Talkie, AI yang Mengajak Time Travel Kembali ke Tahun 1930
- Rita Puspita Sari
- •
- 9 jam yang lalu
Ilustrasi Talkie (huggingface.co/ talkie 1930)
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang terus diperbarui dengan informasi terkini, sekelompok peneliti justru mengambil langkah yang tidak biasa. Mereka mengembangkan sebuah model AI yang sengaja "dibatasi" agar hanya memahami dunia berdasarkan pengetahuan yang tersedia sebelum tahun 1931.
Model tersebut diberi nama Talkie atau 13B 1930 LM, dan diperkenalkan sebagai vintage large language model (LLM). Berbeda dengan chatbot AI modern seperti ChatGPT, Gemini, maupun Claude yang terus mengikuti perkembangan zaman, Talkie justru "hidup" di masa lalu dan tidak mengetahui berbagai peristiwa besar yang terjadi setelah tahun 1930.
Pendekatan unik ini membuat Talkie menjadi semacam mesin waktu digital yang memungkinkan pengguna berdialog dengan AI yang berpikir sesuai cara pandang masyarakat pada awal abad ke-20.
AI yang Berhenti Belajar di Tahun 1930
Talkie dikembangkan oleh tiga peneliti, yakni Alec Radford, Nick Levine, dan David Duvenaud. Seluruh proses pelatihannya menggunakan dokumen berbahasa Inggris yang diterbitkan sebelum tahun 1931.
Artinya, semua pengetahuan yang dimiliki model tersebut berasal dari sumber-sumber sejarah yang memang tersedia pada masa itu. Akibatnya, Talkie tidak memiliki informasi mengenai berbagai peristiwa penting yang terjadi sesudahnya.
AI ini, misalnya, tidak mengenal Perang Dunia II, kelahiran internet, komputer pribadi, smartphone, media sosial, hingga perkembangan AI generatif seperti ChatGPT.
Ketika ditanya mengenai topik-topik tersebut, Talkie akan merespons berdasarkan sudut pandang masyarakat yang hidup pada tahun 1930, bukan berdasarkan fakta modern seperti yang dilakukan chatbot AI masa kini.
Konsep tersebut membuat pengalaman menggunakan Talkie terasa seperti melakukan perjalanan waktu atau time travel, karena pengguna dapat berdiskusi dengan AI yang memiliki wawasan sesuai periode sejarah tertentu.
Memanfaatkan Dokumen Domain Publik
Pemilihan batas waktu sebelum tahun 1931 bukan dilakukan secara acak. Tim pengembang menjelaskan bahwa sebagian besar karya yang diterbitkan pada periode tersebut telah masuk ke dalam domain publik di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.
Status domain publik memungkinkan dokumen digunakan secara legal tanpa melanggar hak cipta.
Hal ini menjadi salah satu keunggulan utama proyek Talkie. Selama beberapa tahun terakhir, penggunaan materi berhak cipta untuk melatih AI generatif menjadi salah satu isu yang paling banyak diperdebatkan oleh industri teknologi.
Dengan hanya menggunakan dokumen yang sudah berada di domain publik, para peneliti dapat mengembangkan model AI tanpa menghadapi persoalan lisensi maupun sengketa hak cipta yang sering muncul pada pengembangan model bahasa besar modern.
Dilatih dari Surat Kabar hingga Dokumen Pengadilan
Untuk membangun Talkie, para peneliti mengumpulkan sekitar 260 miliar token yang berasal dari berbagai jenis dokumen sejarah. Sumber datanya sangat beragam, mulai dari surat kabar era 1920-an, jurnal ilmiah pada masa Victoria, dokumen paten, buku-buku lama, hingga berbagai putusan pengadilan yang diterbitkan sebelum televisi digunakan secara luas.
Dengan kumpulan data tersebut, Talkie mempelajari bagaimana masyarakat pada masa itu menggunakan bahasa, memahami ilmu pengetahuan, hingga memandang isu sosial maupun politik.
Pendekatan ini menghasilkan model AI yang bukan sekadar berbicara menggunakan gaya bahasa klasik, tetapi juga memiliki perspektif historis yang sesuai dengan zamannya.
AI yang Berpikir Layaknya Orang Zaman Dulu
Gagasan mengenai vintage LLM sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh peneliti AI, Owain Evans.
Menurut Evans, model seperti ini tidak hanya bertujuan menciptakan chatbot dengan nuansa klasik, tetapi juga menghadirkan AI yang benar-benar memahami dunia berdasarkan konteks sejarah tertentu.
Dengan demikian, pengguna dapat mengajukan pertanyaan mengenai berbagai aspek kehidupan pada masa lampau, mulai dari ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, ekonomi, hingga politik, dan memperoleh jawaban yang sesuai dengan pemahaman masyarakat saat itu.
Pendekatan tersebut dinilai memiliki nilai edukasi yang tinggi karena dapat membantu peneliti, mahasiswa, maupun sejarawan memahami bagaimana pola pikir manusia berkembang dari masa ke masa.
Alih-alih hanya membaca buku sejarah, pengguna dapat berinteraksi secara langsung dengan AI yang memiliki sudut pandang sesuai periode tertentu.
Membantu Meneliti Evolusi Bahasa
Selain untuk simulasi sejarah, Talkie juga membuka peluang baru dalam penelitian linguistik.
Bahasa terus mengalami perubahan sepanjang waktu. Kosakata yang umum digunakan satu abad lalu belum tentu masih memiliki makna yang sama saat ini. Demikian pula dengan gaya penulisan, struktur kalimat, hingga istilah ilmiah yang terus berkembang mengikuti perubahan budaya dan teknologi.
Dengan membatasi pengetahuan model hanya sampai tahun tertentu, para peneliti dapat mengamati bagaimana penggunaan bahasa berevolusi tanpa tercampur informasi modern.
Hal tersebut dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan bahasa Inggris sepanjang sejarah.
Masih Menghadapi Tantangan Besar
Meski menawarkan konsep yang menarik, pengembangan Talkie tidak lepas dari berbagai tantangan teknis. Salah satu hambatan terbesar berasal dari kualitas data pelatihan. Sebagian besar dokumen sejarah yang digunakan merupakan hasil pemindaian buku, koran, maupun arsip lama yang berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Dokumen tersebut harus terlebih dahulu diubah menjadi teks menggunakan teknologi Optical Character Recognition (OCR). Namun, hasil OCR sering kali mengandung banyak kesalahan akibat kualitas kertas yang menurun, tinta yang memudar, atau bentuk huruf lama yang sulit dikenali oleh sistem.
Menurut tim pengembang, apabila model dilatih menggunakan hasil OCR mentah, performanya hanya mencapai sekitar 30 persen dibandingkan data yang ditranskripsi secara manual oleh manusia.
Setelah melalui proses pembersihan dan koreksi data, performa model meningkat hingga sekitar 70 persen. Meski demikian, angka tersebut masih dianggap belum ideal untuk menghasilkan jawaban yang benar-benar akurat.
Menjaga Agar Tidak "Tercemar" Pengetahuan Modern
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah memastikan tidak ada informasi setelah tahun 1930 yang secara tidak sengaja masuk ke dalam data pelatihan. Apabila terdapat dokumen modern yang ikut digunakan, maka perspektif historis Talkie akan berubah dan tujuan utama proyek menjadi tidak tercapai.
Karena itu, tim peneliti melakukan proses penyaringan data secara ketat agar seluruh pengetahuan model benar-benar mencerminkan kondisi dunia sebelum tahun 1931.
Pendekatan ini membuat Talkie memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan model AI konvensional yang justru terus diperbarui dengan data terbaru.
Masih Mengalami Halusinasi
Seperti kebanyakan chatbot AI lainnya, Talkie juga belum sepenuhnya bebas dari fenomena halusinasi AI, yakni kondisi ketika model menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya tidak sesuai fakta.
Fenomena ini masih menjadi tantangan besar dalam pengembangan berbagai model bahasa besar, termasuk AI yang memiliki cakupan pengetahuan terbatas seperti Talkie.
Meskipun demikian, para peneliti menilai keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai ilmiah proyek ini.
Sebaliknya, Talkie dianggap sebagai eksperimen penting untuk memahami hubungan antara data sejarah, perkembangan bahasa, serta kemampuan AI dalam merepresentasikan cara berpikir manusia pada periode tertentu.
Lebih Cocok untuk Dunia Akademik
Saat ini Talkie tersedia secara open source melalui platform Hugging Face dan GitHub sehingga dapat diakses oleh komunitas riset maupun pengembang AI.
Namun, model ini tidak dirancang untuk menjadi pengganti chatbot modern dalam aktivitas sehari-hari.
Pengembang menilai Talkie lebih sesuai dimanfaatkan oleh kalangan akademisi, peneliti sejarah, ahli linguistik, maupun peneliti AI yang ingin mengeksplorasi evolusi bahasa dan cara berpikir manusia pada masa lalu.
Di tengah perlombaan industri AI untuk menciptakan model yang semakin cerdas dan selalu mengikuti perkembangan informasi terbaru, Talkie justru membuktikan bahwa membatasi pengetahuan sebuah AI dapat menghadirkan manfaat baru. Proyek ini tidak hanya menawarkan pengalaman unik layaknya melakukan perjalanan waktu, tetapi juga membuka peluang penelitian mengenai sejarah, bahasa, serta perkembangan pemikiran manusia melalui pendekatan kecerdasan buatan.
