Microsoft Garap Data Center AI, Klaim Tak Naikkan Tarif Listrik
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 hari yang lalu
Ilustrasi Sustainable Technology
Microsoft kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana pembangunan sejumlah pusat data baru untuk mendukung pengembangan Artificial Intelligence (AI). Di tengah meningkatnya penolakan publik terhadap proyek pusat data dalam setahun terakhir, raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini justru menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan ekspansi infrastruktur AI. Namun, Microsoft membawa janji penting: pembangunan pusat data tersebut tidak akan membuat tagihan listrik masyarakat sekitar ikut melonjak.
Pengumuman ini disampaikan Microsoft pada hari Selasa 13 Januari 2026, hanya sehari setelah CEO Meta, Mark Zuckerberg, mengumumkan rencana serupa terkait pembangunan infrastruktur AI. Langkah Microsoft sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Pada tahun lalu, perusahaan yang juga menjadi mitra utama OpenAI itu telah mengungkap rencana investasi bernilai miliaran dolar AS untuk memperluas kapasitas AI global. Meski demikian, pendekatan baru yang mereka sebut sebagai “community-first” atau mengutamakan kepentingan komunitas menjadi hal yang cukup berbeda dari sebelumnya.
Dalam pernyataannya, Microsoft menegaskan akan mengambil “langkah-langkah yang diperlukan untuk menjadi tetangga yang baik” di wilayah tempat mereka membangun, memiliki, dan mengoperasikan pusat data. Salah satu isu utama yang menjadi perhatian adalah konsumsi listrik yang sangat besar dari pusat data AI. Selama ini, banyak warga khawatir kehadiran pusat data akan membebani jaringan listrik lokal dan berdampak pada kenaikan tarif listrik rumah tangga.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Microsoft berjanji akan “membayar sesuai porsinya”. Artinya, perusahaan akan menanggung penuh biaya tambahan yang timbul akibat penggunaan listrik pusat data mereka. Microsoft juga akan bekerja sama secara langsung dengan perusahaan utilitas listrik setempat serta komisi negara bagian yang berwenang menetapkan tarif listrik.
“Tujuan kami sederhana, yakni memastikan bahwa biaya listrik untuk melayani pusat data kami tidak dialihkan kepada pelanggan rumah tangga,” ujar pihak Microsoft dalam pernyataan resminya. Dengan kata lain, warga di sekitar lokasi pusat data dijanjikan tidak akan ikut menanggung beban konsumsi energi yang sangat besar dari operasional AI.
Tak hanya soal listrik, Microsoft juga menyampaikan komitmen lain yang tak kalah penting, yakni penciptaan lapangan kerja dan pengelolaan lingkungan. Perusahaan berjanji akan membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal, baik selama masa pembangunan maupun saat pusat data mulai beroperasi. Janji ini menjadi sorotan karena selama ini banyak pihak mempertanyakan seberapa besar dampak ekonomi nyata dari proyek pusat data, terutama dalam hal jumlah pekerjaan permanen yang tercipta.
Selain itu, Microsoft berjanji akan meminimalkan penggunaan air untuk operasional pusat data. Isu penggunaan air memang menjadi salah satu sumber konflik terbesar dalam pembangunan pusat data. Di sejumlah wilayah, pusat data dituding menguras pasokan air bersih dan memperparah krisis lingkungan, terutama di daerah yang sudah rentan terhadap kekeringan.
Langkah Microsoft ini dinilai sebagai respons langsung terhadap gelombang penolakan publik yang semakin kuat. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan pusat data telah berubah menjadi isu politik yang sensitif di Amerika Serikat. Data Center Watch, sebuah organisasi yang memantau gerakan penolakan terhadap pusat data, mencatat bahwa saat ini terdapat sekitar 142 kelompok aktivis di 24 negara bagian yang aktif menentang proyek-proyek serupa.
Microsoft sendiri telah merasakan langsung dampak penolakan tersebut. Pada Oktober lalu, perusahaan terpaksa membatalkan rencana pembangunan pusat data di Caledonia, Wisconsin, setelah mendapat respons negatif yang sangat kuat dari warga setempat. Sementara itu, di Michigan, rencana pembangunan pusat data di sebuah wilayah kecil juga memicu aksi demonstrasi dan protes terbuka dari masyarakat.
Bahkan, kritik terhadap Microsoft dan perusahaan teknologi lain semakin keras. Di Ohio, tempat Microsoft sedang mengembangkan beberapa kompleks pusat data, sebuah artikel opini di media lokal secara tajam menuding perusahaan-perusahaan teknologi sebagai pihak yang turut memperparah perubahan iklim akibat konsumsi energi yang masif.
Kekhawatiran ini juga sampai ke tingkat pemerintah pusat. Pembangunan infrastruktur AI menjadi salah satu agenda penting pemerintahan Presiden Donald Trump. Pada awal pekan ini, Trump menuliskan pernyataan di media sosial yang menyebut bahwa Microsoft akan melakukan “perubahan besar” guna memastikan tagihan listrik warga Amerika tidak meningkat. Trump menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh “menanggung biaya” konsumsi listrik dari pusat data raksasa teknologi.
Melihat situasi tersebut, jelas bahwa Microsoft kini berada di bawah tekanan besar dari publik dan pemerintah. Janji-janji baru terkait perlindungan konsumen, kepedulian lingkungan, serta penciptaan lapangan kerja menjadi upaya perusahaan untuk memperbaiki citra dan meredam penolakan masyarakat. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah komitmen tersebut benar-benar akan diwujudkan di lapangan.
Ke depan, publik akan menunggu bukti nyata dari janji Microsoft. Di tengah pesatnya perkembangan AI yang membutuhkan daya komputasi dan energi sangat besar, keseimbangan antara inovasi teknologi dan kepentingan masyarakat menjadi tantangan utama. Apakah Microsoft mampu menjadi “tetangga yang baik” seperti yang mereka janjikan, waktu yang akan menjawab.
