi yang kompleks.
Artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu SVM, bagaimana cara kerjanya, jenis-jenisnya, kelebihan dan kekurangannya dibandingkan algoritma lain, hingga penerapannya di dunia nyata.
Apa Itu Support Vector Machines (SVM)?
Support Vector Machines (SVM) adalah algoritma supervised machine learning atau pembelajaran terawasi yang digunakan untuk klasifikasi dan regresi. Inti dari SVM adalah mencari batas keputusan (decision boundary) terbaik yang dapat memisahkan data ke dalam kelas-kelas yang berbeda.
Batas keputusan ini dikenal sebagai hyperplane, yaitu garis pemisah pada data dua dimensi, bidang pada data tiga dimensi, atau struktur pemisah pada ruang berdimensi lebih tinggi (N-dimensi). Tujuan utama SVM adalah menemukan hyperplane yang memaksimalkan jarak (margin) antara dua kelas data yang berbeda.
SVM pertama kali dikembangkan oleh Vladimir N. Vapnik dan rekan-rekannya pada tahun 1990-an. Konsep ini kemudian dipublikasikan dalam makalah ilmiah berjudul “Support Vector Method for Function Approximation, Regression Estimation, and Signal Processing” pada tahun 1995. Sejak saat itu, SVM menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan algoritma pembelajaran mesin modern.
Konsep Dasar SVM: Margin dan Support Vector
Untuk memahami SVM, bayangkan Anda memiliki dua kelompok data yang ingin dipisahkan, misalnya email “spam” dan “bukan spam”. Banyak garis pemisah yang bisa dibuat, tetapi tidak semuanya optimal.
SVM akan memilih garis atau hyperplane yang:
- Memisahkan kedua kelas data dengan benar
- Memiliki jarak terlebar dari titik data terdekat di kedua sisi
Titik-titik data yang berada paling dekat dengan hyperplane disebut support vector. Titik-titik inilah yang “menopang” posisi hyperplane. Jika support vector berubah, maka posisi hyperplane juga akan berubah.
Dengan memaksimalkan margin, SVM mampu menghasilkan model yang lebih stabil dan memiliki kemampuan generalisasi yang baik terhadap data baru.
Jenis-Jenis Support Vector Machines
-
SVM Linier
SVM linier digunakan ketika data dapat dipisahkan secara linier, artinya satu garis lurus (atau hyperplane) cukup untuk memisahkan kelas-kelas data.Secara matematis, hyperplane pada SVM linier dapat dituliskan sebagai:
w·x + b = 0Di mana:
- w adalah vektor bobot
- x adalah vektor fitur input
- b adalah bias
Profesor Patrick Winston dari MIT mengibaratkan SVM linier seperti “menyesuaikan jalan paling lebar di antara dua barisan objek”. Jalan tersebut melambangkan margin maksimum yang dicari oleh algoritma SVM.
Dalam SVM linier, terdapat dua pendekatan utama:
- Hard Margin
Pendekatan ini mengharuskan semua data dipisahkan secara sempurna tanpa kesalahan. Model ini cocok untuk data yang benar-benar bersih, tetapi sangat sensitif terhadap outlier. - Soft Margin
Pendekatan ini lebih fleksibel karena mengizinkan beberapa kesalahan klasifikasi menggunakan variabel slack (ξ). Di sinilah peran hyperparameter C menjadi penting:- Nilai C besar → margin sempit, kesalahan kecil
- Nilai C kecil → margin lebar, toleransi kesalahan lebih besar
Soft margin lebih sering digunakan dalam praktik karena data dunia nyata jarang benar-benar bersih.
-
SVM Nonlinier dan Kernel Trick
Pada kenyataannya, sebagian besar data tidak dapat dipisahkan secara linier. Di sinilah SVM nonlinier berperan. SVM nonlinier menggunakan fungsi khusus yang disebut kernel untuk memetakan data ke ruang berdimensi lebih tinggi agar dapat dipisahkan secara linier.Teknik ini dikenal sebagai kernel trick, yaitu cara cerdas untuk melakukan transformasi data tanpa benar-benar menghitung koordinat baru di ruang berdimensi tinggi, sehingga tetap efisien secara komputasi.
Beberapa jenis kernel yang umum digunakan antara lain:
- Kernel Polinomial
Kernel Radial Basis Function (RBF) atau Gaussian - Kernel Sigmoid
Pemilihan kernel sangat bergantung pada karakteristik data dan tujuan analisis.
- Kernel Polinomial
-
Support Vector Regression (SVR)
Selain klasifikasi, SVM juga dapat digunakan untuk masalah regresi melalui pendekatan Support Vector Regression (SVR). Berbeda dengan regresi linier yang mencoba meminimalkan kesalahan secara langsung, SVR berfokus pada pencarian fungsi yang berada dalam batas toleransi tertentu dari data.Keunggulan SVR adalah:
- Tidak perlu mengetahui hubungan awal antara variabel independen dan dependen
- Lebih fleksibel dalam menangani pola nonlinier
- Sering digunakan untuk prediksi deret waktu dan data kontinu lainnya
Cara Kerja SVM Secara Umum
Support Vector Machines (SVM) bekerja melalui beberapa tahapan penting yang saling berkaitan. Setiap tahap memiliki peran besar dalam menentukan seberapa baik model dapat mengenali pola dan membuat prediksi yang akurat. Berikut penjelasan langkah demi langkah cara kerja SVM secara umum.
-
Membagi Data
Langkah awal dalam membangun model SVM adalah membagi data menjadi dua bagian, yaitu:- Data pelatihan (training set): digunakan untuk melatih model agar dapat mengenali pola.
- Data pengujian (testing set): digunakan untuk menguji seberapa baik model bekerja pada data baru yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Sebelum pembagian data dilakukan, sangat disarankan untuk melakukan analisis data eksploratif (exploratory data analysis/EDA). Pada tahap ini, analis data akan:
- Mengidentifikasi data yang hilang (missing values)
- Menemukan data yang tidak wajar atau menyimpang (outlier)
- Memahami distribusi data dan hubungan antar fitur
Tahap ini penting karena kualitas data sangat memengaruhi hasil akhir model SVM.
-
Melatih Model
Setelah data siap, langkah berikutnya adalah melatih model SVM menggunakan data pelatihan. Dalam praktiknya, proses ini biasanya dilakukan dengan bantuan pustaka machine learning seperti scikit-learn di Python.Pada tahap pelatihan, algoritma SVM akan:
- Mencari hyperplane terbaik yang dapat memisahkan data ke dalam kelas-kelas berbeda
- Menentukan support vector, yaitu titik-titik data yang paling dekat dengan hyperplane
- Mengoptimalkan margin agar jarak antar kelas menjadi maksimal
Setelah model selesai dilatih, model tersebut dapat digunakan untuk memprediksi label atau nilai dari data pengujian.
-
Evaluasi Model
Agar kita tahu seberapa baik performa model SVM, hasil prediksi perlu dievaluasi menggunakan berbagai metrik evaluasi. Beberapa metrik yang paling umum digunakan antara lain:- Akurasi
Mengukur persentase prediksi yang benar secara keseluruhan. Cocok digunakan jika data seimbang. - Precision
Menunjukkan seberapa tepat model dalam memprediksi suatu kelas tertentu. Precision penting ketika kesalahan positif palsu harus diminimalkan, seperti pada deteksi spam. - Recall
Mengukur kemampuan model dalam menemukan seluruh data yang benar-benar termasuk dalam suatu kelas. Recall penting pada kasus medis atau keamanan. - F1-score
Merupakan gabungan antara precision dan recall, sehingga memberikan gambaran performa model yang lebih seimbang.
Dengan evaluasi ini, kita dapat menilai apakah model SVM sudah cukup baik atau masih perlu ditingkatkan.
- Akurasi
-
Penyetelan Hyperparameter
Agar performa SVM semakin optimal, dilakukan penyetelan hyperparameter. Hyperparameter adalah parameter yang tidak dipelajari langsung oleh model, tetapi ditentukan sebelum proses pelatihan.Beberapa hyperparameter penting dalam SVM meliputi:
- Jenis kernel (linier, polinomial, RBF, sigmoid)
- Nilai C, yang mengatur keseimbangan antara margin dan kesalahan klasifikasi
- Nilai gamma, yang mengontrol pengaruh satu data terhadap data lainnya
Untuk menemukan kombinasi hyperparameter terbaik, biasanya digunakan teknik seperti:
- Grid search, yang mencoba berbagai kombinasi parameter
- Cross-validation, yang menguji model pada beberapa subset data untuk memastikan hasilnya stabil
Perbandingan SVM dengan Algoritma Lain
Dalam praktik machine learning, SVM bukan satu-satunya algoritma yang dapat digunakan. Berikut perbandingan SVM dengan beberapa algoritma populer lainnya.
- SVM vs Naive Bayes
SVM umumnya memberikan hasil yang lebih baik pada data berdimensi tinggi dan data yang tidak linier. Namun, SVM membutuhkan sumber daya komputasi yang lebih besar dibandingkan Naive Bayes, yang dikenal cepat dan sederhana. - SVM vs Regresi Logistik
Dibandingkan regresi logistik, SVM lebih unggul dalam menangani data tidak terstruktur seperti teks dan gambar. Selain itu, SVM cenderung lebih tahan terhadap overfitting, terutama pada data kompleks. - SVM vs Decision Tree
SVM lebih stabil ketika digunakan pada data berdimensi tinggi dan kompleks. Sebaliknya, decision tree lebih mudah dipahami secara visual dan lebih cepat dilatih, terutama pada dataset berukuran kecil. - SVM vs Neural Network
Neural network dikenal sangat fleksibel dan dapat diskalakan untuk dataset besar. Namun, SVM sering kali lebih stabil dan tidak terlalu rentan terhadap overfitting, terutama ketika jumlah data terbatas.
Aplikasi SVM di Dunia Nyata
Support Vector Machines telah diterapkan di berbagai sektor industri dan penelitian. Berikut beberapa contoh penerapannya.
-
Klasifikasi Teks
SVM banyak digunakan dalam pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP), seperti:- Analisis sentimen media sosial
- Deteksi email spam
- Klasifikasi dokumen dan berita
SVM sangat cocok untuk teks karena mampu menangani data berdimensi tinggi.
-
Klasifikasi Gambar
Dalam bidang visi komputer, SVM digunakan untuk:- Pengenalan dan klasifikasi objek
- Sistem keamanan berbasis citra
- Deteksi manipulasi atau pemalsuan gambar
-
Bioinformatika
SVM sering diterapkan dalam:- Klasifikasi protein
- Analisis ekspresi gen
- Diagnosis penyakit, termasuk penelitian kanker
Kemampuan SVM mendeteksi pola halus menjadikannya andal untuk data biologis yang kompleks.
-
Sistem Informasi Geografis (GIS)
Dalam GIS, SVM digunakan untuk:- Analisis struktur geologi bawah permukaan
- Penyaringan noise pada data geofisika
- Prediksi potensi likuifaksi tanah akibat gempa
Support Vector Machines adalah algoritma machine learning yang kuat, fleksibel, dan terbukti efektif dalam berbagai bidang. Dengan konsep margin maksimum dan dukungan kernel untuk data nonlinier, SVM tetap menjadi pilihan utama meskipun banyak algoritma modern bermunculan. Bagi siapa pun yang ingin memahami dasar-dasar machine learning secara mendalam, SVM adalah algoritma yang wajib dipelajari.
