CEO Google Ungkap Masa Depan AI Agentic di I/O 2026
- Rita Puspita Sari
- •
- 23 jam yang lalu
Ilustrasi Google
CEO Google, Sundar Pichai, kembali menegaskan ambisi besar perusahaan dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dalam konferensi tahunan Google I/O 2026 yang digelar di California, Amerika Serikat, Pichai memaparkan visi masa depan AI “agentic”, sebuah era baru di mana AI tidak lagi sekadar menjadi alat pencari jawaban, melainkan mampu bertindak layaknya asisten digital otonom yang bekerja untuk pengguna.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam ajang teknologi terbesar Google tahun ini. Di hadapan ribuan pengembang, pelaku industri teknologi, hingga media internasional, Pichai menggambarkan bagaimana AI di masa depan akan memiliki kemampuan menjalankan tugas kompleks secara mandiri dengan campur tangan manusia yang sangat minim.
Konsep AI agentic sendiri merujuk pada sistem AI yang dapat berpikir, merencanakan, hingga mengeksekusi tindakan secara otomatis di berbagai aplikasi dan layanan digital. Berbeda dengan chatbot AI generasi awal yang hanya merespons pertanyaan pengguna, AI agentic dirancang untuk memahami konteks, mengambil keputusan, hingga menyelesaikan pekerjaan tertentu secara berkelanjutan.
Dalam sesi diskusi bersama Wakil Presiden Google, Liz Reid, dan Chief Technology Officer Google, Koray Kavukcuoglu, Pichai menyebut bahwa Google kini tengah membangun fondasi besar menuju transformasi agentic di seluruh ekosistem produknya.
“Dulu pengguna hanya mengetik pertanyaan dan mendapatkan informasi. Kini kita bergerak menuju era percakapan berkelanjutan dengan AI, hingga akhirnya AI mampu mengambil tindakan nyata untuk membantu kehidupan pengguna sehari-hari,” ujar Pichai.
Ia menjelaskan bahwa AI masa depan nantinya bisa membantu berbagai aktivitas tanpa harus diperintah satu per satu. Misalnya, AI dapat membantu merencanakan perjalanan, mengatur jadwal, membalas email, melakukan riset, hingga menjalankan tugas administratif secara otomatis.
Dalam konferensi tersebut, Google juga memperkenalkan sejumlah inovasi baru berbasis konsep AI agentic. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Gemini Spark, agen AI yang disebut mampu bekerja selama 24 jam penuh untuk membantu pengguna menyelesaikan berbagai tugas digital.
Selain itu, Google juga menghadirkan “information agents” untuk layanan Search yang memungkinkan mesin pencari bekerja lebih proaktif. Search tidak lagi hanya menampilkan daftar tautan seperti selama dua dekade terakhir, tetapi mulai berubah menjadi asisten percakapan yang dapat memantau informasi, melacak tugas, dan memberikan pembaruan otomatis kepada pengguna.
Google turut meningkatkan platform pengembangan AI bernama Antigravity untuk mendukung pengembangan agen AI yang lebih cerdas dan kompleks.
Dalam wawancara terpisah dengan The New York Times, Pichai menegaskan bahwa perkembangan AI agentic merupakan bagian dari perjalanan menuju Artificial General Intelligence (AGI), yaitu AI dengan kemampuan berpikir setara atau bahkan melampaui manusia.
“Ada kemajuan yang tidak bisa dihindari menuju AGI,” kata Pichai.
“Saya sangat yakin teknologi ini sedang mengalami perkembangan fundamental menuju AGI.”
Meski belum bisa memastikan kapan AGI benar-benar tercapai, Pichai menilai percepatan teknologi AI dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa era tersebut semakin dekat.
Perkembangan AI agentic diperkirakan juga akan mendorong kebutuhan infrastruktur digital dalam skala besar. Teknologi ini membutuhkan kemampuan komputasi tinggi, pemrosesan token dalam jumlah besar, serta dukungan pusat data atau data center yang jauh lebih masif dibanding generasi AI sebelumnya.
Hal ini membuat perusahaan teknologi global berlomba-lomba membangun infrastruktur AI, mulai dari pusat data, chip AI, hingga sistem cloud yang lebih kuat. Google sendiri menjadi salah satu pemain utama dalam perlombaan tersebut melalui layanan Google Cloud dan pengembangan chip AI internal mereka.
Bagi pengguna, perkembangan AI agentic diyakini akan membawa perubahan besar dalam cara manusia menggunakan teknologi. Jika sebelumnya internet hanya berfungsi sebagai sumber informasi, kini AI mulai berkembang menjadi alat yang dapat langsung menyelesaikan masalah pengguna.
Pichai mencontohkan bagaimana evolusi teknologi telah berubah drastis selama beberapa dekade terakhir. Sebelum hadirnya Google Search, masyarakat mengandalkan ensiklopedia dan perpustakaan untuk mencari informasi. Kini, AI diproyeksikan menjadi evolusi berikutnya, di mana pengguna tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga solusi secara langsung.
Namun, ambisi besar Google ini hadir di tengah persaingan yang semakin sengit dalam industri AI global. Saat ini Google harus bersaing ketat dengan OpenAI, Anthropic, serta sejumlah perusahaan AI asal China yang agresif mengembangkan teknologi agen AI dan sistem pemrograman otomatis.
Pichai bahkan mengakui bahwa Google masih tertinggal dalam beberapa sektor tertentu, khususnya dalam pengembangan AI coding agentic yang mampu mengikuti instruksi kompleks dan menjalankan tugas jangka panjang.
“Dalam hal agentic coding, penggunaan alat, serta tugas jangka panjang, saya rasa kami memang masih sedikit tertinggal saat ini,” ungkapnya.
Meski demikian, ia optimistis Google memiliki keunggulan besar karena didukung ekosistem layanan yang sangat luas, mulai dari Search, Android, Chrome, YouTube, hingga Google Cloud. Menurutnya, kombinasi platform tersebut membuat Google berada di posisi strategis untuk membawa AI ke miliaran pengguna di seluruh dunia.
“Kami adalah satu-satunya perusahaan besar yang benar-benar berada di garis depan teknologi ini,” kata Pichai.
Di sisi lain, perkembangan AI yang sangat cepat juga memunculkan kekhawatiran di masyarakat. Banyak pihak mulai cemas terhadap dampak AI terhadap lapangan pekerjaan, privasi, hingga perubahan sosial yang terjadi begitu cepat.
Pichai mengakui kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar. Menurutnya, AI adalah salah satu teknologi paling besar dan mendalam yang pernah dikembangkan manusia.
“Orang-orang memang merasa cemas terhadap masa depan yang dibawa teknologi ini, dan itu sangat wajar,” ujarnya.
Meski begitu, ia percaya AI pada akhirnya akan membawa manfaat besar bagi kehidupan manusia. Pichai membandingkan dampak AI dengan kemunculan spreadsheet dan smartphone yang dulu juga sempat menimbulkan kekhawatiran, namun akhirnya justru meningkatkan produktivitas manusia.
Ia menilai AI dapat membantu manusia bekerja lebih efisien, mengurangi pekerjaan berulang, hingga memberikan lebih banyak waktu luang.
“Orang-orang akan menjadi lebih produktif dan memiliki lebih banyak waktu untuk hal lain dalam hidup mereka,” kata Pichai.
Perkembangan AI agentic yang dipamerkan Google di I/O 2026 menunjukkan bahwa persaingan industri AI kini telah memasuki fase baru. AI tidak lagi hanya menjadi alat bantu digital, tetapi mulai berevolusi menjadi agen virtual yang mampu bekerja, berpikir, dan mengambil tindakan secara mandiri.
Jika visi Google tersebut benar-benar terwujud, masa depan interaksi manusia dengan teknologi kemungkinan akan berubah secara drastis dalam beberapa tahun mendatang.
