Gegara AI, Banyak Pekerjaan Mulai Hilang Tapi Skill Ini Dicari
- Rita Puspita Sari
- •
- 18 jam yang lalu
Ilustrasi Artificial Intelligence
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) generatif kini mulai memberikan dampak nyata terhadap pasar tenaga kerja global. Kehadiran teknologi seperti ChatGPT tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja modern.
Hal tersebut terungkap dalam penelitian terbaru dari Harvard Business School berjudul “Displacement or Complementarity? The Labor Market Impact of Generative AI”. Penelitian ini dilakukan oleh Profesor Suraj Srinivasan bersama Wilbur Xinyuan Chen dari Hong Kong University of Science and Technology dan Saleh Zakerinia dari Ohio State University.
Dalam riset tersebut, tim peneliti menganalisis data lowongan pekerjaan di Amerika Serikat sejak 2019 hingga Maret 2025. Penelitian mencakup hampir seluruh lowongan kerja yang tersedia di pasar tenaga kerja Amerika dengan mengategorikan lebih dari 19.000 tugas pekerjaan dari lebih 900 profesi berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan perubahan signifikan sejak peluncuran ChatGPT pada November 2022. Lowongan pekerjaan yang didominasi tugas terstruktur dan repetitif tercatat mengalami penurunan hingga 13 persen. Sebaliknya, permintaan terhadap pekerjaan yang membutuhkan kemampuan analitis, teknis, dan kreativitas justru meningkat sebesar 20 persen.
Penurunan paling besar terjadi di sektor keuangan dan teknologi. Banyak tugas administratif maupun pekerjaan rutin yang sebelumnya dikerjakan manusia kini mulai diotomatisasi menggunakan AI generatif. Namun, penelitian tersebut menegaskan bahwa AI tidak sepenuhnya menghilangkan pekerjaan manusia.
Sebaliknya, AI justru menciptakan peluang baru bagi profesi yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.
Kolaborasi Manusia dan AI Jadi Faktor Penting
Penelitian Harvard Business School menemukan bahwa profesi yang paling diuntungkan oleh AI adalah pekerjaan yang menggabungkan kemampuan otomatisasi dengan keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan.
Beberapa profesi yang dinilai memiliki potensi besar untuk diperkuat AI antara lain mikrobiolog, analis keuangan, hingga neuropsikolog klinis. Dalam sektor keuangan misalnya, AI kini digunakan untuk membantu menganalisis data pasar, memproses laporan, hingga memprediksi tren investasi.
Meski begitu, keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Faktor seperti intuisi, pemahaman konteks, hingga penilaian risiko masih sulit digantikan oleh mesin.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masa depan dunia kerja kemungkinan besar bukan persaingan antara manusia melawan AI, melainkan kolaborasi antara keduanya.
Di sisi lain, penelitian juga menemukan bahwa pekerjaan yang sangat rentan terhadap otomatisasi mengalami penyusutan kebutuhan keterampilan hingga 7 persen. Artinya, semakin banyak tugas rutin yang dapat dilakukan AI, semakin sedikit keterampilan kompleks yang dibutuhkan pada pekerjaan tersebut.
Sebaliknya, profesi yang dapat diperkuat AI justru memunculkan kebutuhan keterampilan baru yang sebelumnya belum terlalu diperhatikan perusahaan.
Skill Baru yang Kini Banyak Dicari Perusahaan
Perubahan tren kerja akibat AI membuat perusahaan mulai mencari kandidat dengan kemampuan yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Salah satu kemampuan yang kini semakin diminati adalah prompt writing atau kemampuan menyusun instruksi yang tepat untuk sistem AI.
Kemampuan ini penting karena kualitas hasil AI sangat bergantung pada instruksi yang diberikan pengguna. Semakin detail dan jelas perintah yang dibuat, semakin optimal hasil yang dihasilkan AI.
Selain itu, literasi AI juga menjadi keterampilan penting di berbagai industri. Karyawan tidak hanya dituntut memahami cara menggunakan AI, tetapi juga mengetahui batasan, risiko, dan potensi teknologi tersebut dalam pekerjaan sehari-hari.
Perusahaan juga mulai mencari pekerja yang mampu berkolaborasi dengan AI secara produktif. Artinya, pekerja harus mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.
Tak hanya itu, penguasaan aplikasi AI yang spesifik sesuai bidang industri juga semakin dibutuhkan. Di sektor desain misalnya, penggunaan AI untuk membuat ilustrasi atau video mulai menjadi nilai tambah. Sementara di bidang keuangan, kemampuan menggunakan AI untuk analisis data menjadi keterampilan yang semakin dicari.
Meski AI berkembang pesat, beberapa kemampuan manusia tetap dinilai sulit tergantikan. Salah satunya adalah kemampuan penilaian situasional atau kemampuan membaca konteks dan mengambil keputusan kompleks dalam situasi tertentu.
Kemampuan komunikasi interpersonal juga tetap menjadi keterampilan penting. Interaksi manusia, empati, kemampuan membangun hubungan, hingga kerja sama tim masih menjadi aspek yang belum mampu sepenuhnya direplikasi oleh teknologi AI.
Perusahaan Diminta Fokus pada Pelatihan Ulang
Menghadapi perubahan besar ini, Profesor Suraj Srinivasan menyarankan perusahaan untuk mulai berinvestasi pada program pelatihan ulang atau reskilling bagi para karyawan. Menurutnya, pekerja di posisi yang rentan tergantikan perlu dibekali keterampilan baru yang tidak mudah diotomatisasi, seperti komunikasi interpersonal, kreativitas, dan kemampuan pengambilan keputusan.
Selain itu, perusahaan juga perlu mendorong peningkatan kemampuan AI secara berkelanjutan bagi pekerja yang posisinya dapat diperkuat teknologi tersebut.
Srinivasan menilai perusahaan sebaiknya tidak memandang AI generatif hanya sebagai alat pemangkas biaya operasional. AI seharusnya dimanfaatkan sebagai teknologi untuk memperkuat kemampuan manusia dan meningkatkan produktivitas kerja secara keseluruhan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penelitian ini masih berfokus pada dampak jangka pendek di pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Dampak jangka panjang maupun pengaruhnya terhadap negara lain, termasuk Indonesia, masih perlu dikaji lebih lanjut.
Namun satu hal yang mulai terlihat jelas, perkembangan AI generatif telah mengubah arah kebutuhan tenaga kerja global. Di masa depan, pekerja yang mampu beradaptasi, menguasai teknologi AI, dan tetap memiliki kemampuan manusiawi akan menjadi yang paling dibutuhkan perusahaan.
